Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, 1 Januari 2013

Bil 6: 22-27  +  Gal 4: 4-7  +  Luk 2: 16-21

 

 

Bacaan:

Pergilah cepat-cepat gembala-gembala itu menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

 

Renungan:

'Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya'.

Inilah yang dilakukan oleh Maria ketika mendengarkan tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Semua orang heran dan kagum akan pengalaman yang indah dan luar biasa yang dinikmati oleh para gembala. 'Segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan para malaikat kepada mereka'. Pernyataan Allah oleh para malaikat sungguh-sungguh terwujud di depan mata mereka sekarang ini. Para gembala dibuatnya percaya akan segala yang indah dan benar itu; sepertinya mereka sekarang ini dijadikan tidak berdaya untuk tidak mengamini atau berkata-kata lain, tentang apa yang dikatakan para malaikat.

Namun kiranya tidaklah demikian dengan semua orang yang hanya mendengarkan cerita mereka. Pendengaran adalah kesaksian nomer kesekian setelah penglihatan. Bagaimana mungkin semuanya itu benar adanya, bila yang mengatakan hanyalah para gembala, dan bukan mereka yang cerdik pandai (Mat 11: 25)?    Maria, sebagai orang yang memang berpengalaman dalam mendengarkan sapaan Allah, 'menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya'. Pengalaman akan Allah harus selalu diresapkan dalam hati, dan dibiarkan merasuk dalam sukma kehidupan. Menikmati pengalaman akan Allah membutuhkan keberanian hati yang mendalam. Bayi itu 'diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya', yakni ketika Dia telah berada terlebih dahulu dalam hati sang ibu.

 

Kerendahan hati sebagai seorang 'ibu Tuhan' (Luk 1: 43) sungguh-sungguh patut dikagumi. Maria hanya mau mendengarkan dan mendengarkan cerita mereka. Dia yakin masih ada banyak pengalaman akan Allah yang harus didengarkannya. Dia mengamini cerita mereka, para gembala, dan tidak memaksa mereka harus langsung mempercayainya apa yang telah mereka lihat, apa yang telah mereka dengar dan rasakan. Sebagai orang yang berpengalaman, dia tetap berani mendengarkan dan mendengarkan, dan bukannya berkata-kata. Inilah keindahan seorang ibu Tuhan. Keberanian seseorang untuk mendengarkan adalah wujud nyata dari kemauan sebuah pribadi menerima pribadi lain. Biarlah orang lain datang kepadaku dan berkata-kata, karena memang dia ingin didengarkan; terlebih-lebih bagi Dia yang datang dan berkata-kata, 'berkatalah ya Tuhan, aku siap mendengarkan' (1Sam 3: 10), jawabku.

Maria memang benar dan sungguh-sungguh ibu Tuhan, karena Yesus Tuhan ada dalam hatinya, ada dalam rahimnya, dialah yang mengasuhNya, dan dialah yang bersama Yusuf mendampingi Yesus dalam mengenal kehidupan keluarga secara nyata di Nazaret. Yesus sendiri, sebagaimana dikatakan dalam surat Paulus kepada umat di Galatia, sungguh-sungguh menyadari bahwa diriNya diutus Bapa di surga, dan mau 'lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat, guna menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat'; dan pada akhir hidupNya, Dia masih menyebut sang ibu terkasih dan menyerahkan ibuNya kepada Yohanes (Yoh 19: 26-27). Maria memang seorang perempuan pilihan Yesus.

Kalau kita yang ditebusNya 'diterima menjadi anak-anakNya, ahli-ahli waris keselamatan, dan berkat Roh Anak-Nya yang ada dalam hati kita, yang memampukan kita berseru: ya Abba, ya Bapa!', tentunya keindahan yang lebih luhur dan mulia diterima oleh sang ibu Tuhan. Kita yang sedikit berperan mendapat anugerah yang begitu mulia, tentunya lebih mulia dan agung lagi, anugerah-anugerah yang diterima oleh ibu Tuhan dan ibu kita, yang selalu mengamini segala kehendak Allah Bapa. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpijilah buah tubuhmu.

Kiranya di awal tahun 2013 ini layaklah kita, anak-anak Allah, bersama-sama Maria, sang ibu Tuhan, bersyukur kepada Tuhan sang Empunya kehidupan. Pujian dan syukur kita lambungkan kepadaNya, sebab jiwa yang penuh sukacita dan rasa terima kasih, meringankan langkah menuju masa depan yang lebih ceria. Kiranya berkat Tuhan kepada Israel ini, seperti yang tersurat dalam kitab Bilangan, dilimpahkan juga kepada kita semua:

'TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;

TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;

TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.

Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, dan juga atas semua orang, maka Aku akan memberkati mereka'. Amin.

 

          2013 harus lebih baik! 

          Cen tek hao shiang Ni, Jesus

 

Doa:

            Ya Maria, doakanlah kami selalu, agar kami semakin berani mengikuti Yesus Puteramu, semoga kami semakin setia kepadaNya dan beroleh berkat daripadaNya.

Yesus Kristus, bantulah kami dengan Roh KudusMu, agar kami siap sedia melangkahkan kaki ke masa depan yang lebih ceria. Amin.

 

 

Kontemplasi:

'Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya'.







 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening