Sabtu dalam Pekan Prapaskah II, 2 Maret 2013


Mi 7: 14-20  +  Mzm 103  +  Yoh 4: 5-42

 



 

 

Lectio :

Suatu hari sampailah Yesus ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.

Datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."

Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."

Kata perempuan itu lagi kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."

Perempuan itu pun meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?" Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."

 

 

Meditatio :

'Berilah Aku minum'.

Permintaan Yesus kepada perempuan Samaria, yang hendak menimba air di sumur Yakub ini sepertinya hanyalah uji soal  saja. Sebab ternyata Yesus sendiri menyatakan siapakah diriNya, ketika sang perempuan itu mempertanyakanNya. 'Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup', sahut Yesus. Dia tidak menyatakan diriNya secara terang-terangan, tetapi Yesus menyatakan kemampuan yang dapat Dia lakukan terhadap semua orang yang datang kepadaNya.

Permintaan Yesus hanyalah uji soal, karena memang Dia mampu memberikan yang lebih baik daripada yang dimintaNya dari perempuan itu. Dengan tegas Yesus menyatakan: 'barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal'. Yesus mempunyai yang lebih indah bagi hidup sang perempuan itu.

'Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air',  sahut perempuan tadi dengan penuh kepercayaan. Sang perempuana ini menangkap sungguh maksud Orang Israel ini, walau kepercayaannya masih sebatas pengetahuan insaninya, sebatas air sumur Yakub. Namun tak dapat disangkal, sang perempuan ini mulai membuka diri akan aneka hal ilahi, yang berada di luar kemampuan nalarnya. Dia belum mengenal sang Sumber air kehidupan, tetapi dia mulai merasakannya.

'Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran'

Komentar Yesus yang menanggapi perbedaan pandangan bangsa Israel dan orang-orang Samaria dalam beribadah. Mereka orang-orang Samaria menyembah di atas gunung ini, tetapi bagi orang-orang Israel, Yerusalemlah tempat menyembah yang benar. Yesus menegaskan: beribadah kepada Tuhan, bukanlah terbatas pada soal tempat, ataupun soal waktu, metode dan bentuk ibadat, melainkan pada hal kehadiranNya sendiri. Dan kini, Dia sendiri hadir di tengah-tengah umatNya. Dialah Yesus Kristus, Anak Manusia, Orang Nazaret itu.

Dan ternyata, perempuan itu juga mempunyai iman yang sama dengan orang-orang Israel akan kehadiran sang Penyelamat.  Perbedaan mereka hanyalah soal tempat di mana mereka biasa berjumpa dengan sang Empunya kehidupan. 'Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami'. Inilah kepercayaan orang-orang Samaria, yang mengakibatkan 'orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria'. Inilah yang sering terjadi di antara aneka kepercayaan: perbedaan cara dan jalan menuju Tujuan hidup.

Bagi orang-orang yang percaya dan dikasihiNya tidak lagi harus ke Yerusalem atau ke  gunung tinggi, sebab memang Dia tidak berada jauh di sana. Sekarang ini, Allah hadir secara nyata di tengah-tengah mereka. Yesus pun mengamini iman kepercayaan sang perempuan itu. 'Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau'. Allah selalu mendampingi umatNya

Kehadiran Allah yang tampak nyata diyakini sungguh-sungguh oleh orang-orang Samaria. 'Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia', tegas mereka kepada perempuan itu. Sepertinya mereka membela diri atas kabar pemberitahuan sang perempuan tadi, tetapi tidak dapat disangkal, bahwasannya memang, bukanlah kesaksian manusia yang harus menjadia acuan dalam percaya kepada Tuhan, melainkan hanya sabda dan kehendak Tuhan sendiri. Kesaksian memberikan penegasan bahwa sabda Tuhan itu benar dan hendaknya dipercaya. Sabda Yesus yang memberi keselamataan dan bukanlah kesaksian-kesaksian, sebagaimana disampaikan perempuan Samaria tadi.

 

 

Collatio :

Kita bukanlah orang-orang yang kaget seperti perempuan Samaria. Kita bukanlah orang-orang yang kaget, karena memang kita sudah lama mengenal Yesus Kristus. Kita tahu bahwa Dialah Allah yang hidup. Kita mungkin seperti orang-orang Samaria, yang mengenal Yesus, bukan karena kesaksian atau kata orang tentang Yesus, melainkan karena kita adalah orang-orang yang mempunyai kesempatan untuk mendengarkan sabda dan kehendakNya.

'Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!'.

Pernyataan Mikha ini adalah pernyataan akan belaskasih Tuhan yang dirasakannya, dan dirasakan juga oleh orang-orang yang dikasihiNya. Mereka merasakan sungguh, betapa besar kasih Tuhan yang mengampuni. Dia merendah, dan mau mengampuni dosa dan kesalahan umatNya. Dia tidak main hukum, melainkan belaskasih. Belaskasih yang semakin nyata itu dapat kita rasakan dalam diri Yesus Kristus. Sebab kehadiranNya di tengah-tengah umatNya sungguh-sungguh mengundang setiap orang untuk berani datang kepadaNya. Dia bergaul dan makan bersama dengan orang-orang berdosa, dan memang orang-orang seperti mereka yang merindukan kedatanganNya, dan bukan mereka yang merasa diri sebagai orang-orang benar (Mat 9: 12). Mereka itulah orang-orang yang merindukan air kehidupan, sebagaimana yang diminta oleh perempuan Samaria.

Kita pun adalah orang-orang yang merindukan air kehidupan. Memang ada di antara kita, yang masih juga sama dengan perempuan Samaria, yang merindukan air kehidupan sebatas pengetahuan insani, yakni air kehidupan yang berupa aneka mukjizat pemberianNya; dan repotnya lagi, setelah menikmati aneka pemberianNya barulah mereka bersorak-sorai, dan tidak seperti mereka orang-orang Samaria yang  'percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang dikatakan perempuan itu, melainkan karena telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia'.  SabdaNya yang menyelamatkan itu sungguh-sungguh membangun hidup mereka. 'Tuhan, Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah' (Yoh 6: 68-69). Inilah iman sejati, iman yang menyelamatkan. Iman orang-orang Samaria inilah iman kita bersama.

 

 

Oratio :

Ya Yesus, semoga di masa Prapaskah ini kami semakin menemukan Engkau dalam keseharian hidup kami. Kiranya sabdaMu semakin membekali kami dalam berpantang dan berpuasa, dalam ulah tapa dan matiraga, sebab memang Engkau meminta kami untuk menyalibkan segala kecederungan, yang membelenggu kami jauh daripadaMu.

Yesus bantulah kami slealu. Amin.


 

 

Contemplatio :

'Air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal'.

Air itu adalah SabdaNya sendiri.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening