Pesta Pemberkatan Gereja Lateran, 9 November 2012

Yeh 47: 8-9  +  Mzm 46  +  Yoh 2: 13-22

 

 

 

 

Lectio:

 

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku."

Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

 

 

 

Meditatio:

 

'Tampak air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. Sungguh, air itu membual dari sebelah selatan dan mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup. Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat'.

Inilah gambaran limpahan berkat yang keluar dari dalam bait Allah, tempat kehadiran Allah yang mulia dan kudus. Allah bersemayam dalam baitNya yang kudus. Ia hadir dan tinggal di tengah-tengah umatNya. Bait Allah adalah bait suci, tempat untuk berdoa dan menyembah Tuhan, dan bukan untuk kepentingan lainnya. Kita hendaknya ingat juga akan perjalanan hidup sejarah bangsa Israel. Mereka didampingi oleh Tuhan, yang ditampakkan kehadiran Tabut Perjanjian yang diusung di depan perarakan ke mana mereka pergi. Kehadiran Allah ditampakkan secara nyata dalam tanda-tandaNya yang kudus. Kasih dan perhatian Allah itulah kiranya ditampakkan dalam gambaran yang diberikan nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama.

Layaklah manusia Yesus Kristus, orang Yahudi berasal dari Nazaret ini marah, ketika bait Allah dijadikan tempat berjualan, yang dikabarkan bukan sekadar untuk membantu orang-orang yang hendak beribadat dan mempersembahkan kurban, tetapi juga terjadi pemerasan dan ketidakadilan. Sepertinya kemarahan yang suci, karena digerakan oleh kecemburuan Allah  yang melihat perilaku umat yang disayangiNya.  Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. 'Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan', seru Yesus. Wajarlah pula setiap orang akan jengkel dan marah, bila tempat peribadatan mereka dinodai dan dilecehkan orang lain.  Kiranya sungguh sebuah kejahatan, bila ada orang-orang yang sengaja merusak dan menodai rumah ibadat sesamanya. Mereka tidak merasa memiliki, maka seenaknya saja merusak milik orang lain. Mereka itu adalah orang-orang yang egois dan munafik, karena memang tentunya rumah ibadat mereka sendiri pasti tidak boleh dijamah orang lain di luar komunitasnya. Mereka memandang Allah yang penuh kasih itu dengan memakai kaca ribbon atau kacamata kuda.

Yesus mengusir para pedagang, karena memang Dia amat menghormati rumah ibadat. 'Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku'.

Wajarlah setiap orang akan jengkel dan marah, bila tempat peribadatan mereka dinodai dan dilecehkan orang lain.  Apa doa-doa dan iman mereka begitu bergantung dan sebatas tempat peribadatan? Bukan memang. Namun tak dapat disangkal, tanda-tanda lahiriah amatlah penting untuk mengungkapan kedalam isi hati. Cinta orangtua kepada sang buah hati harus juga ditampakkan dengan berani menyekolahkan putera dan puteri mereka. Iman kepada sang Empunya kehidupan memang juga tidak terikat dan sebatas rumah ibadat. 'Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali', tegas Yesus. Sebuah penegasan yang memang hendak menyatakan bahwa relasi ilahi hanya terpenuhi dalam diri Tuhan Allah sendiri, yakni Yesus Kristus. Keakraban kita dengan Tuhan Allah tidak ditentukan oleh keberadaan rumah ibadat, atau teknik-teknik  dan cara kita berdoa, atau pun komunitas-komunitas yang kita ikuti, melainkan ditentukan oleh  ada kita di dalam Tuhan. Keberadaan kita dalam tubuh-Nya inilah yang menyelamatkan dan menenteramkan jiwa.  

Sedikit catatan tentang gereja basilik Lateran, yang sekaligus menjadi alasan kita mengenangkannya pada hari ini, sebagai berikut: 'ketika Kaisar Konstantinus bertobat dan mengumumkan edik Milano Dada tahun 303, ia memusatkan perhatiannya pada pembangunan gereja-gereja yang indah. Ibunya Santa Helena menjadi salah seorang pendorong dan pembantu dalam usaha mendirikan gereja-gereja itu. Gereja pertama yang dibangun ialah Basilik Agung Penebus Mahakudus di Lateran. Letaknya di atas bukit Goelius dan tergabung dengan istana kekaisaran, Lateran. Gereja ini diberkati dengan suatu upacara agung dan meriah oleh Sri Paus Silvester I (314-335) pada tahun 324. Karena basilik itu merupakan gereja katedral untuk Uskup Roma yang sekaligus menjabat sebagai Paus, maka basilik itu pun disebut 'induk semua gereja', baik di Roma maupun di seluruh dunia. Karena itu juga basilik Lateran merupakan gereja paroki bagi seluruh umat Katolik sedunia. Basilik itu sekarang disebut Gereja Santo Yohanes Lateran'.

 

 

Oratio:

 

Yesus Krsitus, kuasailah GerejaMu dengan terang Roh KudusMu, agar kami semakin mampu melihat dan merasakan pendampinganMu, semoga GerejaMu yang bagikan bahtera ini juga bertahan dalam goncangan, terlebih bila badai kehidupan begitu menerjang dan menerjang.

 

 

Contemplatio:

 

"Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali".

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening