Senin Biasa XXX, 29 September 2012


Ef 4:32 - 5:8  +  Mzm 1 +  Luk 13: 10-17




Lectio:

Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. 

Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" 

Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.



Meditatio:

'Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat'.

Inilah teguran kepala rumah ibadat kepada orang-orang yang hadir dalam peribadatan hari Sabat. Dia salah sasaran menegur orang-orang yang ada di situ. Salah alamat, karena memang seharusnya dia menegur Yesus, dan bukannya orang-orang yang ada di situ. Sebab memang dia sendiri tahu apa yang telah dilakukan Yesus, dan bahkan dia menjadi gusar atas perbuatan Yesus yang menyembuhkan seorang pada jari Sabat.

Tidak disangkal memang,  pada waktu ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: 'hai ibu, penyakitmu telah sembuh'. Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. 

Orang ini tidak berani menegur Yesus, dan mengalihkan kemarahannya kepada orang lain. Dia marah hanya karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Menegur seseorang yang di bawah kuasa atau kedudukan kita memang seringkali begitu mudah terlontar, dan bahkan seenaknya saja kita melemparkannya, tetapi tidaklah begitu bila kita berhadapan dengan orang-orang yang berada di luar kuasa kita, atau bahkan mempunyai kedudukan yang berada di atas kita. Ketidakberanian kita menghadapi orang-orang semacam ini berarti kita memang kurang menghayati semangat nabi. Kita terlalu memandang muka.

'Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?', tegas Yesus. Yesus demikian memperlebar teguranNya, bukan hanya untuk sang kepala rumah ibadat, melainkan semua orang yang ada di situ, khususnya mereka kaum munafik. Mereka benar-benar orang munafik, karena memang mereka berjerihpayah dan  bekerja pada hari Sabat. Mereka tidak menghabiskan hari Sabat itu untuk tinggal di rumah ibadat, atau sebagai hari yang dipersembahkan kepada Tuhan. Mereka begitu mudah menegur orang lain, tetapi balok yang ada di pelupuk mata tidak dilihatnya (Mat 7: 3).

Lebih jahat lagi adalah mereka lebih menaruh belaskasihan terhadap hewan peliharaan daripada jiwa sesamanya. Hewan lebih penting daripada sesama manusia. Ada juga di sekitar kita ini orang-orang yang bersikap demikian sampai hari ini: perhatian lebih diletakkan pada hewan peliharaan daripada sesamanya. Keperluan keluarga, terhadap suami atau istri, atau terhadap orangtua dan anak-anak dinomorduakan, sedangkan hewan piaraan diutamakan. Aneka hewan dimanjakan secara berlebihan, dan bahkan mengeluarkan biaya yang begitu tinggi, tetapi tidaklah demikian diberlakukan kepada keluarga. Aneka hewan mendapatkan banyak perhatian, karena memang tak jarang mereka adalah tawanan kita, yang bertindak sekemauan emosi kita. Mereka adalah ciptaan yang bodoh, dan kita bertindak semena-mena terhadap mereka, sekedar untuk meluapkan kecenderungan diri yang bergejolak. Mereka bertindak salah.

Perhatian terhadap mereka yang lemah dan berkekurangan hendaknya lebih mendapatkan perhatian, tanpa mengenal batasan-batasan waktu. Kasih mengatasi hukum. Perhatian terhadap sesama kiranya hendaknya lebih diutamakan daripada terhadap binatang peliharaan. Bila kita bertindak demikian, mereka yang ada di sekitar kita akan mendapatkan peneguhan dan sukacita, karena memang kita menjadi saluran berkat bagi sesama. Pada waktu itu semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya. Itulah yang terjadi dalam peristiwa di hari Sabat pada saat itu. 

Keberanian kita berbagi kasih dengan sesama berarti kita melakukan kehendak Tuhan Yesus sendiri. Itulah yang ditegaskan Paulus dalami surat kepada umat di Efesus dalam bacaan pertama. Katanya: 'hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang'.



Oratio:

Ya Tuhan Yesus, seringkali kami bertindak salah sasaran dalam hidup ini. Kami salah alamat, karena memang semuanya kami ukur seturut standar kami, kami tidak berani melihat apa adanya. Kami mudah mengatakan merah dan merah, walau yang ada di depan kami berwarna hijau atau pun hitam. Kami hanya mengatakan merah, karena itu cara pandang kami.

Ya Yesus, jadikanlah kami orang-orang yang bijak dalam hidup ini, terlebih-lebih dalam pergaulan kami dengan sesama. Kuasailah kami dengan Roh kudusMu. Amin.



Contemplatio:

Bertindaklah bijak dalam hidup ini.
.












Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening