Selasa Biasa XXXI, 6 November 2012

Fil 2: 5-11  +  Mzm 22  +  Luk 14: 15-24

 

 

 

 

Lectio:

 

Dalam pesta perjamuan setelah mendengar ada balasan dalam berbuat baik berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."

Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya.

Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku."

 


 

Meditatio:

 

'Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah'.

Itulah  seru seseorang  yang memuji bahagia orang-orang  yang mendapatkan kesempatan menikmati Kerajaan Allah. Bersyukurlah memang mereka itu. Apakah dengan pujian ini, orang itu juga menyetujui ajakan Yesus, yakni apabila seseorang mengadakan perjamuan, hendaknya mengundang orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta? Tidaklah disebutkan. Namun, seperti yang kita renungkan kemarin, tentunya kehendak Yesus haruslah menjadi perhatian utama dalam mendapatkan keselamatan.

Apakah hanya orang-orang, yang mampu mengadakan pesta atau mereka yang mampu berbuat baik, yang akan menikmati Kerajaan Allah? Bagaimana dengan mereka yang lemah dan tak berdaya, yang memang tak mampu melakukan aneka kebajikan mulia?

Semua orang, tanpa terkecuali, sebagaimana dikatakan dalam perumpamaan hari ini, diundang untuk menikmati Kerajaan Allah. Keselamatan adalah pemberian Allah, dan bukannya balas jasa bagi mereka yang mampu melakukan aneka kebajikan. Sebaliknya, Yesus Tuhan pun malahan mengetahui, bila ada orang-orang yang tidak menanggapi undanganNya. Ada yang beralasan baru saja membeli ladang, maka harus pergi melihatnya; ada yang baru membeli lima pasang lembu kebiri, maka dia harus pergi mencobanya; ada juga yang baru kawin. Namun Allah tidak berhenti karena sikap ketidakmauan dan penolakan umatNya. Yesus pun sadar sungguh bahwa 'banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih' (Mat 22: 14), bahkan hari ini Yesus menegaskan: 'Aku berkata kepadamu: tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku'.

Allah menghendaki semua orang beroleh selamat. Karena itu, pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh, dan pergilah sekali lagi dan paksa orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Allah tidak memperhitungkan kemampuan umatNya untuk menikmati KerajaanNya, melainkan kemauan dan keberanian untuk menerima undanganNya.

Kapan undangan untuk menikmati perjamuan bersamaNya ini akan disampaikan? Undangan disampaikan oleh Yesus Kristus sendiri, sang Anak Manusia, ketika seseorang hendak mengikutiNya. 'Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah' (Luk 9: 62). Penyataan Yesus ini menegaskan bahwa dalam mengikuti Dia, seseorang tidaklah perlu memberi persyaratan. Mengikuti Yesus berarti penyerahan diri secara total kepada Dia, tanpa syarat; dan malahan kitalah yang harus mengikuti kehendak dan kemauannya, dan bukannya kemauan diri yang kita utamakan. Ketika Yesus menyapa 'Ikutlah Aku', berdirilah Matius lalu mengikut Dia (Mat 9: 9). Inilah sikap yang benar dalam menerima undanganNya.

Bagaimana dengan kita, apa mengikuti undanganNya?

Bagi kita, orang-orang yang sudah mengenal 'Yesus Kristus adalah Tuhan', sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama, 'yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia', dan kita yang semakin hari semakin mengenalNya, pasti akan sanggup memenuhi undanganNya. Bukankah kita adalah orang-orang yang merindukan keselamatan daripadaNya?

Maka baiklah, seperti dikatakan oleh Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi tadi, 'hendaklah dalam perjalanan hidup ini, kita menaruh pikiran dan perasaan  hanya dalam Kristus Yesus', sebab  sikap hidup seperti inilah, yang mengarahkan  dan mengkondisikan kita untuk siap sedia menikmati pesta perjamuanNya.

 


 

Oratio:

 

Ya Tuhan Yesus, Engkau mengundang setiap orang untuk menikmati keselamatan yang berasal daripadaMu. Semoga perhatianMu yang begitu besar kepada kami, kami tanggapi dengan sepenuh hati dan segenap akal budi, sebab hanya daripadaMulah, kami mendapatkan yang luhur dan mulia dalam hidup ini.

Yesus, bantulah kami untuk mendapatkan yang terindah dalam hidup ini.   Amin.

 


 

Contemplatio:

 

'Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah'.

 

 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening