Selasa dalam Pekan Biasa II, 22 Januari 2013


Ibr 6: 10-20  +  Mzm 111  +  Mrk 2: 23-28







Lectio :

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.  Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu--yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam--dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat." 





Meditatio :

'Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.  Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?'

Memang  secara obyektif para murid melanggar peraturan hari Sabat. Karena memang mereka melakukan kegiatan, dan tidak beristirahat. Bukankah di hari Sabat, setiap orang harus mengkhususkan diri bagi Tuhan Allah Israel, dan beristirahat dari segala  pekerjaaan dan kesibukan? Namun apakah dengan memetik bulir gandum, sebagaimana dilakukan para murid itu, jelas-jelas lagi mengadakan pesta panen? Atau memang mereka sedang mendapatkan borongan untuk menuai? Peristiwa-peristiwa semacam inilah yang sering kita lihat. Ahli-ahli Taurat hanya melihat bungkusnya saja, kita tidak melihat isi dan maksudnya. Para murid langsung dituduh bersalah, karena mereka tidak beristirahat. Namun demikian, orang-orang Farisi masih bertanya dan bertanya mengapa para murid berbuat demikian. 

'Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu--yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam--dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya', jawab Yesus membela para muridNya. Yesus menyadari bahwa para muridNya melanggar aturan hari Sabat, tetapi Yesus memahami para muridNya, yang sepertinya kelaparan pada waktu itu. Lagi pula kesalahan yang mereka lakukan tidaklah mendatangkan maut. Ada Yesus bersama mereka, bagaimana mungkin akan dikuasai maut?

'Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat', tambah Yesus. 

Yesus bukannya ingin merelativir aneka peraturan bersama, melainkan hendak menegaskan, bahwasannya kita berani melihat segala peristiwa hidup dengan bijaksana. Kita tidak bisa melihat peristiwa hidup, yang ada di depan kita, hanya berdasar pikiran dan akal budi kita, atau malahan sebatar emosi jiwa kita pada waktu itu. Emosi jiwa yang tidak senang akan kehadiran Yesus, kiranya mewarnai pertanyaan orang-orang Farisi terhadap Yesus. 





Collatio :

Hari Sabat memang luar biasa kekuatannya bagi orang-orang Israel,  yang mengenang belaskasihan Allah kepada umatNya. Hanya memang tidak dapat disangkal, praktik-praktik cinta kasih seringkali dikalahkan, dan nilai-nilai manusiawi pun ditiadakan.

Kita tidak mengenal hari Sabat, karena memang kita bukan orang-orangYahudi, tetapi seringkali kita dibelenggu oleh hari-hari baik, yang seringkali mengingatkan kita, untuk tidak melakukan ini dan itu, tetapi sebaliknya mengharuskan melakukan sesuatu pada hari ini atau hari itu. Sebagai orang beriman, malahan kita lupa akan hari Tuhan, kita lebih percaya akan hari-hari baik; yang tak dapat disangkal malahan mereka yang gemar dengan lagu 'hari ini harinya Tuhan', melawan apa yang mereka percayai. Kita sering bertindak sebagai orang-orang Yahudi baru, dan bukannya Israel baru. Inilah ketidaksetiaan kita kepada sang Empunya hidup. Kita tidak menghayati pengharapan yang telah  kita tumbuh kembangkan selama ini. 'Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita', sebagaimana dikatakan dalam surat kepada umat Ibrani, tidak lagi kita hayati sebagaimana mestinya.

Tak jarang kita pun melanjutkan kepercayaan kita akan hari-hari baik itu dengan menduakan Tuhan. Mereka yang percaya akan hari-hari baik, sebenarnya tidak perlu lagi aneka upacara berkat; sebab bukankah dengan memanfaatkan hari-hari baik, semuanya akan menjadi baik adanya? Bukankah itu yang diinginkannya? Namun itulah yang dilakukan banyak orang.

Pengalaman orang-orang Farisi kiranya menjadi pengalaman kita bersama, bahwa aliran waktu yang kita nikmati adalah baik adanya. 'Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat', dan Dia pun telah menikmati aliran waktu itu dengan bijak. Yesus yang berkuasa atas ruang dan waktu mau mengikuti aliran waktu dan berdiri atas ruang hidup.

Bukan hari yang menyelamatkan kita, tetapi Tuhan sang Empunya kehidupan. Sangat tepatlah, kita serahkan segala rencana dan program kita yang mengalir dalam ruang dan waktu itu kepada sang Penguasa kehidupan ini.







Oratio :

Ya Tuhan Yesus, Engkau sang Empunya kehidupan. Engkau menentukan segala-galanya. Semoga hari demi hari kami semakin berani berserah kepadaMu, sebab Engkau yang berkuasa atas hidup dan mati kami. Kiranya kami semakin berani melangkahkan kaki dalam urutan waktu demi waktu, dan bukannya terbawa arus ke mana dunia mengalir.

Yesus, teguhkanlah kami agar GerejaMu pun semakin menjadi tanda persatuan dan kesatuan di dunia ini. Satukanlah seluruh umat Kristen yang dalam payung kasihMu. Amin.





Contemplatio :

'Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat'.

Allah menjadi Manusia dan tinggal di antara kita. Baikah kalau kita percaya dengan sepenuh hati, dan bukan dengan aneka syarat.












Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening