Hari Raya Semua Orang Kudus Karmel, 14 November 2012

Tit 3: 1-7  +  Mzm 23  +  Luk 17: 11-19

 

 

 

 

Lectio:

 

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.

Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

 

 

 

Meditatio:

 

'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'.

Itulah seru sepuluh orang kusta yang menemui Dia, ketika Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Sepertinya Yesus tidak menjawab persoalan dan keinginan mereka. 'Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam', sahut Yesus. Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan mereka, tetapi kesepuluh orang kusta itu percaya dan mentaatiNya. Namun lihatlah, 'sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir'. Hanya karena iman semuanya itu dapat terjadi. Kesepuluh orang itu tidaklah protes terhadap jawaban Yesus dalam menanggapi persoalan mereka. Mereka percaya dan mentaatiNya. Sebaliknya, kita sering kali memaksakan jawaban Yesus seperti keinginan kita. Kita kurang berserah terhadap kehendak dan kemauanNya. Padahalnya ada banyak cara yang ditempuh Tuhan Yesus dan memenuhi keinginan kita. Yesus lebih pandai dan bijak, lebih tahu bagaimana memenuhi kebutuhan umatNya. Bagi kita, ada banyak jalan dari kota Malang menuju kota Surabaya, apalagi tentunya bagi Dia sang Penguasa hidup yang tidak terikat ruang dan waktu ini.

Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Hanya satu orang yang kembali; dan lagi  orang itu adalah seorang Samaria. Saya sudah mengikuti perintahNya, dan kalau sekarang saya mendapatkan kasih dan anugerahNya, bukankah itu hal yang wajar? Bukankah Dia Allah yang baik, dan wajib memperhatikan umatNya? Layaklah memang kalau saya harus menerimanya. Itulah memang yang sering terjadi di antara kita. Orang Samaria itu kembali kepada Yesus, karena Dia tahu siapakah yang telah memberikan kesembuhan kepada mereka. Kembali kepada Allah kiranya lebih penting daripada melaporkan diri kepada para imam bahwa mereka telah sembuh, karena memang Dia yang memberi kehidupan dan kesembuhan.

'Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?', tegas Yesus. Bukannya Dia meminta dihormati oleh kesepuluh orang kusta tadi atau meminta mereka semua  mengajukan diri menjadi murid-muridNya. Yesus mengajak semua orang yang telah banyak mendapat anugerah untuk berani bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan Allah. Keberanian kita untuk beryukur kepadaNya menandakan hidup kita sungguh-sungguh digerakkan dan disemangati oleh iman. Tak dapat disangkal, penghayatan iman akan kasihNya mendatangkan tambahan berkat yang lebih indah. 'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau'.  Orang Samaria itu bukan saja mendapatkan kesembuhan, melainkan juga keselamatan. Ingat juga akan saudara kita Bartimeus dan Zakheus.

Keselamatan adalah realitas hidup yang menyatukan semua orang, dan itulah yang kiranya menjadi kerinduan setiap orang. Kerinduan akan keselamatan memungkinkan setiap orang untuk bersatu dan berjuang, dan menjadikan kehendak Tuhan sebagai sebagai arahan hidup. Kenangan kita akan keberadaan para kudus, yang telah berhasil menikmati hidup abadi dalam hantaran spiritualitas Karmel, kiranya memacu kita untuk setia pada cita-cita dan kerinduan hidup. Seperti yang kita renungkan kemarin: aku hanyalah hamba yang tak berguna, aku hanya melakukan segala tugas yang menjadi kewajibanku, kiranya menyadarkan kita, dan inilah yang ditegaskan juga dalam spiritualitas Karmel. Aku bekerja segiat-giatnya demi Tuhan Allah semesta alam (1Raj 19: 10), karena memang kita dipanggil untuk mengikutiNya.

Ucapan terima kasih kita hunjukkan kepada Tuhan cukuplah sebesar kasih karunia yang kita terima daripadaNya, tegas santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus, sebagai salah seorang yang begitu aktif menghayati spiritualitas Karmel. Bila hanya makanan dan minuman di siang hari yang benar-benar anugerah dari Tuhan, maka layaklah di waktu makan siang itu kita bersyukur dan bersyukur kepadaNya, tidak perlu saat yang lain. Demikian juga seandainya kita berkata bahwa seluruh hidup kita ini adalah anugerah Tuhan, maka tentunya seluruh hidup ini menjadi pujian kepadaNya; terlebih bila kita ingat sungguh bahwa 'Allah telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,  yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita'.

 

 

Oratio:

 

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami selalu menjadi orang-orang yang tahu berterima kasih dan bersyukur kepadaMu, juga terhadap sesama kami, karena memang tak jarang Engkau hadir dalam diri sesama kami.

Ya Yesus terima kasih atas segala kasih karuniaMu kepada kami.

Para kudus Karmel, doakanlah kami selalu. Amin.

 

 

 

Contemplatio:

 

'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening