Selasa dalam Pekan Prapaskah II, 26 Februari 2013


Yes 1: 16-20  +  Mzm 50  +  Mat 23: 1-12


 

 

 

Lectio :

Pada suatu kali berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan".

 

 

Meditatio :

'Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya'.

Ajakan Yesus ini amatlah tegas, agar para murid dan semua orang yang mengikutiNya, mentaati ajaran yang disampaikan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dan bukannya perbuatan-perbuatan mereka. Mereka harus ditaati, karena mereka menduduki kursi Musa, artinya mereka mempunyai otoritas dalam pengajaran agama dan sosial bagi orang-orang Israel. Mereka itu tidak ubahnya adalah para guru dalam tradisi keagamaan di tengah-tengah bangsa Yahudi.

Namun hendaknya tindakan dan perbuatan mereka tidaklah patut dicontoh, karena, pertama 'mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya'. Kedua,  'semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang, seperti: mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang, mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat'. Ketiga, 'mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil rabi'. Inilah ketiga dosa, kelemahan dan kekurangan mereka. Bukannya mereka lakukan di bawah kesadaran, melainkan dilakukan secara sengaja. Semuanya itu mereka lakukan hanya untuk mendapatkan pujian dari orang-orang, yang ada di sekitar mereka. Kemunafikan hidup sungguh-sungguh telah menghinggapi mereka, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka tidak hidup dalam kenyataan, melainkan dalam dunia maya, dunia penuh kepalsuan.

Sekali lagi, Yesus meminta para murid untuk tidak mengikuti perbuatan mereka. Malahan Yesus pun mengingatkan mereka, agar 'jangan mau disebut rabi; karena hanya ada satu Rabi dan kamu semua adalah saudara'. Rabi para murid adalah Yesus sendiri, yang memberi pengajaran kehidupan. Hanya sang Guru dari Nazaret yang memberi dan mengarahkan setiap orang pada kehidupan abadi.  

'Janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga', karena memang Dialah sang Pencipta segala sesuatu, dan Dialah sang Empunya kehidupan. Hanya pada Bapa di surga, kita mengarahkan seluruh hati dan budi kita. Namun penyataan ini tidaklah dimaksudkan agar mengabaikan bapa atau orangtua kita. Mereka harus tetap kita hormati dan cintai. Bapa yang dimaksudkan Yesus adalah Dia sang Empunya kehidupan ini.

'Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias', karena memang Dialah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada orang sampai kepada Bapa, tanpa melalui Dia (Yoh 14: 6).  Hanya Yesus Tuhan yang menyelamatkan seluruh umat manusia.

Permintaan Yesus ini benar-benar mengajak para muridNya, kita semua, untuk tidak mencari jabatan atau  kedudukan, yang seringkali hanya untuk mendapatkan kepuasan diri. Sebaliknya, sebagaimana Dia sendiri datang, bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, demikian juga hendaknya kita semua, murid-muridNya. 'Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu'. Kebesaran dan keagungan seseorang, bukanlah berdasarkan jabatan yang dimiliki, melainkan karya pelayanan kasih yang dapat diberikan kepada sesama.  Kesuksesan seseorang hanya berdasarkan keberanian dalam berbagi dengan sesama, kata sebuah reklame di media massa. 'Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'. Orang akan menjauhi dan tidak memberi perhatian kepada mereka, yang hanya mencari kehormatan diri. Banyak orang sudah enggan dengan mereka yang suka memberi wacana, tetapi tidak menyampaikan tindakan. Orang enggan terhadap NATO, no action talk only. Allah pun bersikap dan bertindak demikian, sebagaimana dikidungkan oleh Maria, hamba Allah. 'Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah' (Luk 1: 51-52).

 

 

Collatio :

Bagaimana dengan kita? Pernahkah kita bersikap dan bertindak seperti orang-orang Farisi dan para ahli Taurat? Pasti pernah. Keinginan kodrati setiap orang untuk mendapatkan perhatian tak jarang menggelora dalam hidup. Tak jarang, kita memaksa orang lain memperhatikan dan menjaga kita, sehingga berkebalikan sungguh dengan spiritualitas hidup sang Guru, yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

Masa Prapaskah mengajak kita untuk kembali memutar balik haluan hidup kita, yang tentunya sesuai dengan Dia yang kita ikuti, yakni Dia yang datang untuk melayani, bahkan memberi nyawanya menjadi tebusan bagi seluruh umat manusia. Kita harus berani memutar balik, karena memang pada dasarnya semua orang tercipta baik adanya, malahan berkat sakramen baptis setiap orang beroleh panggilan baru sebagai putera-puteri Bapa di surga.

Allah yang berkepentingan menyelamatkan umatNya, melalui nabi Yesaya, mengajak: 'basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! Marilah, baiklah kita beperkara! Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang'.

Pertobatan hanyalah dilakukan oleh orang-orang yang rendah hati, karena memang bukan pujian yang dicari melainkan keselamatan hidup. Sebab orang-orang yang bertobat adalah mereka yang mau menyesuaikan kata-kata dan perbuatannya, mereka yang mau menjabarkan imannya akan Tuhan itu dalam perbuatannya sehari-hari. Mereka tidak mencari kehormatan, karena memang mereka sadar akan kepapaan dirinya, sebaliknya belaskasih Allah yang mereka dambakan dari sang Empunya kehidupan ini.

 

 

Oratio :

Ya Yesus, Engkau meminta kami untuk tidak mencari kehormatan diri, malahan Engkau mengajak kami untuk siap melayani sesama, sebagaimana tugas perutusan yang kami emban. Bantulah kami, ya Yesus, untuk setia melaksanakan tugas yang kami terima daripadaMu, dan siap menerima segala kritikan dan saran dari sesama yang ingin menyempurnakan tugas dan pekerjaan kami. Amin.


 

 

Contemplatio :

'Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu'.

Engkau terbesar dan termulia, ya Yesus, tetapi Engkau dengan setia melayani kami, dan menyerahkan nyawa bagi keselamatan kami.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening