Senin dalam Pekan Suci, 25 Maret 2013


Yes 42: 1-7  +  Mzm 27   +  Yoh 12: 1-11


 

 

 

Lectio :

Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu."

Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

 

 

Meditatio :

Ketika Yesus makan bersama-sama dengan keluarga Lazarus, Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Mewah kali penghormatan Maria terhadap Yesus. Apakah dapat diartikan bahwa mereka yang lain kurang memperhatikan Dia? Maria memang menampakkan penghormatan kepada sang Guru dengan cara istimewa. Semua orang terbuka untuk mengungkapkan rasa sukacita dan penghormatan, tetapi tidaklah boleh dibalik bahwasannya ketulusan hati seseorang bergantung ada cara pengungkapan yang dapat ditangkap oleh indera manusia; apalagi kalau perbuatan itu hanya dimaksudkan untuk mendapatkan pujian dari sesama manusia (Mat 6: 1-6.17-18).

'Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?', komentar Yudas Iskariot. Komentar yang tampak benar dan indah, tetapi ternyata isinya penuh kepalsuan dan kemunafikan; dan Yesus tahu benar siapakah dia yang berbicara seperti itu. Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Inilah kepalsuan Yudas Iskariot, yang memang seorang cowok matre dalam perjalanan hidupnya. Bahkan dialah juga yang akan menerima uang 'tiga puluh uang perak' (Mat 26: 15-16), sebagai uang ganti hidup sang Gurunya. Yesus sengaja membiarkan Maria bertindak demikian, karena 'dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Nya'. Tindakan Maria adalah simbol keberanian setiap orang untuk menerima kenyataan pahit, bahwa Yesus akan wafat di kayu salib dan dikuburkan.  Menerima kenyataan bahwa Yesus akan mati di kayu salib, dan turun dalam dunia orang mati, amatlah mendasar dalam hidup kristiani daripada melayani orang-orang miskin. Sebab keberanian menerima kenyataan bahwa Yesus turun ke alam maut mendasari sikap dan tindakan pelayanan sosial. Sehebat apapun pelayanan sosial, tetapi tanpa pendasaran rohani yang mendalam, maka kegiatan itu akan sebatas tindakan insani dan tidak memberikan sukacita dan kedamaian hati, baik yang melayani atau pun yang mendapatkan layanan. Karena itu, Yesus pun mengingatkan para muridNya: 'orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu'.

Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus. Layaklah Lazarus bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan atas banyaknya anugerah yang diterima dari Yesus, tetapi tidak dapat disangkal, pemberian sang Khalik berarti suatu undangan untuk berani berbagi dengan orang lain, yang tak jarang malahan mengandung resiko dalam tindak berbagi itu, dan itulah yang akan dialami oleh Lazarus. Lazarus sepertinya juga harus menjadi kurban, dia harus disingkirkan demi keselamatan bangsa-bangsa, sebagaimana dinubuatkan Kayafas (Yoh 11: 49-50), karena memang dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

 

  

Collatio :

'Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya'.

Inilah hidup Yesus yang memang tidak memperdengarkan suaraNya. 'Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi' (Mzm 19: 4-5). Dia tidak pernah mengadakan perlawanan dan memberontak terhadap orang-orang yang hendak menyingkirkan diriNya. Namun begitu, Dia hidup, dan hidupNya menjadi kerinduan banyak orang.  KekuatanNya sungguh-sungguh dashyat dan dapat dirasakan oleh banyak orang. Hati yang peka dan rindu selalu untuk mendengarkan suaraNya (Luk 10: 39) dapat menangkap getaran halus suara dan kemauanNya, bahkan dia mampu 'dia melakukan segala yang baik dan indah mengingat hari penguburanNya'.

Itulah hati seorang Maria. Hati yang dapat menangkap apa yang akan terjadi  enam  hari lagi, yakni hari raya Paskah. Kalau  di awal pelayananNya Yesus 'sudah menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga' (Mat 16: 21), Maria hanya mampu melihat dan merasakan enam hari 'sebelum saatNya tiba' (Yoh 7: 30). Itulah kemampuan Maria, walau Allah sendiri tidak memperhitungkan segala kamampuan umatNya, tetapi Maria telah bersikap seperti Yesus sendiri bersikap.

 

 

Oratio :

Yesus, Engkau tahu benar akan segala yang akan terjadi padaMu, tetapi Engkau tidak melawan dan tidak memberontak, karena memang Engkau hendak menyerahkan nyawa demi keselamatan kami. Bantulah kami agar kami pun mampu merasakan kehadiranMu yang menyelamatkan itu, sebagaimana yang dialami oleh Maria.

Yesus, berilah kami hati yang peka dan penuh belaskasih. Amin.

 


 

 

Contemplatio;

 

'Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku'.

Maria yang terbiasa memilih bagian yang terbaik, dapat menikmati kehadiranNya secara istimewa.

 

 

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening