Jumat dalam Pekan Paskah II, 12 April 2013

  Kis 5: 34-42  +  Mzm 27  +  Yoh 6: 1-16

 
 
 
Lectio :
Suatu hari Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat.
Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.
Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia." Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri. Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu
 
 
Meditatio :
Suatu hari Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat.
Terjadinya mukjizat memang menarik banyak orang. Sebab dengan mukjizat seseorang sepertinya mendapatkan rejeki yang melimpah, tanpa usaha, dan menyenangkan hati. Mukjizat menggembirakan banyak orang, dan selalu diharapkan. Para pengikut Tuhan tentunya semakin hari semakin banyak, bila setiap hari Tuhan membuat seturut kemauan umatNya. Segala yang diminta umat akan dipenuhiNya. Apa memang demikian yang kita kehendaki?
Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: 'di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?.  Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.  Seorang Yesus Tuhan mencobai umatNya. Kalau mukjizat semakin mendekatkan umat kepada Empunya kehidupan, sebaliknya pencobaan dari Tuhan malahan sering menjauhkan mereka daripadaNya. Sebab memang banyak di antara kita bersikap sebagai pemalas. Bukan saja Tuhan mencobai kita umatNya, Dia yang tersembunyi di dekat kita saja, tak jarang kita menggerutu dan menggerutu dan menuduh Allah tidak penuh dengan belaskasih.
Jawab Filipus kepada-Nya: 'roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja'.  Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: 'di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?'. Pertanyaan Yesus memang berat untuk dijawab dengan tepat. Bagaimana semua itu dapat dipenuhi, membeli roti untuk orang sebanyak itu. Secara logis, pemberitahuan Andreas memang tidak ada gunanya. Roti seharga dua ratus dinar saja tidak cukup, apalagi dia sekarang memberitahukan hanya ada lima roti jelai dan dua ikan; dan itu pun disadarinya sendiri apalah artinya itu untuk orang sebanyak ini. Lemot memang bukan melulu urusan sinyal di banyak daerah, tetapi juga kenyataan murid pada waktu.
'Suruhlah orang-orang itu duduk', sahut Yesus, dn para murid berdiam diri tidak berkomentar: apa yang dapat dilakukan dengan roti yang tidak seberapa itu. Apakah diamnya para rasul menunjukkan bahwa memang mereka sudah tahu bahwa Yesus akan mengadakan mukjizat? Yesus meminta para murid untuk mengajak semua orang duduk di situ. Ajakan Yesus menunjukkan bahwa kelemahan para murid tidak menutup kemungkinan mereka untuk berperanserta dalam melakukan segala yang baik yang akan dikerjakan Tuhan Yesus.
Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Mukjizat itu sungguh nyata.
Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: 'kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang'. Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Mengapa Yesus menyuruh para murid mengumpulkan sisa roti? Supaya tidak terbuang, apakah Yesus sungguh-sungguh menyadari keberadaan umatNya yang seringkali tidak tahu berterima kasih? Apakah mereka tidak terbiasa menjaga kebersihan setelah makan? Apakah rasa kenyang yang menjadi harapan mereka? Setelah kenyang, mereka tidak mau tahu dengan diri mereka sendiri? Mengapa Yesus tidak menyuruh mereka untuk membawa sisa-sisa roti, bukankah mereka datang dari jauh?
Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: 'Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia'. Inilah harapan dan bayangan banyak orang terhadap seorang nabi, yang mampu mengadakan segala-galanya baik adanya, sedangkan diri mereka hendak berdiam diri tanpa bertindak apa-apa? Seorang nabi yang baik adalah dia yang selalu membangunkan kita dari tidur, dan mempersilahkan kita makan, serta mempersiapkan segala fasilitas yang nyaman untuk hidup. Jiwa kapitalis dan konsumtif telah menjangkit dalam diri banyak orang semenjak semula.
Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri. Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu. Yesus tidak gila hormat. Dia memang mampu melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan umatNya. Namun sepertinya, Dia tidak ingin menjadikan umatNya sebagai seorang pengemis dan peminta-minta, yang tidak mau bekerja.
Nabi adalah seorang Pejuang, dan itulah yang dikerjakan Yesus. Dia datang ke dunia hendak menebus seluruh umatNya, bukan dengan mukjizat, tetapi dengan pengorbanan diri, yang membuktikan bahwa semuanya itu dilakukan hanya karena dan dalam cinta. Tidak ada cinta yang lebih besar daripada cinta seorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatNya.
 
 
Collatio :
Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus; dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.
Inilah pengalaman para rasul yang memang sulit kita mengerti. Paskah membuat mereka menjadi orang-orang pemberani, bukan seperti ketika harus dituntun yang tidak ubahnya anak kecil, sebagaimana dalam peristiwa penghadiran mukjizat. Mereka menjadi penjuang-pejuang hidup, bahkan mereka merasa bergembira dan bersukacita boleh menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Tantangan dan cobaan yang mereka terima malahan mencambuk mereka untuk melanjutkan pengajaran di bait-bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.
Paskah membuat segalanya baru adanya. Salib tanda penghinaan menjadi tanda kemenangan dan kemuliaan. Hidup manusia diperbaharui, dan bahkan setiap orang yang berani ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus, beroleh kehidupan kekal. Seluruh umat manusia diangkat menjadi putera dan puteri Bapa di surga, karena cinta kasih dan penebusan sang Anak Manusia. Paskah membuat kita hidup lebih hidup.
 
 
Oratio :
Tuhan Yesus Kristus, dengan penuh belas kasih Engkau memberi makan mereka semua. Engkau menaruh belaskasih kepada mereka, karena Engkau tidak menghendaki mereka binasa. Sebagaimana Engkau memberikan berkat dan rejeki kepada semua orang, demikian juga kami semoga siap sedia selalu menjadi berkat bagi semua orang, yang ada di sekitar kami. Amin.
  
 
 Contemplatio:
          'Setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah umat dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias'.
 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening