Pesta Takhta Santo Petrus, 22 Februari 2013


1Pet 5: 1-4  +  Mzm 23  +  Mat 16: 13-19

 

 

 





Lectio :

Pada suatu kali Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"

Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."


 

 

Meditatio :

'Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?', tanya Yesus kepada para muridNya. Sejauhmana pengenalan mereka, dan khalayak umum, tentang diriNya. Sebab memang Yesus selama ini tidak mau menyebut siapakah diriNya. Dia hanya menyatakan diri dalam sikap dan tindakan. Pertanyaan itu hendak mempertanyakan sejauhmana mereka merasakan dan mengalami kehadiran Allah yang ada di tengah-tengah mereka.

'Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi'.  Itulah pengenalan banyak orang terhadap Yesus. Mereka merasakan sungguh bahwa Allah hadir di tengah-tengah mereka. Mereka merasakan bahwa Dia sang Empunya kehidupan mengutus seorang nabiNya ke tengah-tengah mereka. Mereka tidak mampu menyebut siapakah Dia sesungguhnya. Mereka hanya membanding-bandingkan dengan pengalaman kaum keluarga dan leluhur mereka. Mereka membandingkan dengan nabi, karena mereka melihat Allah sungguh-sungguh mengirim UtusanNya ke tengah-tengah mereka.

Yesus bertanya kepada mereka guna mempertajam persoalan: 'apa katamu sendiri, siapakah Aku ini?'. Mereka ditanya demikian, karena memang mereka mengalami perjumpaan secara istimewa. Bukankah mereka selalu bersama-sama dengan Dia? Bukankah mereka selalu mendengarkan suaraNya setiap hari dan makan bersama dengan Dia? Mereka harus mampu menyebutkan secara lebih tepat dan benar, dibanding dengan mereka orang-orang yang mengalami perjumpaannya secara terpotong-potong.

'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!', tegas Simon Petrus. Sungguh hebat pengenalan para murid, khususnya Simon Petrus. Namun lebih dari itu, pengenalannya itu sebenarnya adalah rahmat dan berkat Allah Bapa sendiri yang dianugerahkan kepada Simon. 'Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga'. Benarlah pernyataan ini, bahwasannya iman dan pengenalan seseorang kepada Tuhan itu adalah suatu usaha seseorang dalam mendekatkan diri kepada Allah, tetapi tidak disangkal, bahwa semuanya itu juga merupakan anugerah Tuhan, yang diberikan kepada yang seorang berbeda dengan lainnya. Kemungkinan besar, Simon Petrus, dibanding para murid lainnya, memang lebih mengenal Yesus Anak Allah yang hidup.

'Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga', tegas Yesus. Simon mendapatkan kepercayaan dalam mendirikan GerejaNya yang kudus. Gereja, yang berjalan dalam sejarah kehidupan, yakin bahwa kuasa itu dilanjutkan juga kepada para pengganti Simon. Sebab Gereja yang didirikanNya adalah Gereja yang berziarah menuju kepenuhannya di akhir jaman. Dia tidak mendirikan Gereja, yang dimakan oleh ruang dan waktu. Gereja yang dibangun adalah umatNya yang abadi dan kekal, yang berziarah dalam sejarah dunia yang diciptakanNya.

 

 

Collatio :

Hari ini adalah pesta Takhta Suci santo Petrus. Pesta ini mengenangkan bahwa Gereja hadir adalah kehendak dan kemauan Tuhan Yesus sendiri. Gereja harus menjadi sakramen keselamatan bagi dunia dan isinya. Gereja yang dikehendakiNya adalah satu, kudus, katolik dan apostolik. Satu, karena sebagai alatNya, maka harus ada  kesatuan hati dan suara. Bagaimana mungkin menyampaikan kehendak Allah, bila Gereja terpecah-pecah tanpa ada kesatuan dan persatuan. Kudus, karena alatNya Dia yang adalah kudus. Katolik karena membuka diri sebagai sakramen bagi dunia, bagi seluruh umat manusia, dan apostolik, karena harus selalu mewartakan sabda dan kehendak Tuhan Allah.

Takhta Petrus adalah takhta kesatuan dan kepemimpinan, dan bukanlah kekuasaan. Mereka semua yang menyatukan diri dalam karya pastoral/penggembalaan ambil bagian dalam karya pelayanan kasih. Untuk itulah, Petrus sebagai seorang gembala yang pertama dipilih oleh sang Pendiri Gereja, mengingatkan: 'Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu'.

Kesetiaan para gembala tentunya akan mendatangkan berkat bagi mereka semua, karena memang tugas perutusannya menghantar semua orang kepada kekudusan, tujuan perziarahan Gereja sendiri. 'Apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu'.

 

 

Oratio :

Ya Yesus, Engkau telah mendirikan GerejaMu di atas padas para Rasul. Kami mohon berkatilah dan dampingilah selalu dengan Roh KudusMu, para gembala kami yang selalu memberikan perhatian dalam pelayanan GerejaMu. Semoga Engkau sendiri menjadi penghiburan dan sukacita bagi mereka. Amin.

 


 

Contemplatio :

''Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!'.

Yesus memang adalah Tuhan Allah yang menjadi manusia. Dia mendekati kita, karena kasihNya kepada kita.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening