Selasa dalam Pekan Prapaskah IV, 12 Maret 2013


Yeh 47: 1-12  +  Mzm 46  +  Yoh 5: 1-16


 

 


 

Lectio :

 

Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya.


Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Hari itu hari Sabat.


Ketika orang-orang Yahudi berjumpa dengan dia, berkatalah mereka kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu." Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.


Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.

 

 

Meditatio :

 

Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya.

Itulah kepercayaan orang-orang pada waktu itu. Apakah ada kepercayaan semacam itu di jaman modern sekarang ini? Bukan di daerah sana, melainkan di daerah kita? Apakah kita kenal mereka, orang-orang yang begitu getol menaruh perhatian terhadap mukjizat-mukjizat semacam itu?


'Maukah engkau sembuh?', tawaran Yesus disampaikan kepada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Dia hidup penuh dengan ketidakberdayaan. 'Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku'. Keluh orang itu. Sepertinya dia sudah lama berbaring dan berbaring di tempat yang sama, tetapi tidak ada orang yang menolongnya? Apakah dia sebatang kara? Mengapa banyak orang tidak mau menolong dia? Apakah dia mempunyai banyak catatan negatif, sehingga orang-orang mendiamkan dan bahkan menjauhinya? Kesadaran akan adanya kelemahan dalam diri kita, hendaknya semakin membuat kita berani membuka diri. Ketertutupan diri, bahkan egoisme dan keangkuhan diri, akan menjadi benteng kuat yang merintangi orang-orang yang datang hendak membantu kita. Kita membutuhkan uluran tangan sesama dalam menyempurnakan diri, bahkan kita pun dibutuhkan orang lain dalam pendewasaan diri.


'Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah', pinta Yesus; dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Iman kepercayaan memungkinkan setiap orang menikmati kehendak baik Tuhan kepada umatNya. Itulah yang dirasakan oleh yang sudah lumpuh tiga puluh delapan lamanya. Orang itu tidak mengenal Yesus, tetapi dia percaya dan menikmati rahmat dan berkatNya.


'Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu'. Perintah orang-orang Yahudi kepada orang yang baru mendapatkan kesembuhan. 'Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: angkatlah tilammu dan berjalanlah', sahut orang itu. Sepertinya rahmat dan berkat yang baru saja diterimanya tidak mengubah orang ini. Dengan mudah dia melempar persoalan yang diterimanya. Dia yang menyembuhkan dirinya malahan menjadi sasaran ketidakbertanggungan-jawabnya. Mengapa dia tidak langsung membuang tilam yang telah lama dipakainya itu? Mengapa dia tidak buang sial dengan melempar tilamnya itu, minimal ketika dia ditegur oleh orang-orang yang melihatnya? Sepertinya orang itu mau mencari keselamatan diri sendiri.

Ucapannya ini sekaligus menunjukkkan bahwa dia belum mengucapkan terima kasih kepada Orang yang telah menyembuhkan dirinya, karena memang ketika ditanya balik, dia tidak bisa menjawab Siapakah Dia yang telah menyembuhkan dan menyuruh mengangkat tilam. Di lupa bersyukur, sibuk dengan tilam yang dimilikinya.


'Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk', tegas Yesus kepada orang itu, ketika mereka berjumpa di dalam bait Allah. Adanya catatan negatif yang dimiliki orang itu memang sepertinya amatlah tebal. Itulah yang terungkap dari penyataan Yesus tadi. Kasih menutupi segala sesuatu (1Kor 13: 7), dan itulah dinikmati orang lumpuh itu; dan itulah juga yang dilakukan Yesus, yang mengadakan mukjizat kesembuhan, bukan berdasarkan jasa baik seseorang yang menerimanya, melainkan karena kasihNya sendiri. Sakit dan celaka memang bukan akibat dari dosa seseorang, tetapi kesukaan seseorang untuk menenggelamkan diri dalam dosa, memungkinkan seseorang menerima hukuman yang tidak mengenakan (bdk. Luk 13: 3).

Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. Hukum rimba pun berjalan di tengah-tengah orang-orang yang mengakui diri sebagai bangsa terpilih. Hanya berawal dari peristiwa mengangkat tilam di hari Sabat, kemarahan bertimbun dan mengarah pada usaha penganiayaan. Orang Nazaret itu memang sering membuat onar dalam kebersamaan hidup. Itulah pandangan orang-orang Yahudi, yang memang sudah memberi cap negatif kepada Yesus.


Kita memerlukan penataan diri memang untuk tidak terbawa dalam kemarahan diri.


 

 

Collatio :

 

'Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup. Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat'.

Itulah aliran air dari bait Allah yang membawa berkat kehidupan bagi seluruh ciptaan. Keberanian menghayati iman: kasih Tuhan dan sesama, memungkinkan setiap orang menikmati berkat dan rahmatNya. Seseorang bukannya sekedar tahu adanya karunia Allah, melainkan menikmatinya juga.


 

 

Oratio :

 

Yesus Kristus, Engkau selalu memberikan yang terbaik bagi setiap orang. Engkau juga memberikannya kepada kami. Bantulah kami, ya Yesus, untuk menikmatinya, walau tak jarang semuanya itu Engkau sampaikan kepada kami melalui sesama.

Yesus, bantulah kami berani menerima aneka pemberianMu itu melalui kehadiran sesama kami.

 

 

 

Contemplatio :

 

'Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk'.

Yesus mengajak kita untuk selalu berkanjang dalam Dia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening