Jumat dalam Masa Natal, 4 Januari 2013


1Yoh 3: 7-10  +  Mzm 98  +  Yoh 1: 35-42






Bacaan:

Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."





Renungan:

'Lihatlah Anak domba Allah!'.

Inilah pernyataan kedua kalinya Yohanes tentang Yesus bahwa Dia adalah 'Anak domba Allah!'. Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu,  dan sepertinya pemberitahuan ini secara istimewa ditujukan kepada mereka,  maka mereka pun pergi mengikut Yesus. Ditunjukkan secara khusus kepada mereka, karena memang kemarin Yesus juga menunjukkan kepada para murid dan semua orang yang mengerumuninya, bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah, dan tak seorang pun yang mengikutiNya. Kini kedua murid, setelah mendengarkan secara langsung, segeralah mereka mengikuti sang Anak Domba Allah.



'Apakah yang kamu cari?'

Sebuah pertanyaan diajukan Yesus kepada kedua murid yang memang jelas-jelas hendak mengikuti Dia. Yesus masih menanyakan kemauan mereka berdua. Pertanyaan yang tidak mengenakkan, sebab sudah jelas-jelas kedua murid mengikuti DiriNya dari belakang, Yesus masih menanyakan: apa yang kalian cari. Inilah hidup beriman kepada Tuhan, yang seringkali meminta kita untuk bersabar terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dilempar kembali oleh Dia sang Empunya kehidupan, walau kita sudah menyatakan maksud dan tujuan dari doa-doa dan kemauan kita. Sepertinya, Yesus mau mengklarifikasi segala kemauan baik kita, yang tak jarang terkontaminasi aneka keinginan sampingan dan emosional belaka. 



'Guru, di manakah Engkau tinggal?', jawab mereka berdua; dan Yesus pun segera menyahut: 'marilah dan kamu akan melihatnya'. Yesus tidak menyebutkan alamat di mana keseharian Dia tinggal. Yesus tidak memberi ancer-ancer (Jw, tanda-tanda). Yesus tidak menunda-nunda, entah nanti atau esok, melainkan 'marilah dan kamu akan melihatnya'.   

Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Di mana Yesus tinggal memang tidak diceritakan. Apakah tempatnya menyenangkan, bersih atau kotor, luas dan indah, tidak diceritakan. Mereka pun datang dan tinggal. Kemauan tinggal bersama Yesus memang tidak bisa kita pertanyakan: kenyamanan tempat tinggalNya. Tinggal bersama Yesus bukanlah berada di suatu tempat, melainkan ada bersama Yesus.



'Kami telah menemukan Mesias'. 

Itulah pemberitahuan Andreas kepada Simon, saudaranya; dan lebih dari itu, dia langsung membawa Simon kepada Yesus. Sebuah pengalaman yang indah dalam berbagi hidup. Tinggal bersama Yesus sungguh membahagiakan, maka itulah yang dibagikan Andreas kepada saudaranya. Bukan karena Simon itu salah seorang saudaranya, melainkan karena kemauan untuk berbagi dengan orang lain inilah, yang memotivasi Andreas mengabarkan pertemuannya dengan sang Pemilik hidup, yakni Kristus, Mesias. Tinggal bersama dengan sang Anak Domba sungguh-sungguh menjadikan hidup lebih hidup.



'Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Petrus'.

Simon, yang datang kepada sang Anak Domba, untuk mengenal Dia, untuk memperkenalkan dirinya kepada Dia, ternyata sang Mesias telah mengenal dirinya terlebih dahulu dengan lebih baik. Sungguh benarlah dan semakin nyatalah yang kita renungkan beberapa hari ini, bahwa Dia ada sebelum dunia diciptakan, bahwa segala sesuatu diciptakan di dalam Dia, karena memang Dia mengenal ciptaanNya satu per satu. Tanpa memperkenalkan diri kepada Allah, kita sudah dikenal oleh Allah, karena memang kita ciptaanNya. Memperkenalkan diri kepada Allah dan berbicara kepada Dia itu tak ubahnya sebuah ucapan terima kasih kepada Dia yang telah memperhatikan kita, dan sekaligus menempatkan diri dalam kebersamaan hidup di hadapan Dia. Beriman dan percaya kepada Kristus ternyata sebuah ungkapan diri dari seseorang yang tahu berterima kasih; berterima kasih atas perhatian Allah yang diberikan kepadanya; sekaligus sebagai usaha menunjukkan diri, bahwa dirinya berasal dari kebenaran, sebagaimana dikatakan dalam surat pertama Yohanes. Sebab Allah adalah kebenaran, demikian pula yang mencariNya.





Doa:

Ya Tuhan Yesus, Engkaulah Allah sang kebenaran tertinggi, karena Engkau yang menciptakan segala, dan segala sesuatu berasal daripadaMu. Pengenalan kami pun hanya sekedar ucapan terima kasih kami, yang memang sudah Engkau perhatikan selama ini. Semoga kami berani tinggal selalu bersama Engkau dalam pengembaraan kami di dunia ini, sehingga kelak pada akhirnya kami boleh menikmati wajahMu yang mulia dalam Kerajaan Bapa. Amin.





Kontemplasi:

Mari dan lihatlah.













Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening