Hari Raya Natal nan mulia, 25 Desember 2012 (Misa Fajar)

Yes 62: 11-12  +  Tit 3: 4-7  +  Luk 2: 15-20

 

 

 

 

Lectio:

 

Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

 

 

Meditatio:

Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Inilah jawaban pribadi Maria setelah mendengarkan dan berbincang-bincang dengan malaikat Tuhan. Dia siap menerima segalanya yang akan terjadi pada dirinya. Sebagaimana sikap Maria, demikian juga gembala-gembala menanggapi kabar sukacita dari para malaikat; mereka  berkata seorang kepada yang lain: 'marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita'. Mereka tidak memperhitungkan daya kemampuan yang ada pada diri mereka. Mereka tidak memperhatikan juga kawanan ternak yang mereka miliki. Mereka begitu tertarik dengan berita sukacita itu. Mereka ingin melihat dan menikmati kabar sukacitra itu, yakni bahwa Penyelamat manusia telah datang dan ada di tengah-tengah mereka. Allah telah menyapa, layaklah kita menjawabNya.

Apakah para gembala ini mewakili 'bangsa kudus atau orang-orang tebusan TUHAN', sebagaimana diceritakan oleh Yesaya dalam bacaan pertama?  Kemungkinan besar: benar! Dan itulah yang ditampakkan dengan keberanian mereka melihat segala yang telah terjadi. Karena apa yang terjadi adalah milik mereka, sebagaimana dijanjikan Tuhan. Mereka telah menjadi milik Allah sebagai bangsa yang kudus, demikian sebaliknya Allah telah menjadi manusia adalah milik mereka, karena memang telah dijnajikan sendiri olehNya. Kita pun adalah bangsa yang kudus.

Sejauhmana perjalanan mereka, tidak diceritakan. Mereka cepat-cepat berangkat, pergi bersama-sama, dan dengan mata telanjang mereka menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Sungguh, para gembala melihat dan menikmati, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan para malaikat kepada mereka. Yang tampak sesuai dengan yang diwartakan. Sukacita dan kegembiraan hati, mereka ungkapkan dengan 'menceritakan apa yang telah dikatakan para malaikat kepada mereka tentang Anak itu'. Dan lihatlah, semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala. Mengapa kepada mereka para gembala, dan bukannya kepada orang-orang Farisi dan para ahli kitab, kabar itu disampaikan? Mengapa juga penyampaian mereka dilakukan Allah secara meriah, bala tentara surgawi ikut ambil bagian; apakah tidak berlebih-lebihan bila hanya kepada para gembala kabar sukacita itu disampaikan? Mereka semua yang mendengarkan merasa terkagum-kagum akan karya Allah, yang dialami para gembala. Kiranya gaya cerita mereka begitu menarik dan interesan, sehingga membuat mereka semua yang mendengarnya terperangah penuh kekaguman. Namun apakah mereka semua mengerti?

Semua yang dialami dan dinikmati para gembala memang sulit dimengerti. Banyak orang heran, bukannya karena mereka paham akan apa yang diceritakan para gembala, sebab memang pengalaman gembala bukanlah pengalaman insani belaka, melainkan suatu pengalaman surgawi, di mana Allah sungguh-sungguh menampakkan kemuliaan dan kekuasaan.  Maria, sebagai seorang yang berpengalaman dalam bergaul dengan Allah, menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.  Maria merenungkan semuanya itu, karena Allah itu sungguh-sungguh Immanuel. Maria tidak berhenti pada pengalaman gembala, melainkan menyadari dan merasakan sungguh bahwa 'rahmatNya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia' (Luk 1: 50). Janji Allah sungguh nyata.

'Kita adalah orang-orang yang beroleh keselamatan, karena kehadiran Juruselamat kita, Yesus Kristus, dan karena kemurahan dan kasih Allah kepada manusia', kata Paulus dalam suratnya kepada Titus pada bacaan kedua, 'bahkan kita adalah orang-orang yang berhak menerima hidup yang kekal'. Kita adalah bangsa yang kudus. Dengan merayakan Natal berarti kita memperbaharui keselamatan yang kita nikmati itu, suatu pemberian yang diberikan secara cuma-cuma dalam diri Yesus Kristus.

Dengan perayaan Natal pun kita diingatkan agar berani berbagi kasih terhadap sesama. Sebab Natal pertama-tama adalah pelayanan Kasih Allah kepada umatNya, yang dengan rela menjadi manusia. Kedua, seperti para gembala yang berani datang ke Betlehem dan berbagi pengalaman kasih ilahi kepada sesamanya, demikian juga kita, yang berani datang merayakan Natal secara bersama-sama, harus berani berbagi kasih terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita. Natal adalah perayaan berbagi kasih ilahi (bukan sekedar ala sinterklas), yang telah kita terima sendiri dari Allah. Konkritnya, sebagaimana dikumandangkan dalam pesan Natal bersama Gereja Katolik dan Kristen 2012 ini, dengan berani ikutserta memerangi kemiskinan jasmani dan rohani, hidup sederhana dan berlaku jujur. Kita harus berani mengasihi, sebagaimana Allah mengasihi. Natal adalah perayaan iman dan kasih.

 

Oratio:

 

Yesus, kami bangga dengan keberanian para gembala dalam mengamini kabar sukacita para malaikat. Semoga perayaan Natal ini semakin menyemangati kami untuk selalu menanggapi kabar sukacitaMu dengan penuh semangat. Engkau datang ke tengah-tengah kami, layaklah kalau kami menyambut Engkau dengan sukaria. Amin.

 

 

 

Contemplatio:

 

'Kita adalah orang-orang yang beroleh keselamatan, karena kehadiran Juruselamat kita, Yesus Kristus, dan karena kemurahan dan kasih Allah kepada manusia'.

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening