Jumat dalam Adven I, 7 Desember 2012


Yes 29: 17-24  +  Mzm 27  +  Mat 9: 27-31

 

 

 

 

Lectio:

 

Pada waktu itu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud."

Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: "Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini." Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.

 

Meditatio:

Pada waktu itu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: 'kasihanilah kami, hai Anak Daud'. Dua orang buta berseru-seru kepada Yesus, yang artinya mereka tidak hanya satu kali berteriak meminta pertolongan. Mereka berseru dan berseru: 'kasihanilah kami, hai Anak Daud', dan sepertinya Yesus membiarkan mereka berseru-seru. Inilah pengalaman dua orang buta yang berseru-seru, dan sepertinya mereka didiamkan saja oleh Yesus. Pengalaman mereka sepertinya juga menjadi pengalaman banyak orang, yang telah berulang kali berdoa dan berdoa, dan Yesus sepertinya berdiam diri; sebuah pengalaman rohani yang menuntut kesabaran dan kesetiaan dalam menjalaninya. Mereka berdua adalah gambaran orang-orang yang membutuhkan belaskasih dan uluran tangan kasih ilahi, tetapi tidak segera juga memperhatikan keperluan mereka.

Sampai berapa jauh mereka mengikuti Yesus? Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya, dan Yesus berkata kepada mereka: 'percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?'.  Orang yang percaya kepada Tuhan, orang yang telah lama beriman kepada sang Empunya kehidupan, tidaklah bebas dari aneka tantangan hidup, bahkan kepada mereka pun masih sempat disampaikan pertanyaan oleh Tuhan Allah, yang sepertinya untuk mengklarifikasi iman kepercayaan mereka.  Apakah ada orang yang datang bermohon kepada Yesus, tetapi mereka tidak percaya kepadaNya? Mereka berdoa kepada Tuhan, tanpa ada iman kepercayaan kepada Tuhan, malahan meragukan kemampuan dan belaskasih Tuhan kepada umatNya.

 Mereka menjawab: 'ya Tuhan, kami percaya'.  Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: 'jadilah kepadamu menurut imanmu', dan seketika itu meleklah mata mereka. Iman kepercayaan adalah akar dan dasar dari suatu doa. Sepertinya, kalau boleh kita katakan demikian, Yesus mengulur-ulur waktu untuk mengabulkan doa permohonan seseorang hanya untuk mengklarifikasi iman kepercayaan mereka. Yesus tidak mempersoalkan beban dosa dan kesalahan mereka, Yesus tidak memperhitungkan mengapa kedua orang itu menjadi buta. Yesus hanya menanyakan 'percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?';  dan Yesus hanya menantikan jawaban 'ya Tuhan, kami percaya'.

Dalam masa Adven ini, kita memang dilatih untuk berani belajar tentang ketekunan dan kesetiaan. Kita diminta untuk berani berjaga-jaga sambil berdoa, sampai Dia datang untuk kedua kalinya. Sampai kapan? Sampai Dia datang! Kapan Dia datang? Tidak ada seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat pun tidak. Bukannya aneka permohonan yang harus dibuat banyak orang dalam masa Adven ini, melainkan kita semua dilatih untuk berani bertekun dan setia dalam berharap kepadaNya. Keberadaan kita yang sudah lama beriman kepadaNya, kelemahan dan ketidakberdayaan kita, seperti yang dialami oleh kedua orang buta itu, tidak mengundang belaskasih Tuhan Yesus, bila memang tidak mempunyai kepercayaan kepadaNya.

Inilah repotnya percaya kepada Tuhan, sang Empunya kehidupan, yakni kita harus sabar menanti dan setia megharapkan (Yak 5: 7), karena memang segala yang baik dan indah, bukan saja berdasar kemauan kita umatNya, melainkan kehendak Dia sendiri. Kita tidak bisa memaksa Dia, kita hanya diajak untuk sabar menanti dan setia mengharapkan karya kasihNya. 'Bukankah hanya sedikit waktu lagi, Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan? Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN, dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel!', tegas Tuhan Allah dalam kitab Yesaya. Kita, sekali lagi, kita diminta untuk sabar menanti dan setia mengharapkannya.

 

 

Oratio:

 

Yesus, tanamkanlah dalam diri kami kesabaran dan kesetiaan dalam menantikan Engkau, dalam berjuang untuk mendapatkan hidup yang lebih baik dan membahagiakan. Perbaharuilah juga iman kepercayaan kami kepadaMu, agar kami mendapatkan ketenangan jiwa dalam berharap kepadaMu.

Santo Ambrosius, doakanlah kami yang  udah putus asa dalam perjuangan hidup ini. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Ya Tuhan, kami percaya'.

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening