Jumat sesudah Rabu Abu, 15 Februari 2013

Yes 58: 1-9  +  Mzm 51  +  Mat 9: 14-15

 

 

 

Lectio :

Pada suatu kali datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

 

 

Meditatio :

'Pada suatu kali datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?.  Jawab Yesus kepada mereka: dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa'.

Berani juga para murid Yohanes mempersoalkan sesama murid yang tidak berpuasa. Bukankah mereka sama-sama sebagai murid? Mengapa mereka para murid Orang Nazaret itu tidak berpuasa? Mereka tidak menantang para murid, melainkan langsung pada sang Guru. Apakah ada aturan baru? Bukankah puasa itu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan sukarela?

Sahabat-sahabat Mempelai memang tidak mungkin berpuasa selama sang Mempelai ada bersama mereka. Selama ada bersama Anak Manusia, para murid tidak perlu berkuasa. Bukankah berpuasa itu pengendalian diri dari aneka keinginan insani, agar mampu mengarahkan diri pada Dia sang Empunya kehidupan? Dan kini mereka bersama sang Empunya kehidupan dan Pemberi keselamatan, masih haruskah mereka berpuasa?

 

 

Collatio :

Berpuasa pada umumnya berarti tidak makan dan minum dalam jangka waktu tertentu; dan lebih luas lagi mempunyai arti pengendalian diri atas kecenderungan jiwa raga yang ingin mencari kepuasan diri. Secara positif Yesaya (bab 58) merenungkan berpuasa yang dikehendaki Tuhan Allah ialah 'membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk'. Kita tidak boleh menjajah dan memperbudak orang lain, yang memang tidak memberi kebebasan kepada orang lain untuk bertindak seturut kemauan mereka. Memaksakan kehendak diri pada orang lain adalah perbudakan psikologis. Kita berpuasa atas nafsu kuasa. Prinsip subsidiaritas harus diterapkan dalam usaha memelekan sesama untuk melihat dunia yang lebih indah, untuk mengentaskan orang lain dari kemiskinan, dan untuk mencerdaskan sesama dalam memerangi kebodohan. Hendaknya tidak membuat orang bergantung pada diri kita, sebaliknya kita membantu mereka untuk semakin menemukan kehidupan. Berpuasa dalam pergaulan sehari-hari berarti tidak memaksakan kemauan diri terhadap orang lain, malahan memberi kebebasan kepada orang lain untuk berbicara dan berpendapat, menerima dan mendengarkan orang lain, memilih keputusan untuk bertindak dan berkarya.

Berpuasa berarti 'memecah-mecah roti bagi orang yang lapar, memberi tumpangan kepada para gelandangan, memberi pakaian bagi mereka yang telanjang, dan tidak menyembunyikan diri terhadap sesama' (lih. Mat 25: 31-46). Kita diajak untuk berani berbagi kasih dengan segala kemampuan yang kita miliki. Kita diminta untuk berpuasa dari kerakusan diri, kita harus berani membuka diri terhadap sesama, malahan sukacita yang kita nikmati ini hendaknya dapat dinikmati oleh orang-orang yang ada di sekitar kita.  Janganlah kita membangun rumah megah di tengah-tengah daerah kumuh.

Berpuasa berarti bersikap dan bertindak penuh kasih, karena bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan dinikmati oleh sesama dalam hidup persaudaraan.

Berpuasa sebagaimana yang dikehendaki Tuhan ini sungguh-sungguh mendatangkan berkat dan rahmat. 'Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu'. Seseorang akan menikmati sukacita, damai dan kegembiraan rohani yang luar biasa. Allah hadir dalam diri orang itu; dia sungguh-sungguh dikuasai oleh kasih karunia Allah. 'Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: ini Aku!'. Tuhan sungguh-sungguh menaruh perhatian kepadanya. Buah-buah doa dan persahabatannya dengan Allah benar-benar terasa dan dinikmati dalam keseharian hidup, bukan untuk dirinya sendiri malahan juga bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, bersamaMu kami tidak perlu berpuasa dan berpantang. Karena kelekatan kami akan dunia ini, sekarang ini Engkau mengundang kami untuk berpuasa dan berpantang, sembari merenungkan misteri penyelamatanMu dalam jalan salib kehidupan. Ajarilah kami untuk berani menahan diri dan tidak mudah mengumbar nafsu, terlebih di saat-saat kami sedang mempunyai kuasa untuk memerintah dan kemapanan hidup dibanding sesama kami.

Yesus jadikanlah kami menjadi sesama bagi orang lain. Amin.

 

 


Contemplatio :

'Waktunya akan datang, Mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa'.

Ada bersama Yesus berarti hidup kita dalam pimpinan sang Kehidupan sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening