Pesta Yesus dipersembahkan dalam kenisah, 2 Februari 2013


Mal 3: 1-7  +  Mzm 24  +  Luk 2: 22-32

 

 

 

Lectio :

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, Yesu dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

 

 

Meditatio :

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: 'semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah'. Yusuf dan Maria adalah orang-orang yang taat pada peraturan agama. Tak dapat disangkal, kedua pribadi ini mempunyai hubungan istimewa dengan sang Empunya kehidupan, tetapi mereka tetap menjalankan kewajiban agama yang mereka hidupi. Anak, yang dikandungnya, dikenal sungguh oleh Maria, demikian juga oleh Yusuf, tetapi mereka tetap mempersembahkan dan menguduskan bagi Allah, karena memang Dia adalah milik Allah. Biarlah Dia hidup hanya demi Allah, dan melakukan kehendakNya.

Mereka datang ke kenisah 'untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati'. Apalah arti persembahan itu bagi Yusuf dan Maria, yang mempunyai keakraban dengan sang Khalik, yang kepadaNyalah mereka  mengamini kehendak dan kemauanNya. Namun di situlah, kedua orang suci ini menghayati imannya; menunjukkan kerendahan hati seperti Anak Manusia yang diasuhNya. Dia, yang adalah Allah tidak terikat dalam aliran ruang dan waktu, mau merendahkan diri dan diatur oleh ruang dan waktu, demikian pula Yusuf dan Maria. Mereka merundukkan diri, dan masuk dalam dunia, sembari mengarahkan dunia kepada sang Empunya. Kehidupan mereka menjadi wadah bagi sang Anak Manusia dalam menikmati hidup, karena mereka bertigalah adalah keluarga Nazaret.

Di Yerusalem ada seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 'sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel'.

Pernyataan Simeon memberi kesaksian siapakah Anak Manusia yang hendak dipersembahkan ini: Dia adalah Mesias. Dia adalah keselamatan, karena memang Dia datang membawa keselamatan bagi seluruh umatNya. KehadiranNya membawa sukacita dan pengharapan bagi bangsa-bangsa, bahwa Allah sang Empunya kehidupan itu sungguh datang ke tengah-tengah umatNya. Berkat kehadiranNya, semua bangsa akan mengetahui, bahwa benarlah keselamatan itu berasal dari bangsa Yahudi, Israel (Yoh 4: 22), karena memang Dia, Allah yang berkuasa atas hidup dan mati itu, turun ke dunia menjadi manusia, melalui bangsa Israel, sebagai Orang Yahudi.

Simeon menyatakan semuanya ini, bukan dari dirinya sendiri, melainkan oleh Roh Kudus yang menyatakan dalam dirinya. Roh Kudus menyatakan diriNya melalui Simeon, orang sucinya; yang mana Roh yang satu dan sama itu akan menyatakan siapakah Anak Manusia ini sesungguhnya, yakni ketika Dia mendapatkan baptisan dari Yohanes Pembaptis: 'inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan' (Mat 3: 17). Dia adalah Anak, karena memang Dia menyatakan diri sebagai seorang Anak Manusia, yang bisa dilihat dan dipandang secara kasad mata.

 

 

Collatio :

'Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku!',  sabda Tuhan melalui nabi Maleakhi. Siapakah yang dimaksudkan? Apakah Yohanes Pembaptis atau Simeon? Simeon menjadi utusanNya, karena dia selalu mengungkapkan kerinduannya terhadap sang Mesias. Dengan sadar dia belum diijinkan menikmati kematian badani, bila belum memandang sang Empunya kehidupan. 'Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam'. Dialah Yesus, yang datang mengunjungi Simeon, yang merindukan kedatanganNya. Dia datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada Simeon, bahwa hatinya akan mendapatkan kelegaan. Dia memasuki rumahNya yang kudus secara tiba-tiba dan mendadak.

Namun 'siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri?'. Apakah Dia menakutkan, atau menghajar setiap orang? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN'.

Bukannya Dia menakutkan dan menggentar banyak orang, melainkan malahan menantang setiap orang berani menjumpaiNya dengan sepenuh hati. Dia membawa keselamatan,dan setiap orang diminta  mempersiapkan diri untuk menyambutNya. Janganlah ada seseorang yang kecelek (Jawa: keliru dan malu tersipu-sipu), karena tidak adanya persiapan diri. Dia memurnikan, mentahirkan dan menyucikan, karena memang dalam menikmati keselamatan, yang diminta adalah kesucian hati dan budi.

Inilah tanggungjawab pribadi dari setiap orang, yang semuanya tidak menepis dan menghilangkan kewajiban bersama sebagai anggota komunitas, baik itu keluarga atau pun lingkungan di mana kita berada, sebagaimana Yusuf dan Maria yang tahu menempatkan diri di hadapan Tuhan dan sesama. Pesta Yesus dipersembahkan di dalam kenisah menunjukkan betapa terkaitnya relasi pribadi seseorang dengan Tuhan tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan bersama sebagai komunitas. Relasi istimewa dengan sang Empunya kehidupan menyemangati seseorang dalam menghayati komunikasi dan kewajiban pribadi sebagai anggota komunitas (bdk. 1Yoh 4: 20).

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau dipersembahkan oleh kedua orangtuaMu, karena memang mereka mengasihi Engkau. Mereka begitu memberi perhatian padaMu. Maria dan Yusuf tahu sungguh batas-batas mereka dalam mendampingi Engkau. Mereka tahu bahwa Engkau adalah anggota keluarga, dan sekaligus tanggungjawab luhur mereka.

Yesus, semoga kami pun semakin hari semakin berani memberi hati kepadaMu, sehingga kami pun boleh menikmati sukacita sebagaimana dialami oleh Simeon, orang suciMu. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah'.

Bukan soal laki-laki, tetapi hendaknya setiap orang memang harus berani menguduskan diri di hadapan Allah.

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening