Rabu sesudah Penampakan Tuhan, 9 Januari 2013




1Yoh 4: 11-18  +  Mzm 72  +  Mrk 6: 45-52







Lectio:


Sesudah pergandaan roti, Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. 

Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.






Meditatio:


Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, dan Ia akan menyuruh orang banyak pulang. Setelah berdoa, dari darat dilihat Yesus, betapa payahnya para murid mendayung perahunya, karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air. Namun mengapa Dia hendak melewati mereka? Bukankah sudah jelas bahwa Dia hendak mendatangi mereka, mengapa harus melewati mereka? Apa supaya terlihat oleh mereka?

Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, berteriak-teriaklah mereka, karena mengira bahwa Ia adalah hantu. Mana mungkin ada seorang manusia berjalan di permukaan air? Apakah mereka pernah melihat hantu, dan apakah hantu bisa berjalan di permukaan air, sehingga mereka langsung menuduh Dia adakah hantu? 'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!', tegas Yesus. Siapakah aku itu? Mereka percaya kalau yang berbicara itu adalah sang Guru, karena mereka sudah terbiasa dengan suaraNya. Terbiasanya mereka, dan kita mendengarkan suaraNya memungkinkan kita mengenal Yesus, sebaliknya tidak terbiasa mendengarkan suaraNya akan mempersulit kita mengenal Dia, walau Dia memanggil dan memanggil kita. 

Atau memang mereka sudah melihat siapakah Dia, tetapi meragukan Dia yang mereka ikuti. Kristus belum menjadi milik mereka. Kristus belum menjadi hidup mereka, karena apa yang mereka alami bersama Kristus belum menjadi pengalaman hidup yang sebenarnya. Pengenalan akan Kristus masih sebatas pengetahuan. Kasih dan perhatian Kristus belum menjadi pengalaman hidup mereka. 


Apakah kita masih sering juga bersikap seperti ini? Pengenalan kita akan Kristus masih sebatas tambahan pengetahuan dalam perjalanan hidup kita? Kasih dan perhatianNya belum menjadi pengalaman keseharian hidup, walau kita merasakanNya? Yohanes dalam surat pertama mengingatkan: 'di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan'. Kekuatiran seseorang menghadapi masa depan menunjukkan bahwa 'ia belum sempurna di dalam kasih'. Perhatian dan kasih Yesus sepertinya dirasakan murid masih sebatas pengalaman insani, sehingga ketika Dia berjalan di permukaan air, yang mengatasi kemampuan insani, merek ketakutan dan berpikir yang tidak-tidak.


Lalu Yesus naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Kedatangan Yesus membuat perjalanan para murid tersa menyenangkan. Bersama Yesus, segalanya menjadi indah dan menyenangkan.







Oratio :


Ya Yesus Kristus, perhatian dan kasihMu terus berlangsung dalam hidup ini. Hanya kepekaan hati yang memang dapat merasakannya. Memang tak jarang, mata kami tak melihatMu, hidung kami tidak menciumMu, lidah kami tidak merasakanMu dan tangan kami tidak merabaMu. 

Yesus semoga pendengaran kami akan sabda dan kehendakMu membantu kami semakin mengenal Engkau.

Santo Andreas Korsini, doakanlah kami. Amin.







Contemplatio :


Aku ini, jangan takut!

Penegasan Yesus ini menyatakan bahwa Dia selalu mengasihi dan memperhatikan kita. Dia memang tersembunyi, tetapi selalu menjaga dan memperhatikan kita. Dia ada di dekat kita.











Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening