Rabu dalam Pekan Prapaskah III, 6 Maret 2013

Ul 4: 1-9  +  Mzm 147  +  Mat 5: 17-19



 

 

 

Lectio :

Suatu hari berkatalah Yesus: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga".

 

 

Meditatio :

'Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya'.

Kiranya Yesus menyatakan hal ini, karena adanya beberapa kali protes terhadap diriNya dan para murid, seperti para murid yang tidak berpuasa (Luk 5: 33) dan mereka yang seenaknya melakukan tindakan yang dilarang pada hari Sabat (Luk 12: 1-2), dan Yesus sendiri yang beberapa kali menyembuhkan orang-orang pada hari Sabat, serta pengajaranNya, yang selalu membandingkan dengan tradisi dan segala yang difirmankan kepada nenek moyang, seperti larangan membunuh, berzinah, perceraian, bersumpah palsu, dan ajakan mengasihi musuh dan berdoa bagi para penganiaya (Mat 5). Yesus sengaja mengajarkan segala yang berlawanan dengan hukum Taurat dan tradisi nenek moyang.

Layaklah protes keras dilontarkan oleh orang-orang yang begitu legalistik dengan aneka aturan hukum Taurat; dan benar juga protes mereka, karena memang yang dilakukan oleh Yesus sungguh-sungguh tidak sesuai dengan apa yang mereka kerjakan selama ini. Orang-orang legaslistik masih sering kita temui di antara kita, seperti ada beberapa orang merasa gelisah, jengkel dan marah, ketika ternyanyikan oleh seseorang kata amin dalam anamnesis I. Banyak orang merasa gerah, bila hal itu terjadi. Sungguh berdosakah bila terucapkan? Padahalnya liturgi tidak sebatas aturan kata per kata, sebaliknya liturgi yang sejati itu malahan hendak membawa umat untuk memuji dan memuliakan Tuhan, dan membantu umat beriman mengangkat jiwa dan raga, hati dan budi dalam doa dan syukur kepada Tuhan.

Kehadiran Yesus yang memberi wacana baru dan kehadiranNya yang menghidupkan, kiranya haruslah tetap kita nikmati,  sebab 'Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya', tegas Yesus Kristus sendiri. 'Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga'.

Masa Prapaskah mengajak kita, bukan untuk meratap dan menangis dalam setiap peribadatan, melainkan mengajak kita untuk berani bertobat dan bertobat, dan semakin siap memanggul salib kehidupan dalam sukacita dan pengharapan akan kemuliaan sejati.

 

 

Collatio :

 'Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. Bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum itu?'.

Inilah kebanggaan Israel dengan keberadaan aturan keagamaan yang mereka miliki, khususnya Taurat Musa yang mereka warisi dari nabi Musa. Pelanggaran terhadap segala ketetapan dan peraturan yang diajarkan tak ubahnya pelanggaran terhadap kehendak Tuhan sendiri. Mengingat semuanya itu, wajarlah kalau banyak orang memprotes kehadiran Yesus yang membuka 'langit dan bumi yang baru' (DSA VI), yang mengangagetkan banyak orang, yang mengagetkan seluruh Yerusalem sebagaimana kunjungan ketiga orang Majus (Mat 2: 3). Bagi orang-orang mapan dan cerdik-pandai memang kehadiran Yesus amat mengejutkan dan bahkan menggelisahkan, tetapi tidaklah demikian bagi mereka yang merindukan keselamatan.

Lebih dari semua itu, tanpa mengabaikan keberadaan aneka ketetapan dan peraturan, sebagaimana dikatakan Yesus sendiri, bahwasannya segala yang tertulis dalam Perjanjian Lama itu adalah sebuah proses yang menuju kesempurnaan, aturan dalam hari demi hari semakin disempurnakan, yang mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia. Maka imanlah yang menyelamatkan, dan bukan ketaatan pada hukum Taurat, sebagaimana dikatakan Paulus dalam suratnya kepada umat di Galilea. 'Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorang pun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat' (Gal 2: 16).

Apa yang dapat kita buat? Taat kepadaNya, yakni dengan melaksanakan kehendak dan kemauan Tuhan Yesus sendiri.

 

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau menyempurnakan segala aturan keagamaan, sebagaimana disembah dan dipuji dalam Perjanjian Lama. Kasih dan pengampunan sungguh-sungguh nyata Engkau ajarkan dan Engkau minta. Maka bantulah kami, ya Yesus, untuk berani melaksanakan kehendakMu yang menyelamatkan itu.

Yesus, kasihilah kami.

 


 

Contemplatio :

'Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya'.

Karena di dalam Yesus ada kesempurnaan hidup. Dialah Allah.

 

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening