Jumat dalam Pekan Biasa XII, 28 Juni 2013

Kej 17: 9-22   +  Mzm 128  +  Mat 8: 1-4

 

 

 

Lectio :

Pada suatu hari setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka."

 

 

Meditatio :

'Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku'.

Inilah permintaan seorang kusta kepada Yesus. Dia meminta dan meminta, tetapi semuanya itu dikembalikan kepada belaskasih dan perhatian Tuhan Yesus. Dia meminta uluran tangan sang Empunya kehidupan, karena memang Yesus Tuhan mampu melakukan segala sesuatu. Orang itu yakin sunggguh, bahwa Yesus mampu memenuhi keinginan hatinya. Tidaklah demikian dengan sang ayah, yang anaknya sempat kerasukan roh yang membisukan; dia pernah memohon: 'jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami'. Dia meragukan kemampuan sang Empunya kehidupan. Ketidakpercayaan sepertinya dilihat sebagai perlawanan terhadap Tuhan, sang Pencipta, karena Yesus pun langsung menegur orang itu, kataNya: 'katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!' (Mrk 9: 23-24). Sebaliknya kepercayaan mendatangkan rahmat dan berkat; dan itulah yang dinikmati orang kusta itu, dia berserah diri, tetapi mendapatkan kelimpahan berkatNya. 'Aku mau, jadilah engkau tahir'.  Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.

 

'Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka'.

Mengapa Yesus melarang dia memberitahukan segala yang telah dialaminya? Bukankah dia juga mau bersyukur bersama teman-temannya? Bukankah setiap orang juga diajak berani bersyukur, bila melihat dan memandang karya Tuhan yang terjadi pada diri sesamanya? Kepada para imam pun, dia hanya diminta membuktikan bahwa dirinya telah sehat kembali, sedangkan peristiwa yang dialaminya harus tetap dirahasiakan; kenapa Yesus? Malahan Yesus meminta orang, yang tadinya sakit kusta itu, mempersembahkan kurban syukur melalui para imam. Yesus tidak mau melanggar tatacara hidup bersama. Yesus tidak mau merebut wewenang yang memang bukan hakNya.

 

 

Collatio :

          Menarik juga dalam kitab Kejadian 17, yang menceritakan Abram tertawa, ketika mendengar bahwa dia akan mempunyai anak di usianya yang sudah lanjut. Mengapa Tuhan tidak memperhitungkan sama sekali tertawa Abram? Apakah tertawanya Abram bukan suatu penolakan akan rencana dan kemauan Allah? Apakah Abram tidak meragukan rencana dan kemauan Allah? Apakah abram menertawakan dirinya dan juga isterinya? 'Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?'.

'Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!', tawar Abram kepada Allah. Abram sepertinya tidak meragukan Allah. Dia hanya melihat keberadaan dirinya; bagaimana semuanya itu mungkin terjadi? Ketidakmengertian itulah yang membuat dia menawakan, supaya Ismael saja yang dilimpahi berkat olehNya, karena memang Ismaellah yang ada sekarang ini, dan dia ada di tengah-tengah keluarga. 'Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya', jawab Tuhan yang teguh pada kehendakNya. Allah tidak mua berhenti pada kelemahan dan keterbatasan umatNya. Rencana Tuhan bukanlah rencana manusia, maka sebaliknya manusialah yang harus berani mengamini kehendak Tuhan yang mengatasi segala.

  

 

Oratio :

Ya Tuhan Yesus, teguhkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu. Semoga hari demi hari kami semakin percaya akan kehendakMu yang pasti akan terlaksana dalam diri setiap orang.

Yesus, teguhkalah iman saudara dan saudari kami yang mulai meragukan iman kepercayaan, hanya karena ingin mendapatkan kepopuleran diri dan jaminan social ekonomi di masa tuanya mendatang.

Santo Ireneus, doakanlah kami. Amin.


 

 Contemplatio:

'Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening