Kamis Biasa XXXI, 8 November 2012

Fil 3: 3-8  +  Mzm 105  +  Luk 15: 1-10

 

 

 

 

Lectio:

 

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."

Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

"Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."

 

 

 

Meditatio:

 

'Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka'.

Itulah komentar orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat terhadap Yesus, yang menerima para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang untuk mendengarkan Dia. Mereka bersungut-sungutlah kepada Yesus, sang Guru. Mengapa mereka marah kepada Yesus, mengapa bukannya protes perlawanan itu ditujukan kepada orang-orang berdosa dan para pemungut bea, yang memang mereka anggap tidak layak mendengarkan sabda sang Guru? Kalau Yesus, yang menyuruh mereka itu datang, layaklah kemarahan ditujukan kepadaNya; sebaliknya kalau mereka sendiri yang berinisiatif datang dan mendengarkan Dia, mengapa bukan mereka yang mendapatkan teguran? Mungkin, malahan mereka para pendosa perlu dan layak mendengarkan sabda Tuhan, agar bertobat, tetapi sang Guru tidaklah pantas menerima mereka?

'Aku berkata kepadamu: akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan'.

Itulah pesan Yesus, setelah menegaskan keberanian seorang gembala, yang meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor dombanya di padang gurun dan pergi mencari yang sesat  sampai menemukannya; atau seorang perempuan yang menyalakan pelita, menyapu rumah, dan mencari dengan cermat satu dirhamnya yang hilang. Sungguh 'akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat'. Allah memang bagaikan seorang gembala yang mencari dan mencari dombanya yang tersesat. Kristus Tuhan itu bagaikan seorang perempuan yang dengan cermat dan teliti mencari dirhamnya yang hilang. 'Allah Bapa di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anakNya hilang' (Mat 18: 14). Kalau kita saja tidak mau kehilangan satu pun harta yang kita miliki, demikian tentunya Bapa di surga tidak akan mau kehilangan putera-puteri kesayanganNya (bdk Luk 11: 13).

Bersyukurlah kita selalu, bila ada orang-orang yang berani mentobatkan dirinya, karena ingin beroleh selamat. Mungkin kita tidak bersungut-sungut seperti orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, tetapi janganlah kita  mengucapkan kata-kata halus tapi duri, sehingga melemahkan mereka untuk terus berani datang. Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa adalah mereka, orang-orang yang tidak satu komunitas dengan kita. Tetapi tidak dapat disangkal, seringkali mereka membawa sukacita di surga, berkat pertobatannya; malahan sebaliknya kita harus menerima kenyataan yang ada, bila kita memang telah sengaja memasukan diri sebagai sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.

Apakah kita sampai sekarang ini merasa sebagai orang-orang Farisi atau ahli Taurat? Atau malahan kita merasa sebagai komunitas pemungut cukai dan orang-orang berdosa? Keselamatan itu terbuka bagi setiap orang. Keselamatan bukanlah kedudukan politik yang tidak boleh diemban oleh bekas koruptor, sebagaimana yang sedangkan ramai dibicarakan sekarang ini. Keselamatan Allah malahan mengundang semua koruptor dan para penguasa yang tidak tahu diri untuk berani bertobat dan bertobat. Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat.

Siapakah aku ini? Aku adalah murid Kristus. Itulah yang harus kita banggakan. Jujur, 'apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus'. Ucapan Paulus inilah yang kiranya menjadi ucapan kita masing-masing. Kita tidak bermegah atas segala yang kita miliki, atau sebaliknya bermuka muram, mengingat segala persoalan yang pernah menghinggapi diri. Aku bermegah dalam Kristus, karena memang Dialah kehidupanku.

 

 

 

Oratio:

 

Yesus Kristus, Engkau tidak memperhitungkan kelemahan umatMu yang berani datang mendekatkan diri kepadaMu. Semoga semangat mereka yang berani datang untuk mendengarkan pengajaranMu juga menjadi semangat kami dalam mencari Engkau.

Yesus Krsitus terangilah kami selalu dengan Roh KebijaksanaanMu.  Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening