Selasa Biasa XXVIII, 16 Oktober 2012


Gal 4:31 – 5:6  +  Mzm 119 +  Luk 11: 37-41

 

 

 

Lectio:

 

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.

 

 

Meditatio:

 

Kopros (Jw: jorok) juga Yesus ini. Karena Dia tidak mencuci tangan sebelum makan. Apakah Yesus tidak pernah mendapatkan pelajaran tentang kesehatan?

Yesus diundang seorang Farisi untuk datang makan bersama. Mengapa mereka mengundang Yesus; Seorang yang memang selalu bersikap dan bertindak berlawanan dengan mereka. Mungkin sebagian dari orang-orang Farisi adalah kaum demokrat. Sebab memang berlawanan memang tidak selalu diartikan bermusuhan. Ada lawan tanding, ada lawan bicara, dan ada banyak lawan-lawan lainnya. Keberanian menerima lawan tak jarang malahan memperkaya diri untuk semakin mengenal siapakah diri kita ini. Sebab para lawan seringkali menjadi cermin hidup untuk semakin mengenal diri, entah kelebihan atau kekurangan kita.

Yesus sepertinya sengaja untuk tidak mencuci tangannya terlebih dahulu, sebelum mereka makan bersama, karena memang Dia hendak memberi pembelajaran kepada para muridNya, kepada kita semua. Yesus tidak mencuci tanganNya adalah peristiwa yang tidak kita inginkan. Ada banyak peristiwa seperti itu, dan kita harus siap menerimanya, sebab tak jarang peristiwa itu membawa pesan bagi kita. Allah secara sengaja menggunakan peristiwa yang tidak mengenakkan itu untuk berbicara kepada kita. Keberanian kita untuk mengalami dan menerima pengalaman, yang pahit dan tidak mengenakkan, seringkali memberi bekal kepada kita untuk semakin mengenal kehidupan ini.

Yesus sengaja untuk tidak mencuci tangannya terlebih dahulu, sebelum mereka makan bersama; malahan secara tegas Dia balik menegur orang-orang yang ada di sekitarNya, kataNya: 'hei kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan'. Janganlah kita terlalu menekankan kegiatan lahiriah atau ritual. Semua yang dilakukan itu baik adanya. Kiranya, yang lebih dalam lagi pesannya, adalah agar kita tidak hanya memperbaiki tindakan-tindakan luar yang mudah dilihat orang, melainkan juga tindakan-tindakan tersembunyi yang menguduskan jiwa. Kesucian hati dan jiwa hendaknya juga menjadi perhatian kita bersama. 'Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya' (Mat 5: 28). Kejahatan dan dosa sudah terjadi dalam diri seseorang, sebelum semuanya itu ditampakkan ke luar. Membersihkan cawan memang tak ada relasinya dengan kejahatan dan kesucian hati seseorang.

'Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu', tegas Yesus. Penegasan Yesus ini mengukuhkan kita, agar kita berani memperbaiki dan merehab hidup ini, bukan saja yang tampak dan mudah dilihat orang, agar mendapatkan pujian banyak orang, melainkan memperbaiki kedalaman hidup kita, yang tidak kasad mata tetapi malahan menentukan keluhuran hidup.

Ada baiknya kita tidak mudah memberi cap kepada seseorang. Pribadi itu utuh dan unik. Si Polan itu baik. Sejauhmana kebaikan dia? Kapan dan di mana dia berbuat baik? Kepada siapa dia berbuat baik? Kebaikan dia itu, sungguh-sungguh keluar dari dalam kedalaman hatinya atau sekedar spontan mengikuti tuntutan sosial? Bagaimana dengan sebutan lain bahwa si Polan itu jahat? Pertanyaan-pertanyaan ini bukannya hendak meragukan sesama kita, malahan sebaliknya, kita kembalikan semua itu pada diri kita: sejauhmana kita menyatakan kedalaman hidup kita, yang memang pada dasarnya diciptakan Tuhan sesuai dengan citraNya. Kita pandang si Polah, bukan karena dia baik atau jahat, tetapi kita pandang dia apa adanya, kita pandang dia dalam kasih. Hanya keindahan hidup yang harus kita nyatakan, karena memang itulah fitrah hidup kita.

Yesus sengaja untuk tidak mencuci tangannya terlebih dahulu, sebelum mereka makan bersama; bukannya untuk melawan tradisi yang ada, melainkan hendak menyatakan: aneka tanda lahiriah memang amat diperlukan dalam hidup bersama, tetapi dalam mengejar keselamatan ilahi, hendaknya semua itu tidak menjadi acuan, seolah-olah aneka tanda itu yang menentukan keselamatan. Paulus dalam suratnya pada bacaan pertama menegaskan: sunat dalam tradisi Perjanjian Lama adalah tanda lahiriah anak-anak keturunan Abraham, tetapi di hadapan Dia sang Empunya kehidupan, semua orang adalah satu dan sama, milik kepunyaanNya. 'Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih'. Saudara dan saudariKu adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa di surga. Kepemilikan itu semakin kita rasakan, bila kita percaya kepadaNya dan melakukan kehendakNya. Itulah kasih.

 

 

 

Oratio:

 

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami selalu mengutamakan keinginan rohani dalam hidup sehari-hari.  Semoga kami tidak hanya menekankan hal-hal inderawi dan lahirah, yang memang hanya sekedar tanda, melainkan keluhuran jiwa, yang harus kami persembahakan kepada Tuhan dan sesama. Berat  ya Yesus, bantulah kami ini. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan'.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening