Sabtu dalam Pekan Prapaskah III, 9 Maret 2013


Hos 6: 1-6  +  Mzm 51  +  Luk 18: 9-14

 

 

 

Lectio :

 

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

 

 


Meditatio :

 

'Seorang Farisi dalam bait Allah berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku'. Orang Farisi ini memang orang yang mampu; mampu berbuat baik dan mampu melakukan kebaikan ini dan itu. Hanya saja dia menyombongkan diri, merasa unggul dari orang lain, dan sekaligus menunjuk orang lain lebih rendah dari dirinya. Dengan ringannya dia berkata aku bukan seperti pemungut cukai ini. Dia mempunyai banyak keberhasilan, hanya sayang dia menutup kesuksesan itu dengan meremehkan orang lain.

Sebaliknya, 'seorang pemungut cukai berdiri jauh-jauh dari pelataran, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini'. Dia berkata demikian, karena memang dia tidak mempunyai sesuatu yang patut diunggulkan dan dibangga-banggakan. Dia tidak mempunyai keberhasilan diri, sebagaimana diungkapkan orang Farisi tadi. Malahan perasaan dan kesadaran diri sebagai orang berdosa membuat dirinya merunduk di hadapan Tuhan sang Empunya kehidupan.

Cerita ini hanyalah contoh. Contoh terasa begitu tajam karena yang diperankan adalah orang-orang Farisi yang terkenal sebagai orang-orang yang suci dan benar, sebaliknya kaum pemungut cukai adalah orang-orang berdosa.  Cerita perumpamaan ini disampaikan Yesus kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain. Perumpamaan itu ditutup dengan penegasan: 'Aku berkata kepadamu:  pemungut cukai ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang Farisi itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'.

Mengapa Yesus melarang orang-orang yang mengikutiNya meninggikan diri? Bukankah setiap orang harus PD, percaya diri, yang meneguh prestasi yang sudah diraih?

Orang yang menyombongkan diri selalu menyakitkan orang-orang lain yang di sekitarnya, karena mereka diremehkan dan mereka tidak diorangkan; bahkan dia menuduh salah orang-orang yang ada di sekitarnya. Itulah realita kehidupan.

Namun apalah juga artinya seseorang mengunggulkan diri, bila ternyata semuanya harus berujung pada kematian. Kematian menjadikan orang tak berdaya; dan lebih dari itu, setiap orang harus berani mengakui: ada kematian. Sebaliknya ketidakberdayaan manusia seharusnya membuat setiap orang untuk berani merundukkan diri pada sang Empunya kehidupan. Kita harus berani merundukkan diri, karena kita yakin bahwa Dia itu mahabaik, dan hanya Dia yang berkuasa atas kehidupan ini. Dia akan membantu setiap orang yang memohon bantuan daripadaNya; dan memang itulah yang dijanjikan Tuhan sendiri melalui Maria, sang pendengar dan pelaksana sabda. Katanya: 'Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa'  (Luk 1: 51-53).

 


  

Collatio :

 

'Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi'.

Kepercayaan akan Tuhan yang Mahabaik dan Mahamurah inilah yang menjiwai orang-orang di jaman Hosea. Mereka membutuhkan Tuhan, walau mereka sadar bahwa mereka akan dipukul dan dihajar oleh Tuhan. Mereka pun tahu bahwa Dia yang menghajar, akan membangkit dan menghidupkan mereka, dan inilah yang menguatkan mereka untuk berani berbalik kembali kepadaNya. Dia akan selalu memberikan yang terbaik bagi umatNya. Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.

Hati yang remuk redam seperti yang dicontohkan sang pemungut cukai tadilah, yang berani berbalik kepada Tuhan, yang berani merindukan bantuan daripadaNya. Namun apakah kita harus menunggu hati remuk redam dan tak berdaya? Apa kita harus mengalami kepahitan hidup dan jatuh dalam dosa?  Tidak perlu, sejauh kita memang sudah berani menjaga diri agar tidak jatuh dalam dosa kesombongan diri. 'Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan' (Luk 14: 32), yang semuanya itu harus kita lakukan sesuai dengan hidup Yesus sendiri, yang menjadi standarisasi, sebab 'dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib' (Fil 2: 8).

 

 

 

Oratio :

 

Ampunilah kami, ya Yesus, atas segala kesombongan yang telah kami lakukan, sebab kami ini tidak ubahnya dengan orang-orang Farisi, yang selalu menganggap diri kamilah yang paling benar dan meremehkan orang-orang sekitar kami. Mampukan kami untuk dapat mengatasi kelemahan kami ini agar hidup kami dapat menyukakan hati-Mu.

 

Yesus Kristus ampunilah dan sucikanlah kami. Amin.

 

 

 

 

Contemplatio:

 

'Barang siapa meninggikan diri akan direndahkan, barangsiapa merendahkan diri akan 

Ditinggika'.

 

          Allah selalu bersedia menerima orang sebesar apapun,  apabila dia  berseru kepada-Nya, tetapi Ia menutup telinga  terhadap mereka yang mencari kepuasan diri.

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening