Senin Biasa XXXII, 12 November 2012


Tit 1: 1-9  +  Mzm 24  +  Luk 17: 1-6

 

 

 

 

Lectio:

 

Suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

 

 

 

Meditatio:

 

Ada tiga hal yang disampaikan Yesus

Pertama,  'tidak mungkin tidak akan ada penyesatan'. Kenapa tidak mungkin? Kaerena memang semua orang sedang berjuang untuk mendapakan keselamatan. Setiap orang harus saling meneguhkan dan mendoakan satu dengan lainnya. Menyesatkan itu menjerumuskan orang lain ke dalam jurang kehidupan, dia mengalihkan perhatian sesamanya kepada aneka hal yang buruk dan mencelakakan. 'Tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini'. Bila memang ada orang bertindak seperti itu, dia harus dihukum. Orang yang mencelakakan sesamanya memang patut dihukum. Menghukum orang yang bersalah tidaklah melanggar hukum cinta kasih.

Kedua, 'jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia; bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: aku menyesal, engkau harus mengampuni dia'. Setiap dari kita diminta mempunyai jiwa pemaaf. Tidak ada istilah tiada maaf bagimu. Berat memang, tetapi apalah gunanya kita menyimpan kesalahan sesama. Ketidakmauan kita memaafkan orang lain, bukannya menjadi bekal, melaiankan beban hidup; dan tak jarang beban itu begitu merasuk dalam jiwa, dan menjalar dalam bagian tubuh kita yang paling lemah. Ampunilah dosa, kami seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Keberanian kita memaafkan kesalahan orang lain mengkondisikan kita hidup sebagai seorang kontemplatif, yakni berani memaafkan memaafkan orang lain, sebagaimana Allah sendiri mengampuni kita dari segala dosa dan kesalahan kita.

Ketiga, hendaknya kita mempunyai iman yang teguh. 'Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu'. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Karena Allah sendiri yang melakukan, kita melakukan segala sesuatu dengan meminta bantuan Allah sendiri. Dengan kata lain, kita dapat melakukan segala sesuatu, bahkan aneka hal yang di luar daya kemampuan kita, karena memang Allah membantu dan menolong kita. 'Guru, supaya aku dapat melihat!' (Mrk 10: 51),  pinta Bartimeus yang memang tidak bisa dia lakukan, tetapi berkat keberanian meminta bantuan Yesus, dia akhirnya dapat melakukan pekerjaan yang sebelumnya tidak bisa dia lakukan: dia sekarang bisa melihat. Semuanya terjadi karena imannya kepada sang Guru (Mrk 10: 52). Iman membuat segala sesuatu bisa terjadi.

Inilah ketiga hal yang harus dimiliki setiap orang yang mengaku diri sebagai murid-murid Kristus, yakni mempunyai iman yang teguh, berjiwa pemaaf dan suka melakukan yang baik; dan khusus kepada mereka 'para pengatur rumah Allah hendaknya merea itu penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya'. Kepada mereka dituntut lebih tinggi, karena memang tugas kepercayaan yang mereka emban. Kepercayaan yang diberikan oleh sesama kepada kita perlulah kita syukuri dan kita pertangungjawabkan kepada mereka yang memberi.

Kiranya tuntutan yang diberikan Paulus kepada mereka, para penilik jemaat, juga dikenakan kepada kita, karena memang kita adalah orang-orang yang sudah mendpatkan kepercayaan dari Yesus sendiri yang mengangkat kita menjadi saudara dan saudariNya; dan bukannya kita juga dipanggil untuk memberi kesaksian kepada seluruh umat manusia dan kepada dunia?

 

 

Oratio:

 

Yesus Kristus, Engkau menghendaki kami mempunyai iman yang teguh, yang memang akan membantu kami dalam menyelesaikan aneka tugas kami sehari-hari, sekaligus memberi penghiburan tersendiri dalam setiap langkah hidup kami.  Yesus, bantulah kami dengan Roh KudusMu, agar kami mempunyai jiwa pengampun dalam pergaulan hidup sehari-hari, karena memang hidup kami ini diperkaya dan disempurnakan oleh orang-orang yang ada di sekitar kami.

Santo Yosafat doakanlah kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio:

 

'Jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: aku menyesal, engkau harus mengampuni dia'.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening