Minggu Palma, 24 Maret 2013


Yes 50: 4-7  +  Fil 2: 6-11   +  Luk 22:14 – 23:56


 

 

 

Lectio :

Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

 


 

Meditatio :

'Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat'.

Inilah doa Yesus bagi orang-orang yang menganiayaNya. Inilah sikap dan tindakan Yesus yang memang pernah mengajarkan:  'kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu' (Mat 5: 44). Dia tidak hanya mengajarkan, tetapi melaksanakannya. Dia bukan hanya pendengar sabda Bapa, tetapi juga pelaksana sabda dan kehendakNya. Yesus menampakkan sungguh cinta kasihNya kepada umat, tanpa memandang muka. Dia memberi dan memberi hidupNya bagi seluruh umatNya.

Oleh cintaNya, 'yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia'. Inilah Allah yang mau menurunkan diriNya, membumikan keallahan diriNya. Inilah Allah yang toleran, bahkan Allah yang mau menjadi manusia guna menikmati dan merasakan kenyataan hidup sebagai seorang ciptaan, yang terikat ruang dan waktu, yang hidup dalam aneka pengalaman pahit dan manis.

'Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib'. Kematian di salib adalah kematian hina, kematian yang tidak berharga; dan itulah yang dialami oleh Yesus Kristus, Tuhan sang Empunya kehidupan. Namun dari salib yang hina inilah Dia malahan menarik semua orang untuk datang kepadaNya (Yoh 12: 32). Yesus menyatakan kemuliaanNya di kayu salib yang hina; dan pada saat itulah semua orang harus berani merundukkan diri dan membiarkan diriNya ditarik oleh Allah. 'Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah, Bapa!'.

Yesus yang menjadi manusia, mengajar kita untuk semakin beriman, dan Dia memberikan contoh dengan hanya melakukan kehendak Tuhan Bapa di surga dalam keseharian hidupNya. Aku tidak melakukan kehendakKu sendiri, melainkan kehendak Tuhan Bapa yang mengutus Aku. Maka keberanian kita untuk melaksanakan kehendak Tuhan, sebagaimana yang tersurat dalam Kitab Suci, memungkinkan kita menjadi orang-orang yang mempunyai iman yang tangguh dan ulet.

Yesus menjadi manusia, karena Dia ingin agar kita semakin bersaudara, bukan hanya dengan orang-orang yang sependapat dan satu ide, melainkan juga dengan semua orang, tanpa terkecuali, sebab apalah gunanya kita hanya memberi salam dan mengasihi orang-orang yang mendahului menyapa kita, bukankah orang-orang tidak mengenal Allah juga berbuat demikian (Mat 5: 47). Setiap orang yang mengakui Yesus harus semakin hidup bersaudara dengan sesamanya.

Dengan memanggul salib, Yesus mengajak kita untuk semakin berani berbelarasa dengan sesama. Sebagaimana Dia menyerahkan nyawa dan menjadi tebusan bagi umatNya. Berbelarasa berarti kita ingat akan orang lain, terlebih mereka yang berkurangan. 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku' (Mat 25: 40).

Berbelarasa tidak cukup dengan ikut bersedih, bahkan ikut menangis sebagaimana dilakukan perempuan-perempuan Yerusaelam, melainkan dengan tindakan nyata. 'Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!'. Berbelarasa tidaklah perlu kita berikan kepada Yesus yang memanggul Yesus, karena memang semuanya itu sudah menjadi kemauanNya, sebaliknya malahan belarasa itu harus kita ungkapkan kepada saudara-saudari kita yang berkekurangan. Inilah wujud nyata pantang dan puasa kita di masa Prapaskah ini.

 

 

  

Oratio :

Ya Tuhan Yesus, Engkau memanggul salib demi keselamatan hidup kami. Engkau rela dihina dan dianiaya, tetapi  Engkau tidak membalas, karena memang Engkau mengerti sungguh maksud kedatanganMu hanya demi keselamatan orang-orang yang Engkau kasihi. Engkau mengasihi setiap orang tanpa terkecuali, agar mereka semua selalu mengarahkan hati dan budi hanya kepadaMu.

Yesus, dampingilah kami selalu dalam memanggul salib kehidupan kami. Amin.

 

 


 

Contemplatio;

 

'Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat'.

 

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening