Jumat sesudah Penapakan Tuhan 11 Januari 2013




1Yoh 5: 5-13  +  Mzm 147  +  Luk 5: 12-16







Lectio :

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. 

Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. 

Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. 






Meditatio :

'Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku'.

Apakah ini suatu permohonan? Ucapan orang kusta ini adalah sebuah permohonan, karena memang dia merindukan uluran belaskasih Tuhan Yesus pada dirinya. Yang menarik adalah dia sama sekali tidak mengungkapkannya dengan kata-kata permohonan. Sepertinya dia pun tidak disibukkan ataupun digelisahkan dengan sakit yang dideritanya. Apakah dia menyadari kesalahannya sehingga dia harus mengidap sakit kusta? Apakah dia merasa sedang dalam proses penyembuhan? Atau apakah dia sungguh-sungguh menyadari berdiri bahwa sekarang ini dirinya berada  di hadapan sang Empunya kehidupan? Sepertinya orang kusta  ini sungguh-sungguh yakin bahwa Dia sang Empunya kehidupan pasti akan memberi yang terbaik bagi dirinya, walau dia tidak memintanya. Dia Yesus, pasti tahu akan kerinduan hatinya.

'Aku mau, jadilah engkau tahir', kata sambil Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu; dan seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus membuat segala-galanya baik adanya.

Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: 'pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka'. Yesus meminta orang yang telah sembuh kustanya itu bertindak demikian, karena memang itulah aturan main, sebagaimana ditentukan Musa. Yesus amat menghormati segala yang telah ditentukan dalam tradisi keagamaan. Yesus tidak mau melanggar aturan main yang telah ditentukan. Para imam amat menentukan dalam kehidupan bersama, dan orang telah sembuh itu diminta berani bersyukur kepada Tuhan Allah, yang telah memberikan terbaik bagi dirinya. Layaklah seseorang bersyukur kepada Tuhan, dan mempersembahkan kurban pujian atas segala yang baik yang telah diterimanya dari Tuhan. 

Kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Namun Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. Yesus memaksakan diri untuk mencari waktu dan berdoa kepada Bapa di surga. Kemampuan Yesus untuk menjalankan tugas perutusanNya tidak menutup kemungkinan ataupun menghilangkan kesempatan untuk berdoa dan berdoa kepada Bapa di surga. Tugas-tugas suci kita hendaknya tidak menghilangkan panggilan kita untuk terus berani berdoa dan berdoa. Nemo dat quod non habet, tak ada seseorang yang mampu memberi bila memang dia tidak mempunyai apa-apa. Tugas pengudusan mewajibkan diri kita untuk selalu menguduskan diri terlebih dahulu.



Orang kusta  itu sungguh-sungguh yakin bahwa Dia sang Empunya kehidupan pasti akan memberi yang terbaik bagi dirinya, walau dia tidak memintanya. Dia Yesus, pasti tahu akan kerinduan hatinya. Demikian juga kiranya iman kita kepada Yesus sang Empunya kehidupan itu. Yohanes dalam suratnya pertama kembali mengingatkan kita: 'barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai hidup; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Allah menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup'. Kiranya kepercayaan kita kepada Kristus membuat segala-galanya menjadi baik adanya. Kiranya yang kita cari adalah Dia, dan bukan karunia-karuniaNya yang bersifat sementara itu.






Oratio :

Ya Tuhan Yesus, percaya kepadaMu mendatangkan keselamatan, dan membuat hidup kami ini lebih hidup. Tumbuhkembangkanlah iman kami dalam keseharian hidup ini, agar kami merasakan sungguh kehadiranMu yang menyelamatkan.

Ya Yesus, ajaklah kami berani memilih yang terbaik dan terindah dalam hidup ini. Amin. 





Contemplatio :

'Yesus mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa'. 

Berkomunikasi dengan sang Empunya kehidupan akan selalu mengarahkan hidup kita ini kepada yang terbaik dan terindah.












Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening