Jumat dalam Pekan Prapaskah III, 8 Maret 2013


Hos 14: 2-10  +  Mzm  81  +  Mrk 12: 28-34


 

 

 

Lectio :

 

Suatu kali bertanyalah seorang ahli Taurat kepada Yesus: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."

Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.


 

 

Meditatio :

 

Suatu kali bertanyalah seorang ahli Taurat kepada Yesus: 'hukum manakah yang paling utama?'. Pertanyaan ini mengandaikan adanya banyak hukum dan peraturan, yang satu dengan lainnya tidak sama bobot dan kualitasnya. Karena itu, manakah yang terutama, manakah yang terindah dan lebih penting dan berguna dibanding lain-lainnya?

'Hukum yang terutama', jawab Yesus: 'Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu'. Esa, karena memang tidak ada Allah lain seagung dan semulia Tuhan Allah kita.  'Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain,  yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini' (Yes 45: 5-7), sabda Tuhan Allah semesta alam. Dialah sang Empunya kehidupan dan keselamatan ini. Layaklah, kalau seluruh hidup ini kita arahkan kepadaNya, bukan dengan separoh-paroh, melainkan  dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatanmu.

'Hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Mengasihi sesama seperti diri sendiri, sebab memang kita adalah bagian dari kebersamaan, maka perlu kita memperhatikan yang lain. Kita ini bagian dalam kebersamaan hidup, maka layaklah kalau kita perlu memberi perhatian terhadap sesama. Janganlah ke –bagian kecil- an kita ini menjadi onak dalam kebersamaan. Sesama kita, juga sebenarnya adalah bagian hidup kita, maka amatlah layak kita memberi perhatian kepada mereka. Terasa aneh, kalau kita tidak memberi bagian dari diri kita sendiri. 'Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka' (Mat 7: 12). Hendaknya kita tidak menuntut orang berbuat seturut keinginan kita, malahan sebaliknya kita melakukan sesuatu, agar orang lain pun terdorong untuk melakukan yang baik, sebagaimana kita contohkan kepada mereka.

Jika kita mengasihi sesama, yakinlah  sesama kita juga akan menaruh kasih kepada kita, dan pada saat itulah kebenaran sungguh-sungguh terjadi, bahwasannya kita 'adalah murid-murid Kristus yang  saling mengasihi'  (Yoh 13: 35), karena memang kita 'menuruti segala perintahNya' (Yoh 13: 15). Mengasihi sesama menjadi bukti nyata bahwa kita adalah orang-orang yang menuruti sabdaNya.

Inilah hukum yang terutama; dan hukum-hukum lain itu menjabarkan secara konkrit hukum utama ini, sesuai dengan situasi dan jamannya. 'Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini', tegas Yesus.

'Tepat sekali, Guru', kata ahli Taurat itu kepada Yesus menimpaliNya, 'benar kata-Mu itu, bahwa Dia Esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan'. Sebagai orang yang mempunyai banyak pengetahuan memang dituntut lebih banyak tanggungjawab. Lebih luas kolamnya, lebih banyak airnya; dan itulah yang dialami dan dinikmati sang ahli Taurat. Mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama itu sungguh-sungguh kehidupan nyata, dan bukannya sekedar simbol atau lambang. Cinta kasih itu lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan, sebab cinta itu adalah sikap dan tindakan nyata.

'Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!' sahut Yesus, yang melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu. Melaksanakan kehendak dan kemauan Tuhan mendatangkan rahmat dan berkat. Cinta membikin hidup lebih hidup!

 


 

Collatio :

 

Apakah kita adalah orang-orang yang melakukan cinta kasih ilahi?

Pasti! Namun kiranya perlu  terus-menerus kita perbaharui. Pembaharuan hidup dalam cinta kasih adalah sebuah pertobatan. Karena dengan menghayati cinta kasih berarti kita berusaha hidup seperti Allah. Sebab Allah adalah cinta kasih (1Yoh 4: 8).

 'Bertobatlah, hai Israel, kepada TUHAN, Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu. Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada TUHAN! katakanlah kepada-Nya: ampunilah segala kesalahan kami', sabda Tuhan.

'Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka. Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar. Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon'. Mengamalkan cinta kasih Allah mendatangkan berkat. Itulah yang juga dinikmati oleh sang ahli Taurat tadi.

Kiranya kita semakin hari semakin setia untuk melakukan cinta kasih terhadap Tuhan dan sesama.  Kalau sudah tahu bahwa cinta kasih itu membahagiakan dan menyelamatkan, baiklah kita pilih dan kita laksanakan. 'Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ'. Keselamatan adalah sebuah pilihan.

  



 

Oratio :


          Yesus, ampunilah kami jika selama ini kami kurang mengamalkan kasih dalam hidup ini. Engkau mengatakan bahwa cinta kasih itu lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan, mampukanlah kami untuk semakin setia melakukan cinta kasih terhadap Engkau dan sesama. Dengan mengasihi sesama, kami akan semakin mampu menemukan Engkau yang hadir selalu secara tersenbunyi dalam diri sesama kami.

Yesus, tanamkanlah kasih dalam hati, pikiran dan dalam setiap langkah hidup kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

 

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'.

Bila kita tidak mampu mengasihi sesama manusia yang kelihatan, mustahil mengasihi Allah yang tidak kelihatan.

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening