Rabu dalam Pekan Suci, 27 Maret 2013


Yes 50: 4-9  +  Mzm 69   +  Mat 26: 14-25


 

 

 

Lectio :

Suatu hari pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku." Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?" Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan." Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."


 

 

Meditatio :

Suatu hari pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: 'apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?'. Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya; dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Itulah sikap dan tindakan seorang Yudas iskariot, yang terang-terangan menjual Yesus sang Guru dengan harga tiga puluh uang perak, atau sekitar limaratus ribu rupiah, suatu nilai yang amat rendah. Sebagai seorang yang berjiwa 'pencuri' (Yoh 12: 6) hanya uang yang menjadi sradarisasi hidupnya; dan berdasar kesepakatan itu mulailah dia mencari kesempatan untuk menjual Yesus.

Yesus yang tahu rahasia kehidupan setiap orang berkata: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku'. Gemparlah perjamuan mereka, karena memang ada pengkhianatan. Ada ketidaksetiaan dalam komunitas mereka. Mereka saling bertanya satu sama lain, siapakah dia yang dimaksudkanNya. 'Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan', tegas Yesus. Yesus memang sadar sungguh bahwa Ia 'harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga'  (Mat 16: 21). Namun kiranya, tidak tepat dimengerti bahwasannya rancana keselamatan yang dikumandangkan Allah itu memungkinkan umatnya untuk mencobai Dia, mencintai sesamanya. Setiap orang harus berani mengabdikan diri kepada sesama, bahkan harus berani menomerduakan diri sendiri dalam kebersamaan hidup. Bagi seseorang, yang mencobai Allah dan olehnya Anak Manusia itu diserahkan, adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. Bukankah hidup ini terarah kepada keselamatan, sebagaimana kehendak Allah sendiri?

Yudas, yang sadar sungguh akan perbuatannya untuk menyerahkan Yesus dengan upah sebanyak tiga puluh keping perak, masih berani menantang Yesus dengan berkata: 'bukan aku, ya Guru', ketika Yesus menyatakan siapakah yang akan menyerahkan diriNya, dan Yesus pun mengamininya: 'engkau telah mengatakannya'.  Yesus tidak melarangnya, Yesus menghormati keputusan pribadi murid-muridNya. Itulah percakapan Yesus bersama para muridNya dalam pesta hari raya Roti Tidak Beragi. Sebuah pesta yang diselenggarakan oleh Yesus sendiri, sedangkan para murid hanya pelaksana lapangan dari pesta tersebut, karena memang mereka hanya mempersiapkan saja segala yang telah dirancang Yesus sang Guru. 


 

 

Collatio :

Dalam perjamuan makan, seseorang menyatukan dirinya dalam kebersamaan. Makan bersama menandakan secara nyata kesatuan hati sebuah komunitas, sebuah keluarga kristiani. Yesus menyadari sungguh makna kesatuan hati dalam kebersamaan itu. Dia meminta para muridNya untuk mempersiapkan pesta Paskah, pesta sukacita atas kasih karunia Tuhan kepada bangsa Israel, umat yang disayangiNya.

Paskah menjadi tanda nyata, ketika orang-orang yang dikasihiNya hanya mengandalkan kekuatan Tuhan Allah sang Empunya kehidupan, bahwa segala sesuatu dapat terjadi dengan indahnya. Pembebasan bangsa Isael dapat terjadi dengan indahnya, karena keterpautan Israel akan karya tangan Tuhan yang menyelamatkan. Mereka tidak takut menghadapi kekuatan tentara Mesir dan juga menghadapi serangan alam dalam perjalanan di padang gurun. Allah akan akan menjaga dan melindungi kami.

'Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.  Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku beperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!  Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?'.

Inilah ungkapan keberanian seorang Yesaya, yang memang menyatakan betapa terpautnya hati dan budinya kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. Keterpautan Yesaya terhadap Tuhan, kiranya juga menjadi keterpautan umat Israel akan Yahwe sang Pembebas; yang semuanya ini berlawanan sungguh dengan sikap Yudas Iskariot yang hanya menyenangkan diri sendiri. Tentunya sikap Yesaya menjadi sikap penampilan kita bersama dalam  melihat dan merasakakan betapa besar kasih Allah kepada kita umatNya, yang melalui diri sang Putera, menebus dan kenyelamatkan seluruh umat manusia. Prapaskah adalah ajakan Gereja kepada kita semua untuk berani terus kembali kepada Allah. Kembali kepada Tuhan bukan untuk menyenangkan hatiNya, karena memang bukan itu yang dimaksudkanNya, melainkan demi keselamatan hidup kita sendiri. 

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau tidak takut dan gentar terhadap perlawanan dan pemberontakan orang-orang yang Engkau kasihi. Sebaliknya Engkau dengan setia mengundang dan mengundang mereka semua untuk berani kembali kepadaMu.

Limpahkan berkatMu ya Yesus, agar pada masa Prapaskah ini benih-benih pertobatan semakin tumbuh dan berkembang di antara umatMu, sehingga menyuburkan dunia Indonesia, sehingga bangsa dan tanah air kami menjadi tempat yang menyenangkan untuk merasakan kehadiranMu. Amin.

 

 

 

Contemplatio;

 

'Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku'.

Kita biarkan rumah kita menjadi tempat perjamuan Paskah bersamaNya.























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening