Sabtu Biasa XXXI, 10 November 2012


Fil 4: 10-19  +  Mzm 112  +  Luk 16: 9-15

 

 

 

 

Lectio:

 

Suatu hari berkatalah Yesus:  'Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.

 

 

 

Meditatio:

 

'Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar'.

Aneka perkara kecil itulah yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita diminta Yesus untuk setia dalam aneka persoalan hidup sehari-hari itu. Itu salib kehidupan. Kesetiaan kita dalam aneka persoalan sehari-hari akan menjadi bekal bagi dalam menghadapi aneka soal yang lebih besar lagi. Sebaliknya, 'barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar'. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak sanggup mengangkat beban seberat 20 kg akan dapat mampu mengangkat beban 30 kg dan memindahkannya ke tempat lain?

'Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi', tegas Yesus. Dia, bukannya menyuruh kita untuk bertindak tidak jujur, melainkan kita diminta untuk berani menerima kenyataan yang sunggguh-sungguh tidak ideal itu. (Maaf, penggunaan istilah tidak jujur pun tidaklah pas; entah kesalahan pada penulis kitab suci atau si penterjemah). Itulah kehidupan. Kita yang tinggal di kota Malang, janganlah membayangkan dan memakai konsep kehidupan metropolis Jakarta. Jika kita melakukannya berati kita hidup dalam bayangan; dan kita benar-benar tidak riel. 'Jikalau kamu tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?'. Harta yang sesungguhnya adalah segala anugerah, yang dimiliki Tuhan Allah yang memang diberikan kepada setiap orang. Setiap orang akan segera boleh menikmatinya, bila dia memang berani mengambilnya. Anugerah itu memang tidak dilemparkan oleh Tuhan. Namun bagaimana semuanya itu bisa kita terima, bila kita tidak mampu mengurus diri sendiri; jangan-jangan talenta itu 'kita sembunyikan dan kita pendam' (bdk  Mat 25: 18).

Yesus, sekali lagi, tidak menyuruh kita untuk bertindak tidak jujur, melainkan kita dimintaNya untuk berani menerima kenyataan yang sunggguh-sungguh tidak ideal itu. Yesus meminta kita setia dan setia, dan secara tegas malahan meminta kita setia pada pilihan yang telah kita ambil. Kita telah memilih Allah, dan malahan telah jauh-jauh kita pikirkan dan kita renungkan, seperti orang yang hendak membangun menara (Luk 14: 28-30), sebagaimana kita renungkan beberapa hari yang lalu, maka kiranya kita semakin setia kepadaNya.  'Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon'. Kita telah memilih Allah, maka baiklah kita semakin setia kepadaNya, yang selalu mendahului kita setia, sebab 'Dia selalu setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya' (2Tim 2: 13).

Pilihan kita pun tidak akan membebaskan kita dari terik matahari dan hempasan hujan. Kita  tetap tersengat terik matahari dan basah oleh guyuran hujan. Kiranya kita tetap berani mengadalkan bantuan Dia yang telah kita pilih, yang sebenarnya jauh-jauh sebelumnya tela memilih kita. Itulah yang dikatakan Paulus dalam surat kepada umat di Filipi hari ini, yakni 'segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku; dan kiranya  Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus'.

Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Apa yang dibicarakan Yesus menjadi bahan tertawaan orang-orang Farisi; tetapi kiranya sikap mereka ini semakin membenarkan diri mereka sebagai orang-orang munafik. Bersama para ahli Taurat, mereka menduduki kursi Musa, tetapi segala suatu yang mereka lakukan hanya untuk mencari keuntungan dan penghormatan diri. Segala yang mereka lakukan, yang indah dan mulia itu, hanya dimaksudkan supaya dilihat orang, dan memang mereka mendapatkan pujian, mereka mendapatkan upahnya. Namun Yesus yang tahu isi hati setiap orang, langsung menegur mereka: 'kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah'.

 

 

Oratio:

 

Yesus Kristus, dampingilah kami selalu dengan kasihMu, agar kami menjadi orang-orang yang setia dalam aneka perkara. Kami pun yakin, Engkau tidak mencobai kami melebihi kemampuan kami. Bantulah kami, ya Yesus, agar kami kedapatan setia sampai akhir hidup kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio:

 

'Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku'.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening