Rabu dalam Masa Biasa VII 21 Mei 2013


Sir 4: 11-19   +  Mzm 119  +  Mrk 9: 38-40

 

 

 

 

Lectio :

Suatu hari Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."  Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita".

 

 

Meditatio :

'Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita'.

Inilah persoalan yang digelisahkan para murid. Perasaan diri lebih baik dan lebih unggul dari orang-orang lain, ataupun komunitas-komunitas lainnya. Para murid gelisah, karena ada orang lain di luar komunitas, yang mampu mengusir setan demi nama sang Guru, Pujaan mereka, padahal mereka tidak saling mengenal. Dari mana mereka menerima kuasa itu? Ini penghinaan. Ini penghojatan. Inilah yang sering muncul dalam benak para murid, dan juga sering muncul dalam diri kita. Kami adalah komunitas Yesus. Yesus ada pada diri kami. Kami adalah pengikut-pengikutNya yang setia. Bila semuanya ini dipamer-pamerkan, malahan menunjukkan kebohongan, sebuah sikap yang sama sekali tidak menyukakan hati Tuhan (Luk 18: 9-14). Para pengikut gelisah, karena orang-orang yang mampu mengusir setan, tetapi mereka itu tidak mau bergabung dengan komunitas para murid. Mengapa ada orang-orang yang hebat seperti itu, padahal mereka bukanlah satu komunitas dengan kita?

'Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita'.

Teguran Yesus kepada para muridNya. Di luar komunitas kita, ada banyak hal yang baik, dan bahkan ada yang lebih baik dan lebih hebat daripada kita, karena memang Allah berkarya tidak sebatas komunitas kita.  Dunia ini pun tidak mampu menerima kehadiranNya secara penuh, karena keduniaan yang dimilikinya. Maka kiranya, bila seseorang menemukan yang baik dan benar di luar komunitas, hanyalah ucapan syukur dan pujian yang harus kita lambungkan setinggi-tingginya kepadaNya, karena di luar sana, Allah tetap berperan dan menampakkan kemuliaanNya. Di luar Gereja pun, Allah menampakkan keselamatanNya. Mereka yang telah berbuat baik, pasti berasal dari Allah. Sebagaimana setiap orang yang dipanggil dan dikasihi Allah harus berbagi kasih, maka barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

Sejarah telah banyak membuktikan bahwa banyak hal yang indah dan luhur mulia, yang bisa terjadi di luar komunitas kita. Egoisme diri dan mengunggul-unggulkan bahwa komunitas diri yang paling hebat dan mampu mengalahkan dunia, tak ubahnya komunitas-komunitas yang pernah dibiarkan hidup oleh Gamaliel. Mereka dibiarkan hidup dan berkembang, tetapi amat disayangkan mereka tidak mendengarkan sabda dan kehendak Tuhan. Inilah repotnya hidup beriman itu: harus mendengarkan kemauan Tuhan. Inilah repotnya juga hidup bersama: harus mendengarkan orang lain. Namun apakah kita mampu hidup tanpa Tuhan atau pun sesama?

 

 

Collatio :

'Siapa yang mencintai kebijaksanaan mencintai kehidupan, dan barangsiapa pagi-pagi menghadapinya akan penuh sukacita. Siapa yang berpaut padanya mewarisi kemuliaan, dan ia diberkati Tuhan di manapun ia berlangkah. Barangsiapa melayani kebijaksanaan bergilir bakti kepada Yang Kudus, dan siapa mencintainya dicintai oleh Tuhan. Jika orang sampai menyimpang, maka dibuang oleh kebijaksanaan dan diserahkan kepada kebinasaan'.

Kebijaksanaan yang dikutip oleh kita Kebijaksnaan adalah kebijaksanaan yang berasal dari Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. Bukan kebijaksanaan insani belaka, melainkan yang berasal dari Allah. Ciri khasnya adalah segala sikap dan tindakannya diarahkan kepada kehidupan. Kebijaksanaan yang diarahkan kepad untung rugi dalam kebersamaan hidup tidaklah akan bertahan lama. Kebijaksanaa yang berasal dari Allah akan menyatukan semua orang, walau berbeda keyakinan dan kepercayaan, karena memang Allah sendiri yang menyatukan.

Orang bijak akan selalu minta tolong kepada Tuhan, karena sadar bahwa dirinya amat rapuh dan terbatas. Orang bijak akan minta bantuan sesamanya, karena dia hanya mempunyai dua tangan dalam melakukan aneka pekerjaan. Orang bijak akan selalu membantu sesamanya, karena dia mempunyai kedua kaki yang siap melangkahkan kaki menatap masa depan yang lebih ceria.

 

 

Oratio :

Yesus, Engkau membuat segala-galanya baik adanya. Bantulah kami ya Yesus untuk berani memandang dan merasakan segala yang indah dan luhur itu dalam ciptaanMu, terlebih dalam diri saudara dan saudari kami. Amin.

 

 

 Contemplatio:

'Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita'.

 

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening