Rabu dalam Adven I, 5 Desember 2012

Yes 25: 6-10  +  Mzm 23  +  Mat 15: 29-37

 

 

 

 

Lectio:

 

Pada waktu itu Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: "Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?" Kata Yesus kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil."

Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.

 

 

 

Meditatio:

Yesus membuat segala-galanya baik adanya.

Itulah yang dikerjakan Yesus. Dia datang, naik ke atas bukit lalu duduk di situ, dan bukannya langsung mengajar. Tiba-tiba orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain. Yesus tidak mengusir mereka, tetapi tentunya dengan sapaanNya yang lembut  Ia menyembuhkan mereka semuanya, tanpa terkecuali. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel. Mereka memuliakan Allah, karena yang dilakukan Yesus adalah yang biasa Allah lakukan. 'Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!', teriakan umat di jaman Yesaya terlontarkan juga karena karya Tuhan Yesus bagi umatNya. Dan sepertinya peristiwa-peristiwa semacam inilah yang dikehendaki dan menarik hati banyak orang sekarang ini: Dia datang di sana-sini dan menyembuhkan banyak orang. Dia menjadikan segala-galanya baik adanya. Hanya sayangnya, banyak orang berhenti pada aneka mukjizatNya.

'Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan'.

Penyataan Yesus ini sungguh berbeda dengan keinginan para murid: 'tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa' (Mat 14: 15). Apakah perbedaan ini terjadi, karena rasa belaskasihan yang mereka miliki? Atau malahan karena ketidakberdayaan para murid menghadapi mereka semua yang datang, sehingga meminta Yesus menyuruh mereka semua pulang? Misalnya para murid mampu mengadakan mukjizat, apakah mereka juga tergerak oleh belaskasihan? Kiranya belaskasihan belum atau tidaklah menjiwai hidup para murid secara penuh, sebab bila memang ada belaskasih, mereka akan pasti meminta Yesus membuat sesuatu yang lebih indah, dan bukannya menyuruh mereka pulang.

Para murid bukannya belum mempunyai belaskasih, malahan mereka belum mengenal sungguh Siapakah Dia yang ada di depan mereka. Dia,  yang baru saja membuat  orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, tidak mereka pahami dan tidak mereka rasakan.  Apakah mereka benar-benar tidak mampu berkata 'Guru, Engkau telah membuat segala-galanya menjadi baik adanya, kiranya Engkau pun dapat memberikan yang terindah bagi mereka',  sehingga mereka tak perlu berkata: 'bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?'.  Kepekaan hati tidaklah terjadi dalam jiwa para muridNya. Yesus baru saja mengadakan aneka mukjizat, bukan secara sembunyi-sembunyi,  Dia melakukan semuanya itu di tempat  terbuka dan disaksikan banyak orang.  Lagi pula, bukankah mereka pun baru mendapatkan pujian indah dari sang Guru: 'berbahagialah kalian yang melihat, sebab banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya?'.  Apakah mereka benar-benar orang-orang yang tidak tahu diuntung, sebagaimana yang kita renungkan kemarin?

Kembali Yesus membuat segalanya menjadi indah adanya.  Dia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah menikmati kehadiranNya, lalu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya.  Yesus meminta bantuan para muridNya membantu diriNya. Dia memberikan potongan-potongan roti dan ikan itu kepada mereka, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak.  Mereka semua yang hadir makan sampai kenyang. Mereka bukan sekedar mencicipi pemberian Yesus, mereka menikmati sungguh-sungguh pemberian Tuhan Yesus; dan lebih dari itu, dari tujuh potong roti,  potongan-potongan roti yang sisa masih berjumlah  tujuh bakul penuh. Yesus membuat segala-galanya baik adanya dan melebihi batas perhitungan insani manusia.

Kehadiran Yesus yang membuat segala-galanya menjadi indah adanya memenuhi nubuat yang dikatakan Yesaya dalam bacaan pertama tadi, bahwasannya: 'TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi'.

Keberanian kita menikmati kehadiranNya selalu dalam sabda dan sakramen memungkinkan kita mengalami kedatanganNya dalam kemuliaan dan kekuasaan di akhir jaman.

 

 

Oratio:

 

Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur kepadaMu yang selalu melimpahkan belaskasih kepada kami. Semoga segala pemberianMu itu membuat kami semakin berani menaruh perhatian hanya padaMu.

Ya Yesus, datanglah ke tengah-tengah kami, karena kami rindu akan Engkau. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel'.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening