Selasa Biasa XXX, 30 Oktober 2012


Ef 5: 21-33  +  Mzm 128  +  Luk 13: 18-21



Lectio:

Suatu hari bersabdalah Yesus: "Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."

Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." 



Meditatio:

'Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?'.

Itulah perumpamaan yang disampaikan Yesus kepada para  muridNya, kepada kita semua, tentang Kerajaan Allah.Ia seumpama biji sesawi, bila tumbuh dan berkembang, dari biji yang kecil itu, menjadi pohon besar dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya. Kecil tetapi dapat dinikmati oleh ciptaan lainnya. Demikian juga tidak ubahnya dengan sepotong kecil ragi yang diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat dan mampu mengkhamirkan seluruhnya. Kita dapat membandingkan kapasitas ragi dan tepung yang dikhamirkannya.

Kerajaan Allah tidaklah jatuh dari atas secara tiba-tiba. Dia tumbuh dan berkembang dalam proses kehidupan. Dia kecil dan sederhana, amat remeh dan sepertinya tidak menjadi perhatian utama, walau sebetulnya amat menentukan. Seseorang harus pandai-pandai mencari dan menemukan benih sesawi ataupun ragi yang berkualitas. Dari yang kecil dan sederhana itu, ragi mampu mengkhamirkan tepung dan biji sesawi itu akan mampu menampung puluhan burung-burung yang bersarang.

Ada banyak hal kecil dan sederhana yang harus dinikmati dalam anggota keluarga guna menjadikan keluarga yang damai dan sejahtera. Relasi suami istri, demikian juga orangtua dan anak, sungguh-sungguh harus ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga tidak perlu menampilkan aneka kegiatan yang menggemparkan, yang mengundang perhatian tetangga kanan kiri; sebaliknya kesatuan hati dan budi, hendaknya ditampakkan dalam perilaku sehari-hari. Relasi cinta kasih sebagaimana dinyatakan dalam bacaan pertama, yakni dari surat Paulus kepada umat di Efesus, harus dimulai dari perhatian dan pelayanan yang amat sederhana di tengah-tengah keluarga. Ketidakberanian keluarga menghadapi aneka peristiwa kecil dan remeh akan membuat keluarga rapuh dan mudah retak; kesetiaan keluarga menghadapi aneka kehidupan konkrit membuat situasi semakin indah dan membahagiakan. Kerajaan Allah itu tumbuh dan berkembang dalam proses kehidupan, demikian pula cinta kasih di antara kita.

Coba mari kira lihat secara detil peristiwa kecil dan sederhana yang harus menjadi perhatian keluarga dan komunitas?



Oratio:

Ya Tuhan Yesus, Engkau pernah tumbuh dan berkembang dalam keluarga. Engkau pasti tahu realitas keluarga Yusuf dan Maria dalam keseharian mereka. Pasti ada gelombang dan riak-riak kehidupan. Ajarilah kami, ya Yesus, menjadi orang-orang yang setia dalam menghadapi aneka persoalan hidup, karena memang tak jarang Engkau malahan menampakkan kehadiranMu pada saat itu.



Contemplatio:

Kerajaan Allah itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.











Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening