Jumat dalam Pekan Biasa III, 1 Februari 2013


Ibr 10: 32-39  +  Mzm 37  +  Mrk 4: 26-34

 

 

 

Lectio :

Pada suatu kali Yesus berkata kepada mereka: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."

Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya."

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

 

 

Meditatio :

Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah. Pertama, 'Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba'. Kerajaan Allah itu datang dari atas, tempat dan gambaran kita bahwa Allah yang berkuasa itu tinggal di singgasana, di atas sana, tidak sejajar dengan kita. Kita berada di bawah dan Dia di atas. Kerajaan Allah, yang turun dari atas, tidak seperti buah yang jatuh dari pohonnya. Dia datang ke dunia, tumbuh dan berkembang. Dia malahan mengundang kita untuk terlibat di dalamNya. Kerajaan Allah dapat kita nikmati bersama, bila memang kita mau menanggapi kehadiranNya.

Kerajaan Allah yang mengalir  dalam perjalanan waktu, meminta kita  sabar dan setia dalam menikmatiNya. Kita tidak mampu memaksakan kehadiranNya. Dia tumbuh dan berkembang sebagaimana adaNya, dan bukan ada kita. Maka kita dapat merasakan sungguh kehadiran Allah dengan mengikuti kehendak Dia sendiri yang meraja. Bila kita ingin menikmatiNya, maka kita harus mengikuti Dia, dan bukannya mengikuti kemauan diri kita sendiri. Kita harus mengikuti seperti tumbuhnya tunas, tangkai dan buah-buahnya; semuanya berjalan tahap demi tahap.

Kedua, 'Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi, tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya'.  Biji sesawi itu kecil dan sederhana, tetapi hasil pertumbuhan sungguh-sungguh hebat dan luar biasa, dan banyak dinikmati oleh aneka ciptaan lainnya. Demikian Kerajaan Allah diturunkan tidak dalam dalam peristiwa yang menggemparkan dan sensasional, jauh dari teriakan dan gemerlapan dunia; dia tumbuh melalui peristiwa-peristiwa yang biasa dan sederhana.

Kehadiran Allah bukanlah dalam peristiwa yang hebat dan bergelora, melainkan hadir dalam peristiwa sehari-hari, biasa dan sederhana, malahan bertumbuh dalam perjalanan waktu. Setiap orang yang hendak menikmati diminta sabar dan setia, sebagaimana Dia sendiri adalah Allah yang setia (2Tim 2: 13). Dia yang tidak terikat ruang dan waktu, mau menghadirkan diri dalam perjalanan ruang dan waktu; dan itulah yang memang diminta dari kita juga: setia (Mat 25).

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. Yesus melakukan semuanya itu mengingat keterbatasan dan kelemahan umatNya. Namun demikian semuanya tetap akan disampaikan dan dinyatakan, sebab memang firman dan kehendakNya dimaksudkan untuk keselamatan umatNya. Segalanya tidak ada yang tersembunyi, segalanya akan dinyatakan seluruh, sebagaimana kita renungkan kemarin, seperti pelita yang memang harus diletakkan di atas kaki dian.

 

 

Collatio :

Ikut menikmati kehadiranNya yang mengalir dalam waktu, bukanlah dengan berdiam diri, tanpa adanya kegiatan. Kita tetap berkarya dalam kesibukan keseharian kita, yang malahan tak jarang pada saat-saat itulah kita mendapatkan pemurnian berkat kehadiranNya. Hal itulah yang pernah disampaikan penulis surat kepada umat Ibrani. Katanya: 'sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya. Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu'.

Pengenalan akan Kristus Tuhan, sang Empunya Kerajaan Allah, memang membuka cakrawala hidup yang lebih luas, paling sedikit seseorang akan semakin mengenal dirinya sendiri. Seseorang akan semakin menganal dirinya dalam perjuangan hidup. Pelbagai tantangan terasa semakin menyentuh, yang sebelumnya dirasakan cukup lewat begitu saja dan tidak menyapanya. Terpaan angin begitu terasa, tidak seperti sebelumnya. Sekarang ini kita semakin merasakan, bahwa kita ada bersama dengan ciptaan lainnya, kita ada bersama sesama, terlebih kita ada bersama Dia, sang Raja.

Di sinilah surat kepada umat Ibrani menegaskan perlu ketekunan dalam perjuangan hidup, atau dalam bahasa Injil hari ini: perlunya kesetiaan dalam mengikuti perkembangan biji sesawi, yang tidak tertangkap oleh indera insani kita.

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau menaburkan benih-benih keselamatan dalam diri setiap orang, tetapi semuanya itu Engkau taburkan dengan lembut dan tidak mengagetkan sama sekali. Namun semuanya itu malahan mengundang kami untuk sabar dan setia menikmatinya.

Yesus dalam terangMu, kami memang semakin mengenal diri kami masing-masing. Kami mengenal ada kami di tengah-tengah pergaulan sehari, baik di tengah alam semesta atau sesama. Buatlah kami semakin mengenal kehadiranMu sendiri. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah'.

Kecil bijinya, tetapi menghasilkan banyak buah, dan seperti itulah hidup yang dikehendaki Allah.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening