Rabu dalam Pekan Biasa XXVI, 3 Oktober 2012


Ayb 9: 1-16  +  Mzm 88  +  Luk 9: 57-62




Lectio:

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."  Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." 

Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana."

Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."



Meditatio:

'Ikutlah Aku!'.

Kata-kata inilah yang pernah disampaikan Yesus kepada Matius, yang duduk di gardu cukai, dan dia pun langsung mengikutiNya. Hari ini dipanggil, hari ini Matius langsung mengikutiNya. Namun tidaklah demikian yang terjadi pada diri seseorang yang dipanggilNya hari dalam Injil pada hari ini. 'Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku', sahut orang itu kepada Yesus. Suatu alasan yang wajar dan manusiawi. Jawab Yesus seketika itu juga: 'biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana'. Kehendak Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah itu lebih baik dan lebih penting daripada menguburkan orang mati. Suatu pemahaman yang memang sulit kita mengerti. 

Gereja pun sampai sekarang ini berprinsip seperti ini dalam menghadapi peristiwa kematian warganya. Sakramen perminyakan orang sakit lebih penting daripada upacara penguburan jenazah. Mungkin ini peristiwa yang berbeda dan bertolak belakang, tetapi ini kesan umat yang terjadi selama ini. 

Apa yang kita sebut sebagai prinsip Gereja memang tidak benar begitu. Gereja tidak mempunyai sikap seperti itu. Tidak dapat disangkal, memang Gereja begitu menegaskan penting seseorang yang tak berdaya, yakni mereka yang sakit memperoleh sakramen perminyakan, sakramen yang memberi pengharapan dan sukacita bagi mereka yang sakit. Dengan menerima sakramen orang sakit, seseorang mendapatkan kekuatan dan penghiburan, keringanan dan kesembuhan dari sakitnya; dengan sakramen perminyakan seseorang dikuatkan dalam memanggul salib kehidupan yang berat ini; dan dalam sakramen orang sakit seseorang beroleh pengampunan dosa dan janji keselamatan abadi. Gereja mengajak keluarga untuk menyiapkan anggotanya menerima bekal keselamatan itu bagi orang yang sakit. Sekaligus adalah kewajiban para gembalaNya untuk mendampingi keluarga dalam menghadapi peristiwa duka yang menimpa setiap orang. Kiranya kesesuaian waktu antara imam dan umatnya dalam pendampingan duka perlu mendapatkan perhatian bersama, dan kiranya keselamatan sesama kita hendaknya menjadi perhatian utama kita dibanding segala-galanya.

Kembali pada panggilanNya, Yesus meminta agar kita tidak menunda-nunda waktu untuk mengikutiNya. Dia memanggil hanya demi keselamatan kita, dan bukannya hendak mendapatkan banyak pengikut, dan bukan pula demi kemuliaanNya. Maka ketika seorang lain lagi berkata: 'aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku', Yesus segera menjawab: 'setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah'. Hari ini dipanggil, hari ini juga kita harus bangkit berdiri dan mengaminiNya.

Apakah ada kebenaran dalam diri kita manusia, sehingga untuk memperhatikan kepentingan keluarga atau komunitas pun tidak ada kesempatan? Sungguh tak berdayakah kita ini di hadapanNya? Kiranya iman Ayub menjadi pembelajaran bagi kita bersama. Katanya: 'sungguh, aku tahu, adakah manusia benar di hadapan Allah?  Jikalau kita ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali kita tidak dapat membantah-Nya.  Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat? Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasihan kepada yang mendakwa aku', sebagaimana kita kutip dalam bacaan pertama hari ini. 

Kalau Yesus tidak mencari kemuliaan diri dengan memanggil kita umatNya, sekarang Dia juga mengingatkan kita bahwa keselamatanlah hendaknya menjadi intensi utama dalam mengikuti Dia. 'Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya'. PernyataanNya ini sungguh-sungguh menekankan akan maksud panggilanNya. Bukannya kita tidak boleh meminta aneka kebutuhan diri, tidak dilarang, tetapi hendaknya tidak menjadi perhatian utama. Sebab 'barangsiapa berani mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu' (Mat 6: 33).




Oratio:

Yesus Kristus, Engkau meminta kami agar tidak setengah hati dalam mengikutiMu, kami juga Engkau minta untuk tidak menunda-bunda waktu dalam melaksanakan kehendakMu. Bantulah kami dengan Roh KudusMu, ya Yesus, agar kami dengan cekatan menjawabi kehendakMu dalam diri kami, dan menjadikannya yang pertama dan utama dalam hidup kami.

Kuasailah kami ya Yesus dengan Roh KudusMu. Amin.




Contemplatio:

'Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah'.











Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening