Rabu Biasa XXXI, 7 November 2012

Fil 2: 12-18  +  Mzm 27  +  Luk 14: 25-33

 

 

 

 

Lectio:

 

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku".

 

 

 

Meditatio:

 

'Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'.

Dua persyaratan yang diberikan Yesus bagi orang-orang yang berkeinginan untuk mengikutiNya. Mereka harus 'membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan'. Kalau dia seorang perempuan, berarti harus membenci suaminya tentunya. Semua harus dinomerduakan, 'bahkan nyawanya sendiri'; dan lebih dari itu, mereka pun harus juga berani  'memikul salibnya dan mengikut Aku', tegas Yesus. Hanya dengan melakukan kedua persyaratan itu, 'seseorang dapat menjadi murid-Ku'.

Menomerduakan yang lain berarti hanya mengutamakan Tuhan Yesus Kristus, sang Empunya kehidupan ini. Ini berarti kehendak dan kemauan Tuhan Allah, yang harus kita dengar dan kita turuti, dan bukan yang lain. Memikul salib berarti seseorang harus siap sedia menerima tantangan dan kesulitan, yang kira-kira pasti menyakitkan dan menyusahkan jiwa dan raga, hidup yang tidak mengenakan. Mengikut Dia itu berarti meneladan sikap dan kehendakNya, serta melakukan segala yang dikehendakiNya. Inilah persyaratan yang dikenakan terhadap semua orang yang hendak menjadi muridNya, yang hendak menikmati perjamuan abadi di surga, seperti yang kita renungkan kemarin.

Semua syarat sengaja diajukan Yesus, agar setiap orang yang hendak menjadi muridNya mengerti dan paham apa artinya menjadi murid-murid Kristus, sang Penyelamat; agar setiap orang mampu memberi keputusan: terus berani mengikuti atau tidak. 'Barangsiapa di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku'. Menjadi murid Kristus, sang Empunya kehidupan tidaklah bisa separuh-separuh. Ketidaksetiaan seseorang dalam mengikuti Kristus tak ubahnya orang yang tak selesai membangun menara rumahnya.

Bagaimana dengan kita orang-orang yang sudah mengenal dan mengikutiNya? Paulus meneguhkan kita: 'hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar'. Paulus mengajak kita untuk terus maju dan berjuang. Dia mengingatkan, agar tidak takut dan gentar, karena menjadi murid-murid Anak Manusia tidaklah bebas dari aneka tantangan dan rintangan. Hujan akan tetap membasahi tubuh kita, dan terik matahari tetap akan menyengatkan badan kita.

Malahan Paulus menambahkan, agar kita berani selalu memberi yang terindah dalam setiap pelayanan hidup. 'Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan'. Apa upahmu kalau hanya memberi salam kepada mereka yang memberi salam kepadaMu? (Mat 5: 47).

 

 

 

Oratio:

 

Yesus Kristus, kami bersyukur kerpadaMu, karena mengijinkan kami menjadi murid-muridMu. Jujur saja, ya Yesus, kami sering putus asa dalam memanggul salib dan mengikuti Engkau, karena memang seringkali kami hanya ingin bersenang-senang saja. Bantulah kami dengan terang RohMu, agar kami menjadi orang-orang  yang setia, bahkan menjadi bintang yang bersinar dalam pergaulan kami sehari-hari.   Amin.


 

 

Contemplatio:

 

'Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'.

 

 

 

 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening