Rabu Biasa XXX, 31 Oktober 2012


Ef 6: 1-9  +  Mzm 145  +  Luk 13: 22-30





Lectio:

Suatu hari Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. 

Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir."




Meditatio:

'Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?'.

Itulah pertanyaan salah seorang yang mengikuti Yesus. Kemungkinan besar pertanyaan itu juga ada dalam hati mereka yang mengikuti Yesus, hanya saja mereka berdiam diri, tak mau mempersoalkannya. Ada banyakkah orang-orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri dalam kemuliaanNya?  Apakah bukan hanya Yohanes dan Yakobus yang duduk di sebelah kanan dan kiriMu, yang memang secara khusus mereka berdua pernah menyempatkan diri untuk memintanya? (Mrk 10: 37). 

'Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat', tegas Yesus. Dari jawabanNya ini, sepertinya tidak semua atau tidak banyak orang hendak menikmati keselamatan yang diberikan Yesus. Keselamatan memang adalah pemberian secara cuma-cuma, dan diberikan kepada seluruh umat manusia,  tetapi tetap menuntut kesiapsiagaan setiap orang untuk setia menikmatinya, sebagaimana kita renungkan kemarin, bahwasanya Kerajaan Allah, yang memang tidak lain dan tidak bukan,  realitas keselamatan itu sendiri, tumbuh dan berkembang dalam perjalanan hidup setiap orang. Dia tidak jatuh seperti buah durian.

Kesiapsiagaan inilah yang dimaksudkan dengan masuk melalui pintu yang sesak, karena memang orang harus berani berjuang dan berjuang, dan disertai dengan kesabaran dan kesetiaan. Tidak cukup segala kebaikan, yang sudah kita lakukan itu, kita perhitungkan sebagai perjuangan  untuk masuk pintu yang sempit, apalagi bila semuanya itu dilakukan sebagai rutinitas belaka. 'Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami'. Kita tidak bisa membela diri seperti ini, karena memang kelayakan kita di hadapanNya, hanya Dialah yang menentukan, dan bukannya kita; apalagi memaksakan diri di hadapanNya. 'Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!'. Sungguh tidak mengenakkan memang, bila penyataan itu dikenakan juga kepada kita. Adalah lebih baik dan bermanfaat, bila kita berusaha dan berusaha, dan percaya sungguh akan segala kebaikan Tuhan. Aku percaya kepadaMu ya Tuhan, Engkau maha baik dan penuh kasih; dan aku hanya melakukan segala yang menjadi kehendakMu. Inilah iman, harap dan cinta kasih.

Ketidakberdayaan dan kelemahan kita tidaklah menjadi perhitungan Tuhan yang Mahakasih. Dia hanya melihat segala tobat kita, yang memang mendekatkan diri kepadaNya. Itulah yang dirasakan sungguh oleh santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus. Dia sadar bahwa tidak ada kelebihan dan  keunggulan hidup yang patut dibanggakan dari dirinya. Aku hanya ingin mempersembahkan cintaku kepadaNya. Sebab panggilan hidupku adalah cinta. Dan sungguh sikap Teresia inilah yang dibenarkan oleh Allah (Luk 18: 14), sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan. Untuk itulah Yesus tadi menambahkan: 'sesungguhnya orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir'. Ketulusan hati dalam berkarya, terlebih dalam melayani sesama, menjadi standar bagi seseorang dalam mengabdikan diri kepada Tuhan. Paulus dalam bacaan pertama menuliskan: lakukanlah segala sesuatu 'dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah'.




Oratio:

Tuhan Yesus, bantulah kami dengan Roh KudusMu, agar kami setia masuk pintu yang sempit dalam mengejar keselamatan, agar kami tidak mudah putus asa dalam menghadapi segala persoalan hidup yang sulit dan tidak sesuai dengan keinginan diri kami. Semoga dalam pelayanan hidup keseharian, kami mampu menampakkan kehadiranMu yang menyelamatkan.




Contemplatio:

'Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu'.












Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening