Pesta Santo Lukas, 18 Oktober 2012


2Tim 4: 10-17  +  Mzm 145 +  Luk 10: 1-9

 

 

 

Lectio:

 

Ketika itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.

 

 

Meditatio:

 

Lukas, berasal dari Antiokhia dan berprofesi sebagai seorang dokter. Ia menjadi seorang murid dari para rasul dan kemudian mengikuti Paulus hingga kemartirannya. Sebagai seorang selibater, Lukas telah melayani Tuhan secara terus-menerus, ia wafat di usia 84 tahun, di Thebes, ibukota Boeotia.

Diperkirakan Lukas adalah salah seorang dari tujuhpuluh murid yang diutus  Yesus pergi berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya, sebagaimana diceritakan Injil hari ini. Suatu tugas perutusan yang amat sulit, karena bagaikan anak domba yang diutus ke tengah-tengah serigala, lagipula  tidak boleh membawa pundi-pundi, bekal atau kasut, dan tidak perlu memberi salam selama dalam perjalanan, sebaliknya setiap kali masuk rumah hendaknya menyampaikan salam damai sejahtera, menikmati  makanan dan minuman yang dihidangkan, tidak mudah berpindah-pindah rumah, menyembuhkan orang-orang sakit dan katakanlah: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.

Dalam karya pewartaannya, Lukas adalah salah seorang yang setia mendampingi Paulus, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama.  Dan dari pengalaman hidupnya yang dibimbing oleh Roh Kudus sendiri, dia sempat menuliskan Injil dan Kisah Para Rasul, dan pada akhirnya memperoleh mahkota kemartiran. Merayakan pesta santo Lukas berarti mempertajam keberanian kita untuk mewartakan sabda dan kehendak Allah, sebagaimana diteladankan Lukas.

Ada dua hal yang kiranya perlu dicatat dalam merayakan pesta santo Lukas, penulis Injil ini yakni berkenaan dengan tugas perutusan kita. Pertama, kita bangga bahwa kita mampu menyadari peranan Roh Kudus dalam diri kita; kita merasakan sungguh pendampingan Kristus dalam setiap karya pelayanan. Kiranya kebanggaan jiwa itu semakin meneguhkan dan menjadi bekal bagi kita, bila dalam pelayanan sehari-hari, kita harus berada di tengah-tengah serigala. Kita memang diutus bagaikan anak domba yang diutus ke tengah-tengah serigala, dan bukannya seperti serigala ke tengah-tengah kawanan domba. Betapa berat dan sulitnya. Mungkin saja sudah banyak serigala itu, yang menjadi katolik, tetapi auman yang menggetarkan, sorotan mata yang tajam dan goyangan ekor, tetap akan terlihat dan bahkan harus kita rasakan.

Namun kiranya tidak ada yang mustahil bagi Allah dan bagi kita, mereka semua akan menjadi orang-orang yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Sebaliknya, kita tetap diminta untuk terus maju dalam tugas perutusan, yang telah kita terima. Hendaknya kita tidak mencari tugas, yang mudah dan tidak merepotkan; tugas, yang mudah dan memberi kenyamanan, tidak bedanya kita secara sengaja mengubah misi, yang diberikan sang Empunya kehidupan ini, bukannya mengutus anak domba yang diutus ke tengah-tengah serigala, malahan sebaliknya serigala ke tengah-tengah kawanan domba. Ini adalah tugas perutusan yang membinasakan. Bukankah serigala tidak mengalami kesulitan sedikitpun, bila diutus ke tengah-tengah kawanan anak domba?

Kedua, penyataan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat haruslah selalu kita kumandangkan dalam karya pelayanan kita. Bersyukurlah kita mempunyai pelbagai anugerah dan kharisma. Berbanggalah kita, yang dengan rela membagikannya kepada orang, karena memang kita telah menerimanya dengan cuma-cuma (Mat 10: 8). Kiranya kita tidak sekedar melayani dan melayani, bahkan berhenti pada tahap karitatif, melainkan pewartaan sabda kehendakNya tetap kita utamakan dalam karya pelayanan itu, sehingga saudara-saudari kita yang menikmati pelayanan kasih semakin berani merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa apa pun. Kehadiran Tuhan Yesus dalam peristiwa yang tidak kita inginkan, seperti tidak mencuci tangan sebelum makan, sebagaimana kita renungkan kemarin, siap mereka terima dan mereka alami. Karya perutusan Allah, bukanlah karya karitatif, melainkan karya yang 'mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya', sehingga pada akhirnya setiap orang semakin siap sedia menerima kehadiranNya yang kedua, yang membawa mahkota keselamatan.

 

 

Oratio:

 

Yesus, Engkau mengutus kami juga untuk mewartakan kabar sukacita. Terima kasih Yesus, atas kepercayaan yang Engkau berikan kepada kami. Tambahkanlah iman kepercayaan kami, agar kami semakin berani mewartakan sabdaMu, sehingga kami semakin hari semakin siap berkarya di manapun dan kapan pun, sebagaimana anak domba yang pergi ke tengah-tengah serigala. 

Santo Lukas, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening