Pesta santo Yohanes, 27 Desember 2012

  1Yoh 1: 1-4  +  Mzm 97  +  Yoh 20: 2-8
 
 
 
Lectio:
 
Pagi itu juga berlari-larilah Maria dari Magdala mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan."
Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.
 
 
Meditatio:
 'Masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya'.
Yang dimaksudkan dengan murid yang lain itu adalah Yohanes, rasul, yang kita peringati hari ini. Dia seorang pandai dan saleh, tapi rendah hati. Namun begitu, Yohanes mampu menempatkan diri, sebagaimana diceritakan dalam Injil hari ini. Dia tidak mau masuk kubur terlebih dahulu, sebelum Petrus yang disebut sebagai ketua dan memang lebih berusia, masuk terlebih dahulu. Sekali lagi di masuk belakangan ke kubur, walau dia yang lebih dahulu sampai di kubur itu. Perasaan rendah hati tidaklah cukup dalam doa dan meditasi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kerendahan hati adalah persoalan  sikap hidup seseorang.
Ketika masuk ke makam, barulah Yohanes percaya. Mengapa ketika melihat pertama kali dari pintu kubur, dia tidak langsung percaya? Pengamatan sepintas sepertinya tidak mampu memberikan kepastian. Namun setelah masuk, dan Yohanes melihat bahwa semuanya tertata rapi dan sempurna, ini berarti telah terjadi sesuatu yang indah, sebagaimana yang selalu dikatakanNya selama ini. Dia bangkit. Iman kepercayaan Yohanes mampu mengatasi kegelisahan Maria Magdalena, bahwasannya Tuhan telah hilang diambil orang. Yohanes tidak mudah terbawa oleh alur yang menguat, terlebih bila hanya luapan emosi jiwa saja. Kebenaran yang pernah disampaikan oleh Yesus sendiri, yakni sabda dan kehendakNya itulah yang dipegang teguh oleh Yohanes, dan bukannya gelora jiwa yang amat dibatasi oleh ruang dan waktu. Inilah yang sering terjadi sekarang ini, banyak orang, terlebih bila tengah berada di gunung Tabor, melihat dan merasakan keagungan dan kasih Tuhan kita Yesus Kristus, mereka banyak berkata-kata tentang pengalaman diri, tetapi sabda dan kehendakNya yang adalah kebenaran dan hidup tidak disampaikannya.
 Sabda dan kehendak Tuhan Yesus yang pernah disampaikanNya itulah yang dipegang teguh oleh Yohanes. 'Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup', tegas Yohanes yang merasakan kehadiran Yesus Kristus, sang Firman kehidupan. 'Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus'. Apa yang dinikmati Yohanes dibagikannya kepada semua orang, kepada kita semua, agar kita   'beroleh persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus'.
Pada peringatan akan Yohanes, kita semua diajak untuk selalu memberi perhatian kepada Firman Allah yang hidup, sebab memang 'apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup',  itulah yang disampaikan kepada kita; terlebih lagi di masa Natal ini. Firman Allah yang menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita, Dialah sang Immanuel, itulah yang harus kita dengarkan dan kita rasakan dalam pengalaman hidup kita. Yohanes menegaskan semuanya ini, karena memang dia telah berpengalaman hidup bersama dengan sang Firman, dan dia beroleh berkatNya. Kita diajak Yohanes untuk menikmatiNya.
 
 
Oratio:
 
Ya Yesus, Engkau Firman Allah yang hidup. Engkau Sabda tunggal Bapa. Semoga kami semakin hari semakin berpegang teguh pada kehendakMu, karena memang kehendakMulah yang menyelamatkan hidup kami. Yesus bantulah kami selalu dalam mengikuti Engkau.
Santo Yohanes, doakanlah kami.  Amin.
 
 
 
Contemplatio:
 
Yesus, Engkau Firman Allah yang hidup.
 
 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening