Hari Raya Paskah, 31 Maret 2013 (Sore hari)

Kis 10: 34-43  +  1Kor 5: 6-8  +  Luk 24: 13-35

 

 

 

Lectio :

Pada hari pertama minggu itu, dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.

Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

 

 

Meditatio :

'Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?'. Inilah teguran keras dari seorang yang dianggap pendatang baru di kota Yerusalem, yang tidak tahu banyak tentang seorang Nabi. Yesus menegur keras mereka, karena mereka berjalan dengan pikirannya sendiri. Mereka menginginkan segala sesuatu sesuai dengan kemauan mereka.

Memang tidak dapat disangkal, bahwasannya mereka kecewa. Mereka berharap, bahwasannya 'Yesus orang Nazaret adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin bangsa telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dengan menyalibkan-Nya. Padahalnya sangat diharapkan bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel'. Namun Orang Nazaret itu tidak melakukan keinginan bangsaNya. Dia malahan, sepertinya, membiarkan diri dianiaya dan dikalahkan oleh bangsa dan saudara-saudariNya.

Mereka kecewa, tetapi dibuatNya bingung, karena 'sementara lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi,  beberapa perempuan teman-teman mereka mengatakan bahwa: pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya; mereka malahan berjumpa dengan malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Yesus hidup. Beberapa teman telah pergi ke kubur dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat'.

Mereka terpaksa ditegur keras oleh Orang asing di Yerusalem itu, karena kekecewaan dan kebingungan mereka menghalangi langkah hidup mereka; bahkan ketika Yesus sendiri datang  mendekati mereka, mereka tidak dapat mengenalNya Dia. Yesus Tuhan yang menjadi bahan pembicaraan, bahkan kerinduan hati mereka, tidak dikenalnya. Semuanya bisa terjadi, karena mereka berjalan dalam dunia pikirannya sendiri. Tenggelam dalam kesedihan, kekecewaan dan kebingungan membuat seseorang tidak mampu melihat yang indah dan membahagiakan. Tenggelam dalam kesedihan tidak memampukan seseorang me;oihat dan berjumpa dengan Tuhan.

'Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi'. Yesus yang memperdengarkan suaraNya selalu memberikan sukacita; dan itulah yang dialami oleh para  kedua murid tadi, sebagaimana disharingkan, bahwasannya 'hati mereka berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan  di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci'. Keberanian mendengakan sabda Tuhan akan selalu membuat hati dan jiwa selalu bersukacita; dan pengenalan mereka akan Tuhan Yesus semakin terbuka, ketika Ia memecah-mecahkan roti, dan bersantap bersama-samaNya. Mendengarkan sabdaNya dan setia mengikuti perayaan Ekaristi akan semakin membuat setiap orang mengenal Tuhan Yesus.

 

 

Collatio :

Hidup yang berpusat pada diri sendiri itulah yang dilakukan kedua murid yang menuju Emaus. Mereka menginginkan orang lain seperti dirinya. Mereka mengharapkan sang Pahlawan itu benar-benar mau menjadi pembela bangsanya. Mereka mengharapkan seorang Nabi mengikuti kemauan komunitasnya. Bukankah seorang Nabi mempunyai tugas perutusan Allah? Bukankah seorang Nabi diutus Allah sesuai dengan kehendak dan kemauan Allah? Tidak ada nabi yang mengikuti kemauan keluarganya.

Paskah mengajak kita untuk berani bersikap dan bertindak, tidak seperti kedua murid yang menuju ke Emaus. Mereka berkeinginan seorang Mesias mengikuti kemauan diri mereka. Sebaliknya mereka haruslah mengikuti kehendak dan kemauan Mesias yang menyelamatkan. Orang beriman adalah orang yang mau mengikuti kehendak Tuhan sang Empunya hidup ini. Yesus sendiri telah memberi contoh kepada kita. Dia mau menyerahkan diri dan menjadi tebusan umat manusia, hanya karena kehendak dan kemauan Bpa di surga. Allah menghendak seluruh umat manusia beroleh selamat.

Merayakan Paskah berarti seseorang harus 'semakin berani membuang ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru. Marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran'. Tidak mau menagmini kehendak dan kemauan Tuhan yang kita percayai membuat diri kita kecewa dan bingung, sedih dan madesu (masa depan suram), karena hanya berpanggakl pada diri sendiri. Sebaliknya, mau mendengarkan suara dan kehendak Tuhan akan membuka wawasan bagi setiap orang untuk hidup yang lebih.

 

 

Oratio :

Pada Tuhan ada kasih setia, dan penebusan berlimpah.

Ya Yesus semoga lagu indah ini menjadi lantunan hati kami yang merindukan kehadiranMu selalu. Amin.

 

 

 

Contemplatio:

'Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?'

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening