Jumat dalam Pekan Biasa I, 18 Januari 2013

Ibr 4: 1-5  +  Mzm 78  +  Mrk 2: 1-12

 

 


 

Lectio :

Suatu hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"

Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"

Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."


 

Meditatio :

Suatu hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Kapernaum sepertinya menjadi kota kesayangan Yesus; dan bahkan sempat membuat orang-orang Nazaret jengkel kepadaNya (bdk. Luk 4: 23). Entahlah, apa yang dapat kita katakan tentang sikap Yesus ini, yang menaruh banyak perhatian kepada Kapernaum.

Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.

'Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!', kata Yesus yang melihat iman mereka  dalam mengupayakan kesembuhan bagi sesamanya. Yesus bangga akan iman kepercayaan mereka yang ditampakkan dalam tindakan dan perbuatan.

'Mengapa Orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?', komentar para ahli Taurat dalam hatinya. Sebab hanya Allah yang mampu mengampuni dosa manusia. Manusia itu berdosa kepada Allah, dan bukan kepada sesamanya, maka yang berhak mengampuni dosa hanyalah Allah sang Empunya kehidupan. Pikiran orang-orang ahli Taurat ini memang benar.

 Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: 'mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?'. Kenapa Yesus bertanya demikian kepada para ahli Taurat? Yang dipikirkan mereka memang sungguh benar, hanya Allah yang berhak dan mampu mengampuni dosa-dosa manusia. Yesus tidak berhak menegur mereka, karena yang ada dalam benar mereka adalah kebenaran.

'Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?', tegas Yesus. Tentunya para ahli Taurat tidak bisa menjawab pertanyaan ini, karena memang mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengampuni dan menyembuhkan. 'Namun supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa, maka Aku berkata kepadamu', tegas Yesus sambil menoleh kepada orang lumpuh itu,  'bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!'.

Yesus menyatakan kebenaran Allah, dan Dia memperkenalkan siapakah diriNya, bahwa Dialah Anak Manusia yang berkuasa mengampuni dosa. Dia adalah Allah yang menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah umatNya. Yesus memperkenalkan diri bukan dengan aneka definisi atau rumusan, bukan dengan sebutan atau panggilan, melainkan dengan sikap dan tindakan. Segala yan dikerjakanNya adalah pekerjaan Allah. Yesus adalah seorang kontemplatif sejati.

Penyataan Yesus ini sekaligus memperbaharui sekelumit kebenaran yang dimiliki oleh ahli-ahli Taurat. Kebenaran yang dimiliki ahli-ahli Taurat, bukannya diabaikan atau dihapus, melainkan diteguhkan dan dikokohan oleh kehadiran Allah sendiri. Yesus, Orang Nazaret ini mampu menghapus dosa-dosa manusia, karena memang Dia adalah Allah.

Orang lumpuh itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu. Mereka semua yang ada dalam rumah itu, takjub lalu memuliakan Allah, katanya: 'yang begini belum pernah kita lihat'. Yesus membuat segala-galanya indah. Yang begini belum pernah kita lihat, karena memang baru sekarang ini Dia hadir secara kasad mata di tengah-tengah kita. 'Kalau zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya' (Ibr 1: 1-2). Dia hadir sendiri.


 

 

Collatio :

Menikmati pengampunan dari Tuhan, sang Empunya kehidupan kiranya menjadi keharusan bagi kita. Tak dapat disangkal, bahwasannya kita akan berusaha dan berusaha untuk melaksanakan kehendakNya, yang menyelamatkan, tetapi kemungkinan kita jatuh dalam dosa amatlah terbuka. Kita adalah manusia-manusia yang lemah. Keberanian menerima pengampunan dari Tuhan Yesus membersihkan diri dari kuasa dosa dan maut, memberi kekuatan untuk bangkit dan hidup yang lebih sesuai dengan kehendakNya.

Keberanian menerima pengampunan dosa, yang memang hanya diberikan oleh sang Empunya kehidupan, memungkinkan kita kembali hidup sebagai gambar Allah sendiri, sekaligus menyiapkan kita untuk selalu tinggal dan beristirahat bersamaNya, sebagaimana dikatakan dalam surat kepada umat Ibrani pada hari ini. Pertobatan dan pengampunan dosa menutup segala kesempatan sebagai orang 'yang dianggap ketinggalan' untuk 'masuk ke tempat perhentian' bersamaNya, sebaliknya pertobatan adalah tanda keseriusan kita untuk selalu 'berusaha masuk ke dalam perhentianNya'.

Yesus hadir bukan hanya untuk menyembuhkan luka tubuh kita, tetapi luka bathin karena kuasa dosa. Semuanya itu dilakukan oleh sang Anak manusia dalam kasih.


 

 

Oratio :

Bapa di surga, kami bersyukur kepadaMu atas utusanMu yang sungguh-sungguh menaruh hati kepada kami. Dia bukan saja menyembuhkan luka badan kami, tetapi terlebih-lebih luka jiwa kami yang dikerubuti oleh dosa.

Yesus, kuduskanlah jiwa kami; dalam luka-lukaMu sembunyikanlah kami; dan dengan darahMu basuhlah kami. Amin.


 

 

Contemplatio :

'Ketahuilah bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa'.

Bersyukurlah kepada Tuhan, karena kita beroleh sang Penyelamat. Kita boleh mendengarkan dan mengenal Dia. Dia tidak memperhitungkan kelemahan dan dosa-dosa kita. Dia Maha Pengampun dan rahim.

 

 

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening