Jumat Biasa XXXIII, 23 November 2012

Why 10: 8-11  +  Mzm 119  +  Luk 19: 45-48

 

 

 

 

Lectio:

 

Suatu hari Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,  tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

 

 

Meditatio:

 

Kembali terjadi kebalikan tentang kehidupan. Bait Allah yang adalah tempat doa dijadikan tempat berjualan. 'Rumah-Ku adalah rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun'.  Sepertinya bukan saja bertujuan membantu orang-orang yang hendak mempersembahkan kurban, melainkan terbentuk suatu mafia kejahatan. Ada orang-orang yang mau mencari keuntungan diri, dan pasti ada yang tertindas dan teraniaya hidupnya. Itu terjadi di rumah doa, dan bukannya di dalam peperangan. Di dalam rumah doa ada kejahatan. Believe or not? Di tempat-tempat yang indah, seharusnya kita menemukan keindahan dan sukacita. Bagaimana di dalam rumah tangga kita? atau di dalam komunitas kita masing-masing? Rumah doa, keluarga dan komunitas adalah wadah-wadah luhur dan mulia, karena memang inilah sekolah-sekolah utama.

'Tiap-tiap hari Yesus mengajar di dalam Bait Allah'. Seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia. Karena memang Yesus mewartakan sabda Allah, kabar sukacita bagi orang-orang yang merindukan keselamatan. Berkat sabda Tuhan, hidup mereka semakin bernilai dan terasa lebih indah dan menyenangkan. Tidaklah demikian dengan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel yang malahan berusaha untuk membinasakan Dia. Semuanya terjadi sebagaimana kita renungkan kemarin: Allah yang hadir dalam mewartakan kabar sukacita dan kehidupan, malahan dimengerti salah oleh mereka orang-orang yang lebih menyukai kegelapan. Mereka bersikap dan bertindak seperti Adam dan Hawa, yang takut dan gelisah mendengarkan langkah Tuhan Allah di taman Eden.

Kita tentunya bukan orang-orang pimpinan bangsa Yahudi atau ahli-ahli Taurat yang hendak membinasakan Yesus, sebab kita tahu benar siapakah Yesus Kristus itu. Kita tahu benar, tetapi kita belum mau benar mengikuti Dia sang Empunya kehidupan itu.

Apa yang dapat kita lakukan? Mari kita berusaha menjadi pelaksana-pelaksana sabda, dan bukan hanya pendengar yang seringkali menipu diri. Janganlah kita merasa senang dan bergembira, bahkan bertepuk tangan penuh sorak-sorai, ketika sabda diperdengarkan, sebagaimana digambarkan dalam bacaan pertama, bahwasannya 'di dalam mulu ia terasa manis seperti madu';   hendaknya kita berani menjabarkannya dalam hidup sehari-hari, dan di sinilah beratnya, karena 'sesudah aku memakan kitab itu, perutku menjadi pahit rasanya'. Di sinilah saatnya kita membuktikan bahwa kita mengenal Kristus Tuhan, sabda dan kehendakNya haruslah menjadi bekal kehidupan kita. Maka bila Dia berkata kepada kita 'Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja',  kita pun berkata amin, amin. Kami datang hanya untuk melaksanakan kehendakMu.

 

 

Oratio:

 

Ya Tuhan Yesus, Engkau selalu mengajarkan hal yang baik dan benar. Banyak orang yang tertarik kepadaMu, karena pengajaranMu memberi damai dan sukacita. Bantulah kami dengan terang Roh KudusMu, agar kami pun juga merasakan arti kehadiranMu dalam hidup kami.

Yesuslah, renggutlah dengan kasihMu, orang-orang yang sampai hari ini masih melanglang buana, ke sana kemari, mencari kebenaran ilahi yang memberi sukacita sejati, sehingga mereka mampu menemukan Engkau, satu-satunya tujuan perjalanan hidup ini.  Amin.

 

 

 

Contemplatio:

 

'Rumah-Ku adalah rumah doa'.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening