hari Raya Kelahiran santo Yohanes Pembaptis, 24 Juni 2013

Yes 49: 1-6   +  Kis 13: 22-26  +  Luk 1: 57-66.80

 

 

 

Lectio :

Pada suatu hari genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.

Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

 

 

 

Meditatio :

Pada suatu hari genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.

Pada saat kelahiran Yohanes sebenarnya tidak ada yang istimewa, biasa-biasa saja berjalan sebagaimana adanya. Namun tak dapat disangkal, sanak saudara dan anggota keluarga merasakan sukacita yang  kuat, sebagaimana dikehendaki Tuhan sendiri: 'engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu' (Luk 1: 14). Pemberian dari atas selalu membawa sukacita dan damai. Keluarga bergembira, karena kasih karunia yang diterima oleh Elizabet di usianya yang sudah senja itu (ay 18). Keterbatasan dan kelemahan umat manusia tidak menutupi kehendak Allah yang hendak membuat segalanya baik adanya. 'Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu' (ay 36). Manusia tidak mampu menghalangi kehendak baik sang Empunya kehidupan.

'Jangan, ia harus dinamai Yohanes', kata Elizabet kepada suadara dan saudarinya yang hendak menyunatkan anak itu dan  menamainya Zakharia menurut nama bapanya. Mereka berpendapat seperti itu, karena mereka taat pada pakem pakem yang berlaku, mereka patuh akan budaya patriakhal, yang mana kaum laki-laki duduk di bangku terdepan. Sebaliknya, Elizabet bersikap seperti itu, karena memang itulah nama yang dikehendaki oleh Tuhan Allah sendiri (ay 13), sebagaimana diceritakan Zakharia kepada dirinya. Seorang Zakharia memang harus berkata-kata jujur kepada seorang Elizabet, dan sebaliknya seorang Elizabet selalu mengamini ketulusan dan kejujuran hati seorang Zakharia.

'Namanya adalah Yohanes', tegas Zakharia yang menuliskan nama sang buah hati itu pada batu tulis. Zakharia yang mempunyai hak untuk menuliskan nama dirinya, tidak melakukannya; yang malahan semua itu membuat mereka semuanya, sanak-saudaranya heran, dan lebih-lebih lagi seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Ketaatan kepada Tuhan sang Empunya kehidupan membuat segala-galanya baik adanya. Ketidakpercayaannya pernah membuat dirinya bisu dan tidak dapat berbicara (ay 18-20), tetapi tidaklah sekarang ini, ingatan dan kemauannya melakukan kehendak Tuhan mendatangkan berkat dan rahmat.

Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea; dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: menjadi apakah anak ini nanti, sebab tangan Tuhan menyertai dia. Inilah pertanyaan kritis terhadap aneka hal yang indah dan mulia. Mereka semua yakin bahwa tangan Tuhan ikut terlibat dalam peristiwa yang terjadi di luar kemampuan akal budi ini. Semuanya itu bisa terjadi hanya karena Allah ada di dalamnya.

Peristiwa kelahiran Yohanes kembali mengingatkan banyak orang, bahwasannya segala yang baik dan indah hendaknya kita mohon dari Allah. Kita hendaknya tidak berhenti pada ketidakmampuan diri untuk melakukan sesuatu yang baik, melainkan hendaknya percaya apa yang dikehendaki Tuhan itu baik adanya. Yohanes lahir sesuai dengan kehendak dan kemauan Tuhan sang Emunya kehidupan. Sebaliknya ketidakmampuan diri malahan mengajak kita untuk berani meletakkan segala kemampuan dan keinginan kita hanya pada Tuhan. Kelahiran Yohanes juga merupakan jawaban Tuhan atas permohonan keluarga Zakharia dan Elizabet, yang merindukan kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka. 'Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes' (ay 13).

Bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, memang tidak dapat disangkal oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan: Allah pasti menjadikan segalanya baik adanya. Maka kiranya keduaorangtua, kepada sang buah hati yang baru dilahirkan dan semenjak itu, harus berani terus membisikan kata-kata Yesaya ini: 'TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku' (Yes 49). Keberanian kedua orangtua berkata-kata seperti itu akan membuat anak menjadi seorang pemberani dalam menatap masa depan, sebab dia yakin bahwa Allah menyertai dan mendampingi mereka.

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, Engkau membuat segala-galanya baik adanya. Kami mohon semoga Engkau semakin melimpahkan rahmat dan berkatMu bagi saudara dan saudari kami, pasangan suami isteri, yang sudah lama merindukan kehadiran sang buah hati. Semoga kehadiranMu menjadi sukacita bagi keluarga; dan Engkau akan memberikan yang terbaik tepat pada waktunya.

Santo Yohanes Pembaptis, doakanlah kami. Amin.

 

 

 Contemplatio:

'Tangan Tuhan menyertai dia'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening