Sabtu dalam Pekan Biasa II, 26 Januari 2013

2Tim 1: 1-8  +  Mzm 96  +  Mrk 3: 20-21

 


 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.


 

Meditatio :

Suatu hari Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Kehebatan Yesus sudah terkenal di mana-mana. Banyak orang datang untuk memohon bantuanNya. Semua datang dan datang mencari Dia, walau amat diragukan intensi mereka mencari Dia: apakah ingin selalu ada bersama dengan Dia, sang Mempelai. Memang mereka tidak bisa mengerti waktu bagi Yesus; mereka mendesak dan mendesak menjumpaiNya. Sebaliknya, Yesus juga tidak mau membatasi diri untuk menjumpai mereka. Namun bagaimana mereka bisa mengerti waktu untuk Yesus? Bukankah belum ada sarana telekomunikasi seperti sekarang ini? Mereka datang dari jauh, dan tidak ada pemberitahuan saat-saat mana bisa berjumpa dengan Dia. Bukankah pada saat itu, sungguh-sungguh menguntungkan, bahwasannya mumpung Dia berada di rumah dan kita dapat menjumpaiNya? Demikian juga, bagaimana Yesus mau membatasi diri dan menunda kedatangan mereka. Datangnya banyak orang, membuat seseorang tidak berdaya dalam melayani mereka. Memutuskan tali kerinduan hati akan menjadi ganjalan bagi setiap orang yang datang dan memohon bantuanNya. Itu pastoralia. Namun kiranya, di waktu senggang Yesus pun masih berani mengambil waktu untuk menyendiri dan berdoa (Mrk 1: 35). Bersemuka dengan Allah, berkanjang dalam doa memberikan kekuatan bagi setiap orang dalam karya pelayanan terhadap sesama. Yesus yang penuh wibawa dan kuasa, masih memanfaatkan kesempatan seperti itu.

 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. Hal yang menyakitkan merenungkan Injil ini. Bagaimana Dia yang berkarya demi sesamanya, mendapatkan sebutan sebagai Orang yang tidak waras. Suara-suara seperti itu memang tidak jarang muncul dari orang-orang, yang tidak tahu dengan tepat dan benar sebuah peristiwa, tetapi merasa diri tahu. Metaok ongguh, kata beberapa orang Bangkalan. Apa yang dilakukan Yesus sungguh-sungguh benar dan menyelamatkan orang lain, tetapi tidak mendapatkan sambutan secara positif. Kiranya mungkin masih bisa dimengerti kalau menjadi konsumsi pribadi, tetapi sulit dipahami, bila semua itu dibagikannya kepada orang lain. Character Assassination, kata orang-orang yang sering baca koran-koran harian.

Semuanya itu sepertinya bukan hal yang baru bagi Yesus, sebab ketika 'Dia datang, Ia makan dan minum, banyak orang berkata: lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa' (Mat 11: 19). Ada baiknya, suara banyak orang, yang memang seringkali bukan suara Tuhan, kita teliti kebenarannya. Ke-tidak-mau-tahu-an diri malahan mengaburkan kerinduan diri kita sendiri akan kebenaran.

 

 

Collatio :

'Aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu', kata-kata pujian dan bangga Paulus kepada Timotius. Paulus bangga, karena Timotius sungguh-sungguh berani menumbuhkembangkan dalam menanggapi firman dan kehendak Tuhan, yang diwariskan dalam keluarganya. Malahan Paulus mengajak dia untuk berani bersaksi, 'janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita, dan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah'. Bersaksi itu perlu, sebab bersaksi merupakan wujud nyata bagi seseorang dalam menghayati dan menikmati, mengkonkritkan dan menumbuhkembangkan iman kepercayaan yang dimilikinya. Iman tidak cukup hanya dimiliki dan disimpan dalam bank data hidup, melainkan harus sungguh-sungguh menghasilkan banyak buah (Mat 25). Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia.

Sebutan semacam orang tidak waras lagi, akan juga dialami oleh orang-orang, yang menghayati imannya. Karena memang, dengan iman seseorang berani berserah diri kepada Tuhan, bahkan tidak segan-segannya dia melakukan sesuatu 'seperti unta masuk melalui lobang jarum' (bdk Mat 19: 24), dan semuanya bisa dan akan terjadi dengan baik (Mat 17: 20), sebab tidak ada yang mustahil bagi orang-orang yang percaya (Mrk 9: 23). Suara-suara sumbang seperti itu akan tetap dihadapinya, karena dia percaya bahwa 'Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban'. Iman membuat seseorang benar-benar mandiri.


 

 

Oratio :

Yesus Kristus, banyak orang mencari dan mencari Engkau. Namun di lain pihak, banyak orang yang berkomentar miring terhadap Engkau. Bantulah kami dengan Roh KesabaraMu, ya Yesus, bila kami telah berusaha dan berusaha mendekati Engkau, tetapi banyak orang yang meragukan dan bahkan menertawakan kami.

Santo Timotius dan Titus, doakanlah kami agar siap menjadi orang-orang yang mandiri. Amin.

 


 

Contemplatio :

'Datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat'.

Pelayanan memang membutuh pemberian diri sepenuhnya, yang dilandasi oleh cinta. Sebab cinta itu hanya memberi dan memberi.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening