Jumat dalam Masa Biasa VII, 24 Mei 2013

Sir 6: 5-17   +  Mzm 119  +  Mrk 10: 1-12

 

 

 

 

Lectio :

Suatu hari berangkat Yesus ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?" Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."

Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."

 

 

Meditatio :

Sudah jelek sungguhkah hidup perkawinan di jaman Yesus pada waktu itu? Kurang tahu persis, tak ada informasi lebih lanjut, mengingat tidak ada data yang akurat untuk menjawab pertanyaan kita itu. Namun tak dapat disangkal, pertanyaan mereka hanyalah untuk mencobai Orang Nazaret, seorang Guru yang namaNya memang mulai meroket pada waktu. Mereka mau mencobai Yesus, agar dapat menjerat dengan apa yang dikatakanNya sendiri.

'Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?', tanya orang-orang Farisi yang memang pandai dalam kitab suci. 'Musa memberi izin untuk menceraikan isterinya dengan membuat surat cerai'. Ini berarti perceraian tidak dilarang, karena memang diperkenankan oleh Musa. Setiap guru pengajar kitab mau tidak mau harus mengamini segala yang diajarkan oleh Musa; demikian juga Guru dari Nazaret ini. Namun apakah mereka sebenarnya sudah siap atau sudah  memperkirakan bahwa Yesus akan melawan peraturan yang sudah digariskan Musa? Apa yang akan mereka lakukan, bila Yesus balik mempersoalkan?

'Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia', jawab Yesus secara tegas. Sebuah jawaban yang menentang peraturan yang telah dikeluarkan oleh Musa. Yesus mengembalikan makna dan nilai perkawinan sesuai dengan kehendak dan kemauan Tuhan Allah sendiri, sebagaimana sudah ditetapkanNya semenjak semula. Perkawinan itu menyatukan, dan inilah memang kehendak Allah, tak seorang pun berhak menceraikan isterinya. Seorang ciptaan tak layak dan pantas melawan kehendak sang Pencipta.

'Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu; demikian juga jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah'. Tidak ada perceraian dalam sebuah perkawinan. Orang-orang Farisi ternyata tidak siap dengan persoalan yang mereka hadapkan kepada Yesus. Mereka berdiam diri dan bungkam. Bukan saja seorang laki-laki yang tidak boleh menceraikan isterinya, tetapi juga seorang perempuan juga tidak mempunyai hak untuk menceraikan suaminya. Suami isteri tidak berhak untuk mengadakan perceraian atas perkawinan mereka.

Bila demikian, mengapa sekarang ini negara merasa berhak menceraikan sebuah perkawinan, yang peresmian dan peneguhannya dilakukan oleh lembaga keagamaan? Bukankah negara hanya mencatat sebuah perkawinan sebagai  realitas dari masyarakat? Dan jauh sebelumnya juga mengapa negara turut mengatur persyaratan perkawinan, padahalnya mereka hanya berkewajiban mencatat sebuah realitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Justru karena ketegaran hatimulah, maka negara menginjinkan perceraian untuk kamu. Bisakah pernyataan ini kita sampaikan orang-orang jaman sekarang ini? Negara mengeluarkan aturan seperti itu berdasarkan keluhan pasangan suami-isteri yang tidak mampu menikmati keindahan sebuah perkawinan ataupun mereka yang kurang memaknai sebuah perkawinan sebagai kehendak Tuhan sang Empunya kehidupan. Perkawinan adalah realitas masyarakat, tetapi tak dapat disangkal perkawinan adalah kehendak Tuhan Allah sendiri, sebab hanya dalam perkawinan Allah melangsungkan kehidupan baru, sebagaimana dikehendaki oleh mereka yang telah saling mengikatkan diri. Kalau dalam Kitab Sirakh dinyatakan betapa luhurnya persahabatan dalam pergaulan hidup ini (bab 6), terlebih lagi nilai perkawinan yang sungguh agung dan mulia. Keunggulan perkawinan dari persahabatan adalah adanya cinta kasih yang memberi dan memberi antara seorang laki-laki dan perempuan. Mereka saling memberi dan memberi, dan tak pernah mereka menuntut satu dengan lainnya, malahan sebaliknya mereka saling berani menerima apa adanya atau keberadaan pasangannya. Saya mengasihi kamu, bukan karena kamu, melainkan karena memang saya mengasihi kamu. Inilah kharakteristik sebuah perkawinan, yang terjadi hanya gara-gara cinta kasih.

 

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, karena Engkau banyak menyatukan pasangan laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri. Rahmatilah mereka dengan kasihMu, agar mereka tetap setia sampai akhir hidup.

Dan secara istimewa, berkatilah saudara dan saudari kami, yang baru saja mengikatkan diri dalam sakramen perkawinan. Mereka masih muda, kiranya Roh Kasih dan kebijaksanaanMu menyertai dan mendampingi mereka. Amin.

 

 

 Contemplatio:

'Semua yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening