Selasa dalam Pekan Prapaskah III, 5 Maret 2013


Dan 3: 25-43  +  Mzm 25  +  Mat 18: 21-35


 

 

 

Lectio :

Suatu hari datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

 

 

Meditatio :

'Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?'. Inilah pertanyaan Petrus kepada Yesus sang Guru. Sampai berapa kali? Bukankah kesabaran itu ada batasnya? Di mana harga diriku kalau seseorang itu terus-menerus mencari gara-gara terhadapku? Sejauh mana saya harus sabar diinjak-injaknya? Apakah kita tidak boleh memarahi dan menegur seseorang? Apakah kita tidak boleh menghukum seseorang yang bersalah?

'Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali', tegas Yesus. Kita diminta untuk berani mengampuni dan mengampuni sesama, tanpa memandang besar kecil kesalahan mereka, melainkan keberanian untuk mengampuni dan mengampuni, sebagaimana dicontohkan dalam perumpamaan orang yang berhutang. Sebagaimana kasih dan pengampunan Tuhan yang begitu melimpah, demikian juga hendaknya kita juga berani berbagi. Tujuh puluh kali tujuh kali itu tak ubahnya puluhan butiran pasir di tengah jutaan pasir di pantai laut, tak ubahnya  seorang yang berhutang seratus dinar  dibanding dengan dia yang mempunyai hutang sepuluh ribu talenta. Kerahiman Tuhan dapat sungguh-sungguh kita nikmati, bila kita juga mau berbagi kasih dan pengampunan kepada sesama. Jiwa pengampun memang amat tampak dalam diri orang-orang yang tahu diri dan tahu berterima kasih, dan tidak seperti para penggarap kebun anggur, yang kita renungkan beberapa hari lalu.

Seorang yang beroleh penghapusan hutang sepuluh ribu talenta harus berani menghapus hutang temannya yang berhutang seratus dinar. Mungkin tidak tertera dalam hukum, tetapi kiranya keharusan budi yang berkata.   'Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Demikian Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.

Sekali lagi apakah Yesus mengancam orang-orang yang dikasihiNya? Kalau Minggu kemarin Yesus sepertinya mengancam orang-orang yang tidak mau bertobat, dengan peristiwa yang dialami oleh beberapa orang Galilea atau Yerusalem yang berada di sekitar menara Siloam, demikian juga hari ini, Yesus meminta kita untuk berani berbagi kasih terhadap sesama, sebagaimana Allah sendiri telah melimpahkan kasihNya kepada setiap orang. Yesus mewajibkan setiap orang untuk berani mengampuni kesalahan sesamanya. Orang yang percaya kepada Bapa di surga hendak menjadi orang yang tahu berterima kasih.

 

 

Collatio :

'Janganlah kami Kautolak selamanya demi nama-Mu, dan janganlah Kaubatalkan perjanjian-Mu; janganlah Kautarik kembali dari pada kami belas kasihan-Mu. Ya Tuhan, jumlah kami telah menjadi lebih kecil dari jumlah sekalian bangsa, dan sekarang kamipun dianggap rendah di seluruh bumi oleh karena segala dosa kami. Kini kami mengikuti Engkau dengan segenap jiwa dan dengan takut kepada-Mu, dan wajah-Mu kami cari. Janganlah kami Kaupermalukan, melainkan perlakukankanlah kami sesuai dengan kemurahan-Mu dan menurut besarnya belas kasihan-Mu'.

Inilah doa yang dikumandangkan oleh Daniel. Doa yang penuh pertobatan dan sungguh-sungguh mengundang belaskasih dan kemurahan hati Tuhan. Doa yang benar-benar merunduk dan taqwa. Doa semacam inilah yang memang tak jarang mengundang hujan rahmat dan kasih pengampunan. Karena memang orang sungguh-sungguh berani merundukkan diri di bawah kaki sang ibu pertiwi.

 Sungguh agung dan mulia, bila kita juga berani membagikannya kepada sesama. Kita tidak berhenti pada sikap yang berani meminta, tetapi juga berani memberi. Horas na mangalean, horas na manjalo (Batak Toba). Kiranya kita berani merekapitulasi keberatan diri kita untuk mengampuni dan memaafkan kesalahan sesama kita.

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau mengajak kami untuk berani mengampuni dan mengampuni sesama kami, bukan dengan memandang besar atau kecilnya kesalahan, melainkan Engkau meminta kami berani mengampuni kesalahan sesama kami.

Yesus, semoga di masa Prapaskah ini hari demi hari kami semakin mempunyai jiwa pengampun, sebagaimana Engkau sendiri yang mengasihi kami. Amin.


 

 

Contemplatio :

'Ampunilah sesamamu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali'.

Hendaknya kita mempunyai jiwa pengampun seperti Tuhan Allah sendiri.

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening