Selasa dalam Pekan Biasa IV, 5 Februari 2013


Ibr 12: 1-4  +  Mzm 22  +  Mrk 5: 21-43







Lectio :

Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. 

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. 

Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" 

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. 

Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.





Meditatio :

Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. 

Suatu permintaan yang penuh kepercayaan dari seorang kepala rumah ibadah, yakni Yairus. Dia percaya bahwa Yesus dapat melakukan yang baik bagi keluarganya. Dia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan anaknya yang sedang sakit parah dan hampir mati. Dari manakah dia tahu tentang Yesus? Sebagai seorang kepala rumah ibadat, yang sedikit banyak mengenal Kitab Suci, apakah dia yakin bahwa Yesus, Orang Nazaret ini adalah Mesias? Orang banyak tidak membiarkan mereka pergi sendiri, mereka beramai-ramai hendak datang ke rumah sang kepala rumah ibadat itu.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. 

Iman akan Yesus membuat segala-galanya menjadi baik dan indah adanya. Itulah yang dinikmati seorang perempuan yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan. Ia sembuh dan sehat kembali karena percaya. 'Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh'. Itulah iman kepercayaannya. Rumusan singkat yang sengaja dia pakai, karena dia mengalami kesulitan untuk berjumpa dan berbicara dengan Yesus; dan sepertinya tak mungkin terjadi mengingat  banyaknya orang yang mengikuti Dia. Menjamah Dia dalam keadaan seperti ini adalah tindakan yang paling mudah

Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" 

Apakah Yesus tidak tahu siapa yang menjamahNya, jika perempuan itu

tidak datang mengakui perbuatannya? Mungkinkah perempuan itu tidak jujur, dan berdiam diri tidak memberitahukan apa yang telah dilakukan dan terjadi pada dirinya? Lalu apakah Yesus mempunyai maksud tertentu dengan bertanya demikian? Apakah Dia mau memamerkan sesuatu tentang diriNya? Perjumpaan dengan sang perempuan itu bukanlah program Yesus. Yesus datang bukan untuk menjumpai dia. Yesus berjumpa dengan perempuan itu, karena perempuan itu percaya akan kasih Allah. Perempuan itu berjumpa dengan Yesus, karena imannya akan kehidupan, dan Dia yang dihadapinya ini adalah Yesus, Seorang yang mampu membuat segala-galanya menjadi baik adanya. Iman itu menghidupkan, dan lebih dari itu, dia sang perempuan itu, malahan mendapatkan berkat keselamatan. Iman telah menyelamatkan sang perempuan, yang percaya akan kasih Allah itu.

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. 

Yesus melarang semua orang terus mengikutiNya demi lancarnya perjalanan. Yesus hanya mengijinkan ketiga muridNya. Mengapa hanya mereka bertiga? Ke manakah para murid yang lain? Kematian adalah akhir perjalanan hidup manusia. Anak Yairus telah meninggal. Dia telah mengakhiri hidupnya. Mengapa masih merepotkan Yesus? Sepertinya mereka belum beriman bahwa Yesus Mesias adalah 'kebangkitan dan hidup' (Yoh 11: 25).

Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" Tetapi mereka menertawakan Dia. 

Pernyataan Yesus bahwa anak itu masih hidup, memang tidak mengenakan untuk didengar. Wajarlah mereka menertawakan Dia. Pandangan Tuhan berbeda dengan pandangan kita manusia, dan inilah yang seringkali menyulitkan banyak orang untuk berani berserah diri kepadaNya. Kemampuan manusia sebatas akal budi yang dimilikinya; yang sebetulnya tidaklah boleh demikian, bila seseorang percaya kepadaNya.

Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. 

Terjawablah kerinduan hati Yairus beserta isterinya bahwa anaknya akan sembuh dan sehat kembali. Dia bukan saja meletakkan tangan dan menjamah anaknya, melainkan memegang tangannya. Yesus, bukan saja menyembuhkan sang anak perempuan itu, melainkan menyelamatkan. Dia, sang Mesias, sungguh-sungguh kebangkitan dan hidup.

Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Yesus sepertinya menginginkan  semua orang mengenal siapakah diriNya kelak pada waktu Dia ditinggikan (Yoh 12: 32), karena memang pada saat itulah Dia dimuliakan dan menjadi tebusan bagi seluruh umat manusia. Kasih Allah memuncak dalam peristiwa salib.





Collatio :

Menjamah Yesus, itulah keinginan sang perempuan tadi dan mendatangkan berkat; demikian sebaliknya agar Yesus menjamah anaknya supaya sembuh, sungguh terjadilah keinginan Yairus, pemimpin rumah ibadat itu. Menjamah Yesus adalah  sebuah ungkapan iman, karena memang memerlukan usaha dan kemauan diri yang amat teguh. Seseorang harus yakin bahwa apa yang hendak dilakukan itu mendatangkan hasil yang indah, dan terlebih dia percaya sungguh bahwa kasih Tuhan begitu besar terhadap umatNya. Menjamah Yesus adalah ungkapan iman, dan Yesus pun tahu itu: 'imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!'.

Sebaliknya jamahan Yesus adalah jawaban kerinduan hati seseorang akan belaskasih Allah. Seperti Yairus tadi yang merindukan belaskasih Allah; dia mengharapkan agar Yesus mau datang ke rumahnya dan menjamah anaknya yang sakit. Dia menganugerahkan hal yang terindah bagi keluarganya. 

Kiranya tidak perlu dipersoalkan siapakah yang harus menjamah dan mendahului, melainkan kasih Allah, yang maha murah, memang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang percaya dan merindukanNya.

'Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah'. Pernyataan surat kepada umat Ibrani benar-benar mengingatkan betapa luhurnya iman kepercayaan kita kepadaNya. Iman akan membuat kita sempurna dan layak berdiri di hadapan Dia sang Empunya kehidupan ini. Hendaknya kita semakin hari semakin berani berlomba untuk mengenal dan mendekati Dia.






Oratio :

Yesus Kristus, iman kepercayaan akan Engkau sungguh-sungguh mendatangkan berkat. Segalanya dapat terjadi dengan indah dan sempurna, hanya karena iman kepercayaan kepadaMu, yang memang membuatnya segala baik adanya. Bantulah kami, ya Yesus, dalam setiap karya usaha, agar kami mampu mewarnainya dengan iman kepadaMu.

Dan secara khusus, bantulah para saudara kami yang sampai hari ini harus berbaring sakit, semoga Engkau memperteguh iman mereka, sehingga mereka semakin yakin bahwa dalam salibMu ada kehidupan dan kemuliaan. Amin.





Contemplatio :

'Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh'.

Inilah iman. Segala keterbatasan dan kelemahan tidak menghalangi untuk mendapat sesuatu yang indah dan menyenangkan dari sang Empunya kehidupan.









Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening