Rabu dalam Pekan Prapaskah V, 20 Maret 2013

Dan 3: 14-25  +  Mzm  +  Yoh 8: 31-42

 

 


 

Lectio :

 

Berkatalah Yesus kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."

Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka. Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu."

Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.


 

 

Meditatio :

 

'Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu'.

Penegasan Yesus menyatakan bahwa selama ini banyak orang tidak tinggal bersama Yesus. Mereka mendengarkan dan mendengarkan, tetapi tidak tinggal dalam sabda Yesus. Pertama, mereka mendengarkan, tetapi tidak melakukan perintah dan sabdaNya. Orang-orang yang tinggal dalam sabdaNya berarti menjadikan sabda sebagai pola hidup. Mereka hidup sesuai dengan  segala yang dikehendaki Alah. Dengan melakukan sabdaNya, maka setiap orang akan mengenal kebenaran, karena memang dia berjalan dalam terang, dalam segala hal yang dilakukan berkenan kepadaNya. Tinggal dalam kegelapan berarti hidup tidak sesuai dengan kehendak dan kemauan Allah, malahan seseorang akan melakukan segala sesuatu secara sembunyi-sembunyi, karena memang perbuatan mereka itu jahat; bahkan keengganan seseorang tidak mau tinggal dalam sabdaNya memberanikan mereka melawan sang Empunya kehidupan, sebagaimana dikatakan tadi: 'kamu memang keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu'.

 'Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: kamu akan merdeka?', sahut orang-orang Yahudi yang membela dirinya. Kedua, kemerdekaan yang dimaksudkan Yesus adalah merdeka untuk selalu melakukan yang baik dan benar, dan mendatangkan sukacita dan damai bagi dirinya. Orang yang terkungkung dan tenggelam dalam dosa, adalah hamba-hamba dosa. Mereka terikat kuasa kegelapan dan hanya mencari kepuasan diri. Dia terikat, karena dosa mengarahkan setiap orang kepada kebinasaan. Sengat maut adalah dosa (1Kor 15: 55-56). 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka', tegas Yesus. Menjadi hamba dosa berarti seseorang mengkuti kemauan kuasa kegelapan, dia meninggalkan rumah, yakni tempat kediaman yang kudus, yang suci dan mulia. Rumah itu tidak lain adalah persekutuan manusia dengan Allah sendiri,  persekutuan kudus. Semua itu ditinggalkan, dan seseorang mengembara dalam kedosaan. Kedatangan Kristus adalah memanggil setiap orang untuk berani datang kepada keselamatan.

'Bapa kami ialah Abraham', seru mereka. Namun dengan tegas, untuk ketiga kalinya, Yesus melawan dusta mereka, karena mereka sekedar mengakui anak-anak Abraham, tetapi tidak melakukan apa yang diimani oleh Abraham. 'Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah'. Mereka hanya bangga dengan nama saja

Keempat, Yesus bangga memang, bahwasannya mereka semua menyebut Allah sebagai Bapa. 'Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah'. Pengenalan mereka berhenti pada kasih Bapa yang jauh di sana. Mereka masih belum menyadari bahwa kasih Allah itu sekarang ini juga dinyatakan dalam diri Yesus yang menyatakan diri sebagai manusia. Dia datang ke tengah-tengah umatNya, bahkan merelakan nyawa demi keselamatan umatNya. Pengenalan sejati akan Bapa harus ditampakkan secara nyata dalam kasih terhadap Kristus, sang Putera. 'Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku'.

 


 

Collatio :

 

'Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka'.

Allah, yang menampakkan diri secara menggemparkan itulah, banyak menjadi impian orang-orang, bahkan jaman sekarang ini juga. Kehadiran Yesus, yang mengjengkelkan banyak orang sebagaimana dialami orang-orang sejamanNya, memang tidak menarik perhatian mereka, demikian juga kita orang-orang dawasa ini. Yesus yang tersalib. Yesus yang menantang kita memanggul salib, yang menghantar setiap orang kepada keselamatan tidak banyak mendapatkan perhatian. Sebaliknya Yesus yang selalu melimpahkan berkatNya menggiurkan hati banyak orang.

Kematian dan kebangkitan Kristus adalah wujud kasih karunia yang terbesar dan terindah dalam penyelamatan umat manusia. Sebab berkat kematian dan kebangkitan Kristus, setiap orang dijadikan manusia baru, pewaris janji keselamatan.

 

 

Oratio :

 

Yesus, bantulah kami dalam semakin mengenal Engkau, yang memberi kehidupan baru. Ajarilah kami menikmati kehadiranMu dalam setiap peristiwa hidup kami, terlebih bila pada saat-saat itu, Engkau menguji dan memurnikan diri kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

 

'Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa'.

Bukankah kita ini anak-anak Allah?

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening