Jumat dalam Pekan Prapaskah II, 1 Maret 2013


Kej 37: 17-28  +  Mzm 105  +  Mat 21: 33-43.45-46



 

 

 

Lectio :

Yesus bersabda: "Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.

Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?" Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya."

Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu".

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.


 

 

Meditatio :

Penggarap-penggarap itu adalah orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu berterima kasih. Sebab bukankah mereka itu hanya para pekerja yang mendapatkan kepercayaan? Seharusnya mereka menggunakan kepercayaan yang diberikan kepada mereka. Kepandaian dan ketrampilan menjadi modal dalam bekerja, tetapi akan sungguh bermakna dan langgeng, bila ada kepercayaan yang diberikan.

'Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya'. Itulah pendapat banyak orang, dan pendapat itu benar adanya. Orang yang bertanggunggungjawab adalah orang yang mengambil sesuatu yang menjadi bagiannya, dan menyerahkan bagian yang menjadi milik orang lain. Dia tidak merebut, yang memang bukan haknya. Dia tidak tamak dan rakus. Dia bukan seorang koruptor. Kiranya dunia kerja menjadi bahan permenungan dalam mengolah kesetiaan guna mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya.

'Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu'.

Penegasan Yesus ini menyatakan program  kehendak Allah yang penuh belaskasih, yang tidak mendapatkan tanggapan dari orang-orang, yang mengakui diri umat milik Allah. Allah tidak segan-segan mengalihkan rencana keselamatan itu, dan memberikannya kepada orang-orang lain. Keselamatan adalah pilihan hidup. Kiranya Tuhan Allah yang berbelaskasih tetap memberi kesempatan pertama dan utama kepada orang-orang yang dikasihiNya, sembari membuka kesempatan bagi setiap orang yang berkehendak baik untuk mendapatkannya. Kita ingat pengalaman Elia bersama janda di Sarfat, Elisa bersama Naaman, Yesus sendiri bersama perempuan Siro Fenesia itu; demikian juga pada akhirnya Paulus bersama-sama orang-orang yang tak bersunat. Keselamatan yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia membutuhkan kesetiaan orang berani menikmatinya, terlebih bila perhatian istimewa diberikan oleh Tuhan sendiri.

'Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi'.

Mereka imam-imam kepala dan orang-orang Farisi merasa sungguh, bahwa diri merekalah para penggarap-penggarap kebun anggur itu, mereka adalah tukang-tukang bangunan yang melemparkan sang Batu yang hidup itu. Tidaklah demikian dengan banyak orang yang sepertinya tidak merasa terhantam dengan penyataan Yesus, karena memang mereka bukanlah tukang-tukang bangunan; sebaliknya justru mereka adalah orang-orang yang merindukan belaskasih Allah. Mereka sepertinya semakin mampu membedakan orang-orang yang duduk di kursi Musa itu, yakni antara yang mereka ajarkan dan perbuatan mereka (Mat 23: 2-3).

 

 

 

Collatio :

Pengalaman Yusuf yang dibuang oleh saudara-saudaranya (Kej 37) menjadi sebuah representasi sang Batu, yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan. Apakah menyenangkan menjadi seorang Yusuf?

Pertama, pasti menyenangkan, karena menjadi orang pilihan Tuhan. Yusuf mendapatkan perhatian istimewa dari sang ayah. Dia selalu dimanjakan oleh sang ayah, melebihi perhatian terhadap saudara-saudaranya. Demikian Yesus Kristus, Orang Nazaret itu, sebab Dialah Anak yang dikasihi Bapa, dan kepadaNyalah Bapa berkenan (Mat 3: 17).

Kiranya adanya pelbagai karunia yang kita nikmati, hendaknya semakin membuat kita berani bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan. Kasih Tuhan dimaksudkan, agar setiap orang semakin merasakan damai dan kasihNya, dan membuat seseorang berani bersyukur kepada sang Empunya kehidupan, dan berani memandang sesamanya dalam senyuman kasih, karena dia hidup dalam kemapanan dan tidak berkekurangan. Semuanya itu semakin memampukan dirinya untuk berbagi kasih terhadap sesama; dan bukannya seperti para penggarap yang tidak tahu berterima kasih. Harus kita akui memang, ada banyak anugerahNya yang membahagiakan, tapi tak jarang kita pun harus berani berjuang untuk mengambilnya, dan setiap orang dituntutNya. Pelbagai anugerah Tuhan tak pernah dilemparkanNya dari atas sana. Tuhan amat santun dalam menghormati segala kemampuan yang dimiliki umatNya.

Kedua, menjadi Yusuf berarti seseorang siap menghadapi tantangan. Yusuf semenjak awal pasti merasakan, bahwa dia kurang mendapatkan sapaan ramah dan menyenangkan dari para saudaranya. Yusuf pasti menyadari akan hal itu. Tingginya pohon memungkinkan dia menerima terpaan angin yang menguat. Dia pun pasti merasakan pengalaman yang lebih pahit juga akan diterimanya. Demikian seorang Yesus, Anak Manusia yang sadar bahwa diriNya 'akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan' (Mat 20: 18-19). Yesus siap sedia menerimanya, karena memang Dia datang bukan untuk melakukan kehendakNya sendiri, melainkan untuk melakukan kehendak Bapa yang mengutusNya.

Orang yang siap sedia melayani pun dihadapkan pada aneka tantangan. Dia sudah berusaha memberikan diri dalam karya pelayanan kasih, tetapi tetap diminta menghadapi aneka tantangan. Pertama, karena masing-masing orang mempunyai kehendak bebas yang satu berbeda dengan lainnya, dan tidak selalu satu pikiran dan satu hati dalam kebersamaan; dan kedua, karya pelayanan seseorang tidak mampu memaksa Tuhan Allah harus membelai dan memangku dirinya, sebagaimana kita renungkan bersama Yakobus dan Yohanes anak-anak Zebedeus. CawanKu akan kamu minum, tetapi duduk di sebelah kanan atau kiriKu, akan diberikan kepada orang-orang Bapa berkenan.

 


 

Oratio :

Ya Yesus, jadikanlah kami orang-orang yang tahu berterima kasih dalam hidup ini. Berterimakasih atas kepercayaan yang Engkau berikan kepada kami melalui sesama yang selalu membantu dan menolong kami.

Semoga misteri keselamatanMu selalu kami nikmati, bukan dengan mengulang kekerasan hati umatMu, melainkan dengan melakukan tugas dan panggilan hidup kami dengan sebaik mungkin. Yesus, tolonglah kami selalu, dan kuduskanlah jiwa kami. Amin.

 



 

Contemplatio :

'Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu'.

Lebih baik kita nikmati dengan penuh syukur.

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening