Jumat Biasa XXXII, 16 November 2012

2Yoh 4-9  +  Mzm 119  +  Luk 17: 26-37

 

 

 

 

Lectio:

 

Suatu hari berkatalah Yesus: 'sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.

Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.

Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan'. Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."

 

 

 

Meditatio:

 

Pada zaman Nuh atau pun jaman Lot, banyak orang bertindak dan bekerja seperti biasanya. Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Pada akhirnya mereka semua binasa. Mereka binasa, karena memang mereka tidak mengadakan pertobatan sedikit pun. 'Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya', tegas Yesus. Malahan Yesus dengan keras mengingatkan, agar setiap orang tidak sibuk dengan dirinya sendiri, kehadiran sang Mesiaslah yang seharusnya menjadi perhatian. 'Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya'. Menyelamatkan nyawa berarti mencari kemapanan dan kemanan diri, dia mengabaikan dan meniadakan yang lain; yang penting diriku selamat, mereka yang lain di luar urusanku.

Pemisahan yang satu dengan lainnya sepertinya akan terjadi. 'Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan'. Semuanya akan terjadi di akhir jaman, bukan karena kehendak Tuhan Allah sendiri, melainkan kemauan banyak orang yang memang tidak mau mendengarkan sabda dan kehendak Dia yang menyelamatkan. 'Semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya' (Mat 25: 32-33). Mereka haru mengalami pemisahan karena  mereka 'lebih menyukai kegelapan dari pada terang' (Yoh 3: 9).

Kita bukanlah orang di zaman Nuh atau pun Lot. Kita adalah orang-orang yang hidup dalam iman dan kasih kepadaNya, sebagaimana dikatakan dalam surat kedua Yohanes dalam bacaan pertama. Kristus telah memberi jaminan: bila kita hidup dalam kasihNya, maka baiklah kita nikmati semuanya itu. Kasihilah Tuhan Allah dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu; dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. 'Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah', tegas santo Yohanes tadi. Dia tidak selamat, dan dia yang akan ditinggalkan; dialah yang akan termasuk kawanan kambing yang berada di sebelah kiri. 'Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak'; dengan demikian dia pasti siap sedia menyambut kedatangan Anak Manusia untuk kedua kalinya, karena memang semenjak awal Allah ada dalam dirinya.

Kita diundang masuk dalam pertobatan diri. bertobat berarti meninggalkan kebiasaan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Bertobat hanya untuk mendapatkan keselamatan.

 

 

 

 

Oratio:

 

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami agar kami dengan teguh dan setia melakukan pertobatan, walau itu mungkin dengan tindakan yang sederhana dan amat remeh, dan tidak banyak diperhitungkan orang. Sebab kami cenderung melakukan pekerjaan yang sensasional dan mengundang  perhatian banyak orang. Kami seringkali suka pamer dan pamrih. Amin.

 

 

 

Contemplatio:

 

'Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya'

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening