Malam Paskah, 30 Maret 2013


Kel 14:15 – 15:1  +  Rom 6: 3-11  +  Luk 24: 1-12

 

 

 

Lectio :

Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga." Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.

Dan setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain. Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul. Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.

 

 

Meditatio :

Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus, beberapa perempuan lainnya pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Tradisi memberi rempah-rempah kepada jenasah orang yang sudah meninggal adalah hal yang biasa dan wajar; terlebih bila sebelumnya, mereka tidak sempat memberikannya secara istimewa mengingat suatu peristiwa yang begitu mendesak, agar jenasah segera dibaringkan dalam makam. Yang tentunya semuanya itu dilakukan oleh orang-orang yang mengasihinya. Itulah yang dilakukan oleh beberapa perempuan yang telah merasakan sungguh kasih dan perhatian Yesus.

Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. Mereka tidak bertanya-tanya, mereka tidak kuatir, ketika melihat semuanya itu. Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala. Kehadiran para malaikat yang malahan membuat mereka takut dan gentar. Makam kosong tidak membuat mereka takut dan gelisah, malahan sebaliknya kedatangan para malaikat membuat mereka gentar.

'Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit', kata kedua orang itu kepada mereka. Kubur memang harus kosong, karena memang Dia bukan penghuni kubur, dan Dia tidak mau tinggal dalam kubur. 'Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga'. Benar memang Yesus telah menyatakan semuanya ini jauh-jauh sebelumnya. 'Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga' (Luk 9: 22). Yesus memenuhi janji keselamatan yang diucapkanNya sendiri. Dan pada saat itu juga, 'teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu'.

Setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain. Namun bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. Mereka tidak percaya akan kata orang, mereka sepertinya ingin meminta bukti inderawi. Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.

Perkataan-perkataan beberapa perempuan itu dianggapnya omong kosong dan para murid tidak percaya kepada mereka. Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi. Inilah kenyataan hidup. Mengapa mereka para murid tidak langsung percaya dengan omongan para perempuan yang telah melihat bahwa makam itu sekarang kosong? Apakah mereka merasa superior dibanding para perempuan tadi? Bagaimana mungkin kuburan bisa kosong? Kepercayaan memang tidaklah menuntut bukti; dan itulah yang akhirnya disadari dan dilakukan Petrus, sembari tetap bertanya-tanya bagaimana semua itu bisa terjadi. Iman tidak menuntut adanya bukti, tetapi tidak mengabaikan kemampuan akal budi untuk tetap bertanya-tanya meminta klarifikasi.

 

 

Collatio :

Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu, ketika beberapa perempuan pergi ke kubur mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. Inilah pengalaman inderawi yang berjalan dalam perjalanan ruang dan waktu, menyatakan bahwa kebangkitan terjadi pada malam hari. Mereka datang pada pagi-pagi hari, tentunya peristiwa, yang tidak tertangkap inderawi mereka, terjadi pada malam hari; dan pada malam hari seperti inilah segala yang indah dan mulia itu terjadi. Inilah yang terus dirayakan oleh GerejaNya yang kudus.

Dalam Paskah, Gereja merayakan kelahiran baru sebagai putera-puteri Bapa di surga. Kalau Paskah Perjanjian Lama sebagaimana tersurat dalan Kitab Keluaran (Kel 14), menceritakan umat Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir, maka dalam Perjanjian Baru, Paskah menyatakan bahwa setiap orang, seluruh umat manusia, dibebaskan dari kuasa kegelapan, kuasa maut yang mematikan, berkat kematian dan kebangkitan Kristus. Karya penebusan Kristus dilaksanakan, karena memang Dialah Allah yang hidup, yang secara sengaja datang ke dunia hendak menyelamatkan seluruh umatNya.

Dalam Paskah, Gereja merayakan kelahiran baru sebagai putera-puteri Bapa di surga. Karena apa? Karena memang 'kita telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya. Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia'. Kita berani menyebut diri sebagai putera-puteri Bapa di surga, karena memang kita beroleh rahmat kehidupan kekal.

Dalam Paskah, Gereja merayakan kelahiran baru sebagai putera-puteri Bapa di surga. Sebab kita, bukan saja kembali ke fitrah kita sebagai laki-laki dan perempuan yang diciptakan sesuai dengan gambar Allah (Kej 1), melainkan sebagai orang-orang yang beroleh hidup kekal. Sebab 'Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah'; dan itulah yang kita nikmati bersama, berkat kasih karuniaNya dan kemauan kita yang mau menikmatiNya.

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia. Dari salibMu yng kudus itulah Engkau menarik semua orang untuk datang kepadaMu dan menikmati hasil penebusanMu. Semoga rahmat Pakah ini semakin kami nikmati dalam keseharian hidup kami, sehingga kami benar-benar merasakan bahwa sungguh menyenangkan dan membahagiakan menjadi putera-puteri kesayangan Bapa di surga. Amin.


 

 

Contemplatio:

'Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit'.

Kristus Tuhan adalah Allah kehidupan, dan semua orang yang ada di hadapanNya hidup.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening